Rabu, 03 Juli 2013

When He Smile : Bab 2

 

 When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D

Maaf karena menunggu lama untuk Part 2nya ^^". Silakan baca part 1 cerita ini di link ini :)


~Mardalsfossen, 5 tahun kemudian

Mardalsfossen, benteng pertahanan manusia Humavalea yang kedua setelah Balkhas. Disini juga banyak VH. Hanya bedanya, jika di Balkhas profesi ini dipandang sebelah mata, walaupun Balkhas disebut-sebut sebagai VampHunt City, di Mardalsfossen, VH adalah profesi yang paling diidam-idamkan, karena masyarakat berpendapat profesi VH adalah profesi yang sangat mulia.

Mengapa mereka berpendapat seperti itu? Sederhana saja, para VH adalah penolong manusia. Mereka membasmi semua Vampir yang mengganggu manusia. Hal itu wajar saja. Jumlah VH di Mardalsfossen tidak begitu banyak dibandingkan dengan Balkhas yang merupakan VH City. Jadi, para Vampir lebih bebas berkeliaran di Mardalsfossen daripada di Balkhas.

Di Mardalsfossen juga, aku menggantungkan hidupku. Sudah lima tahun sejak aku bertemu dengan LaMu dan meninggalkan Balkhas. Disini aku sudah menjadi VH dan tak terhitung berapa jumlah Vampir yang sudah kubunuh, membuat pamorku menjadi naik di mata para VH. Dan tentu saja aku masih tetap seorang “pembunuh”.

Hari ini, aku sedang jalan-jalan di pusat kota Mardalsfossen untuk membeli bahan makanan. Walaupun aku ini pembunuh, pembunuh juga butuh makan, supaya dia bisa tetap hidup. Tidak mungkin aku mengharapkan seseorang akan membunuhku karena dosaku. Dan juga tidak mungkin aku menunggu orang itu sekian lama tanpa ada secuilpun roti yang masuk kedalam perutku.

Di Mardalsfossen, aku merasa sedikit nyaman. Suasana disini memang sangat menyenangkan. Tidak seperti di Balkhas, yang ada cuma kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, persaingan, dan segala macam hal yang akan membuat manusia merasa putus asa, jika dia tidak mampu melampaui semuanya.

Tahun ini usiaku 18 tahun. Walaupun tubuhku seperti laki-laki, tinggi dan tegap, tapi wajahku semakin cantik saja seperti perempuan. Dan, rambutku yang bewarna pirang juga kupanjangkan. Sehingga, jika orang melihatku hanya dari penampilan saja, maka mereka akan mengira kalau aku ini seorang wanita. Atau bahkan vampir.

Kenapa? Karena bangsa Vampir memiliki penampilan yang sangat memukau. Wajah mereka yang cantik, ditambah dengan rambut pirang dan mata berwarna ungu seperti batu amethyst. Penampilanku persis seperti mereka, hanya saja warna mataku biru, dan aku tidak punya gigi taring untuk menghisap darah seperti mereka.Aku tahu apa yang mereka pikirkan terhadapku. Walaupun diluar mereka tidak bilang apa-apa, tapi dalam hati mereka menganggapku aneh.

Ah, aku lupa bilang. Aku punya kekuatan untuk membaca pikiran orang. Mirip dengan telepati, tapi sebenarnya tidak. Telepati memungkinkan kita untuk membaca dan berkomunikasi melalui pikiran dengan orang lain. Tapi membaca pikiran orang lain hanya membaca pikirannya saja, tapi tidak berkomunikasi dengannya, seperti halnya telepati.

Aku mendapat kekuatan ini dari LaMu. Kuakui, hal ini cukup membantuku, karena aku bisa menebak apa yang lawan pikirkan, dan mengambil satu langkah kedepan untuk mengalahkan lawan. Tapi, disatu sisi, kekuatan ini membuatku tertekan. Coba kau pikirkan ketika kau sedang membaca pikiran temanmu, lalu temanmu itu ternyata membencimu, apa hal itu tidak membuatmu sakit?

Begitu juga denganku. Selama 5 tahun ini, banyak hal yang kualami. Dan itu semuanya, tidak begitu baik. Beberapa kali aku dikhianati temanku sendiri. Banyak sekali alasan mereka untuk mengkhianatiku. Kebanyakan mereka iri pada kekuatanku dan juga takut padaku.

Aku tak butuh partner! Aku bosan dikhianati terus. Karenanya, mulai saat itu dan sampai sekarang, aku selalu curiga pada semua orang. Sulit bagiku untuk mempercayai seseorang. Dan hal itu, membuat aku tidak punya teman satupun. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku memang sendirian.

Aku terus berjalan, menuju ke halte bus. Sebuah bus berhenti di depanku, dan aku segera naik. Di bus, lagi-lagi aku mendengar banyak komentar dari penumpang tentang penampilanku. Misalnya saja, “Rambutnya panjang sekali, tapi dadanya rata, dia itu cewek atau cowok sih?” atau ”Ih, penampilannya seram!” Cih, aku sudah biasa dengan semua itu.

Setelah sampai ditempat tujuan aku segera turun. Rumahku berada di pinggiran kota Mardalsfossen. Rumahku sangat sederhana dan cukup kecil, tapi asalkan itu bisa melindungiku dari hujan dan angin, itu tidak masalah. Aku berjalan menuju rumahku, dan aku melihat sesuatu.

Ada seseorang terbaring didepan rumahku. Aku kaget melihatnya. Segera saja aku berlari menuju orang itu. Lalu mendekatinya, sambil memeriksa apakah dia Vampir atau manusia.

“Akuu lapaar...”

“Haah?”

“Kau punya makanaann...?”

“Kamu siapa?”

Dia menarik bajuku lalu berkata, “Heii...akuu sangatt lapaar sekalii...Beri aku makaann..”

“I..I..Iya..”, jawabku sambil membetulkan kaosku yang tadi ditarik olehnya. Sepertinya dia manusia, dan bukan Vampir. Aku menggotongnya masuk ke rumah. Mendudukkannya di kursi, lalu membuka kulkas. Masih ada sisa makanan tadi malam.Aku akan menghangatkannya.

“Tunggulah sebentar!”

“Toloongg yangg cepaat yaa....”

Gawat, sepertinya dia benar-benar kelaparan. Aku tidak mau ada orang yang mati kelaparan dirumahku.

“Ini, makanlah!” perintahku sambil menyodorkan sepiring penuh makanan.

Dia langsung menyambarnya dan memakannya dengan kecepatan penuh. Aku sampai heran dibuatnya. Sambil menunggu dia makan, aku melihat fisiknya secara keseluruhan. Dia seorang laki-laki. Kalau dilihat-lihat, mungkin umurnya sama denganku. Memakai kacamata yang lensanya cuma satu, entah apa maksudnya. Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan. Dan, baunya sangat menyengat. Sampai-sampai, aku harus menutup hidungku. Berapa hari dia tidak mandi?

Sekarang, aku mencoba untuk membaca pikirannya. Kupejamkan mata, dan mencoba menjelajahi pikiran orang yang didepanku. Setidaknya aku tahu namanya sebelum dia memberitahukannya. Lagi-lagi aku terkejut. Orang ini, pikirannya tidak bisa kubaca. Aku pikir mungkin karena dia sedang makan, jadi aku tidak bisa membacanya pikirannya. Ternyata tidak. Aku memang tidak bisa membaca pikirannya. Seolah-olah ada dinding yang menghalangiku untuk membaca pikiranku. Bahkan LaMu yang ada dalam tubuhku pun terheran-heran. Kalau aku tidak bisa membaca pikiran orang ini, berarti dia lebih kuat dari aku. Siapa dia sebenarnya?

“Fiuhh!Aku kenyangg! ‘Makasih, ya! Kamu baik sekali mau memberiku makan!”

Aku terus menatapnya dengan pandangan curiga.

“Oh, ya! Aku belum memperkenalkan diriku. Mulai dari mana ya enaknya? Ahh, mulai dari namaku saja, ah!”

Aku cuma berpikir, orang ini bodoh apa gila?

“Wahh, maaf dari tadi ngomongnya ngelantur. Baiklah, namaku Randalph, Randalph Svenson. Umurku 18 tahun, masih single lho! Aku suka sekali makanan yang manis-manis. Hobiku adalah tidur siang!!”

“Profesi?”

“Maaf?”

“Profesimu apa, dan apa yang kau lakukan didepan rumahku tadi?” tanyaku dengan sinis.

“Waah, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Aku ini orang baik-baik kok! Yah, karena kamu tanya profesiku, aku akan beritahu jawabannya. Profesiku sama sepertimu”.

“Apa? Kau juga VH?”

“Yup!”

“Darimana kau tahu profesiku?”

“Tahu dong! Kalau boleh kutebak, namamu Claude C. Evinrude. Panggilanmu Clay, kan! Umurmu 18 tahun. Sudah jadi VH selama 3 tahun. Kamu sudah memburu banyak Vampir. Dan itu membuat namamu sangat terkenal di kalangan para VH di Mardalsfossen ini. Bahkan sampai ke kota asalku, Corvus. Katanya di Mardalsfossen ada seorang VH laki-laki yang penampilannya seperti Vampir. Tapi kalau dilihat-lihat memang mirip. Penampilanmu seperti bangsawan zaman dulu” jawabnya dengan santai.

“Kau...”

“Dan, boleh kutebak lagi. Kau tadi mencoba membaca pikiranku ya?”


Aku terkejut. Pertanyaannya tepat sasaran. Dari-mana dia tahu kalau aku membaca pikirannya. Selama ini tidak pernah ada orang yang tahu kalau aku membaca pikirannya, bahkan menyadarinya pun tidak. Tapi, orang ini, orang yang bernama Randalph ini, tahu akan hal itu.

“Ke..kenapa..kamu tahu?”


“Kalau tidak mengelak, berarti benar, bukankah ada peribahasa bahwa rumput di sebelah rumah lebih hijau dari rumah sendiri. Itu artinya masih ada yang lebih kuat dari kamu ‘kan. Eh, sebenarnya apa hubungannya peribahasa itu sama hal ini yah, aih jadi malu. Nilai bahasaku jelek sih!He..he..he..”jawabnya sambil tertawa-tawa.

Terus terang aku sama sekali tidak suka. Aku bertanya dengan serius, dia malah tertawa-tawa. Dia pikir aku ini siapa?


“Kamu meremehkan aku ya? Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku, malah menjawab berbelit-belit, bahkan tidak ada hubungannya!” tanyaku sambil menahan emosi.


Dia cuma terdiam. Lalu tersenyum lagi.

“Clayy…aku sudah bilang ‘kan, di dunia ini masih banyak yang lebih kuat daripada kamu. Membunuh banyak Vampir bukan jaminan kuat tidaknya seseorang, walaupun kamu menjalin persekutuan dengan Vampir legendaris, yang namanya…aduh, kok lupa yah! Ngg…tunggu sebentar…namanya kalau tidak salah… LaMu ‘kan?! “

Lagi-lagi aku terkejut, darimana dia tahu semua itu? Perkataan orang ini menandakan seolah-olah dia bisa menembus pikiranku, sama seperti yang sering kulakukan pada musuh-musuhku.

“Boleh kulanjutkan lagi? Ngg kamu melakukan itu semua karena ingin tahu penyebab tewasnya orangtuamu. Yah, sebenarnya dendam itu tidak baik, tapi adakalanya itu bisa membuat kita bertahan hidup. Lagipula kehidupanmu selama di Balkhas dan juga Mardalsfossen sudah sangat keras. Ah, maaf ini pertemuan kita yang pertama, dan aku sudah ngomong yang macam-macam…”

Brakkk!!

Aku menggebrak meja dengan tanganku. Aku marah sekali. Belum pernah ada orang yang tahu masa laluku dengan sedetil itu.

“Kamu!! Aku bertanya kenapa kamu tahu? Daritadi kamu memberitahukan tentang masa laluku. Belum ada yang tahu sampai sedetil itu, kecuali LaMu saja. Darimana kamu tahu?!!”

Dia hanya diam sambil menatapku.

“Kenapa diam saja?? Jawaab!!” teriakku marah. Aku belum pernah sampai semarah ini. Tapi, kemudian dia tersenyum melihatku.Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya.

“Maaf, kalau aku berbicara sampai sedetil itu. Kamu mau tahu Clay, kenapa aku bisa tahu bahkan masa lalumu yang berusaha kamu sembunyikan ?”

“Apa?”

“Sederhana saja, sama sepertimu yang bisa membaca pikiran orang lain, aku juga bisa melakukannya, tapi lebih spesifik lagi, seperti apa yang telah dia lakukan di masa lalu atau apa yang terjadi dengannya di masa depan…”.

“Kamu…mustahil, kemampuan itu sangat langka sekali ‘kan. Jangan-jangan kamu bisa membaca nasib orang..?”

“Tingtong!! Anda benar!! Tapi, sayang nilainya cuma 75. Aku memang bisa membaca nasib orang , caranya adalah dengan menyentuh orang itu. Kalau masa lalu aku memang sering melihatnya. Tapi kalau melihat masa depan, itu tergantung aku ingin melihatnya atau tidak.

Ah,ya, mungkin juga kamu bertanya-tanya kapan aku melihat masa lalumu. Sebenarnya, aku melihatnya waktu kamu menggotongku masuk ke dalam rumah. Walaupun hanya sebentar, itu sudah cukup bagiku untuk melihat apa yang terjadi pada masa lalumu. Sekali lagi, aku minta maaf, hal itu memang sering terjadi padahal aku tidak menginginkannya.

Lalu…, masalah mengapa kamu tidak bisa membaca pikiranku, itu juga sederhana saja sebenarnya, aku sengaja menutup pikiranku, supaya kamu tidak bisa membacanya. Itu saja, sudah cukup ‘kan?!”

“Kenapa?”

“Ya?”

“ Ini tidak adil sama sekali?! Kamu tahu semua masa laluku, tapi, aku tidak bisa membaca pikiranmu!! Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari semua ini. Sampai-sampai kamu berada di depan rumahku dengan perut yang sama sekali tidak terisi”.

“Ha..ha..ha..jadi malu karena sudah merepotkan. Menurutmu ini tidak adil yah, tapi sudah kubilang dari awal kan?! Aku tidak berniat ingin membaca masa lalumu, itu semua tiba-tiba terlintas di pikiranku begitu saja. Lagipula aku juga tidak mau orang tahu masa laluku, soalnya masa laluku lebih menyedihkan daripada masa lalumu”.

Dia menjawab pertanyaanku dengan ekspresi sendu. Aku tahu, dia sebenarnya tidak ingin tahu masa laluku, tapi mau tidak mau hal itu akan terlihat juga olehnya.

“Aku mengatakan itu semua dengan harapan kamu mau bekerja sama denganku”.

“Kerja sama?”

“Yup, kalau kita bekerja sama, pekerjaanmu jadi akan lebih mudah, bukan?”

“Maaf, aku tidak butuh partner, aku bisa melakukannya sendirian tanpamu!”

“Hei, ayolah!! Ini sebagai tanda terimakasihku karena sudah diberi makan. Lagipula aku juga minta maaf karena sudah mengungkit-ungkit masa lalumu. Bagaimana, aku ini cukup kuat loh!! Aku nggak akan merepotkan kamu kok, lagian aku juga butuh uang!”

Aku diam, sambil mencoba untuk mempertimbangkan ajakannya. Dia bisa membaca masa laluku dengan mudahnya, lagipula dia sanggup membentengi pikirannya dariku, pasti dia bukan orang biasa.

“Baiklah, ngg siapa tadi namamu?”

“Randalph!”

“Yah, Randalph, akan kucoba untuk berpartner denganmu”,jawabku. Hmm, siapa tahu aku bisa menjajal kemampuannya suatu hari. Aku ingin tahu, sekuat apa dia.

“Waa..syukurlah! Akhirnya kamu mau juga! Mm, tapi harap kamu ingat satu hal. Aku ini orangnya bebas. Nggak suka terikat sama orang lain. Jadi, kamu bisa menerima kan, kalau suatu saat aku akan pergi?”

Tidak masalah, aku sudah sering sendirian. Kamu mau pergi kapan saja terserah. Tapi, tentu saja setelah aku tahu sekuat apa dirimu, Randalph.

“Baiklah, aku terima!”

“Sipp!! Kapan kita mulai kerja ? Aku sudah siap nih!!. Oh, ya bolehkah aku pinjam kamar mandi. Ah, tenang saja, aku bawa baju kok, tidak usah dipinjami. Lagipula, pasti tidak cukup. Eh, kamu pasti terganggu dengan bau badanku ya?! Maaf, habis aku tidak mandi selama dua bulan sih, jadi malu, he..he..he.. Sudah dulu ya, aku mau mandi dulu!”

Aku hanya bisa terpaku melihat cara bicaranya. Gila! Darimana dia punya kemampuan untuk bicara layaknya senapan mesin . Aku sendiri, tidak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Ngomongnya banyak sekali.

Belum mandi dua bulan? Ufhh, kalau aku mana tahan tidak mandi selama itu, minimal,aku bisa tahan tidak mandi selama seminggu atau 5 hari. Tapi dia, dua bulan. Pantas baunya benar2 menyengat.

Benar-benar cowok yang ajaib dan aneh. Aku tak sadar bahwa pertemuanku dengan Randalph, akan mengubah segalanya...

****

Dan, apa yang akan terjadi pada Clay selanjutnya setelah kedapatan Randalph? Tunggu kelanjutan ceritanya di Part 3. Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.

Kamis, 30 Mei 2013

When He Smile : Bab 1

   When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D



 Pagi itu terasa dingin. Pelan-pelan kubuka mataku. Kubuka jendela kamar, dan kuhirup udara pagi. Segar sekali. Sudah 6 bulan sejak Randalph meninggalkan Mardalsfossen dan pergi ke Alcarta. Ah, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Claude Claire Evinrude. Nama tengahku sangat aneh bukan. Aku diberi nama seperti anak perempuan, padahal aku laki-laki. Yang jelas nama ini adalah pemberian orangtuaku. Walau begitu aku suka nama ini. Aku biasa dipanggil Clay. Usiaku 22 tahun. Aku adalah pemimpin dari organisasi Vampire Hunter di Mardalsfossen, yang bernama LETFRANT.

    Ketika aku melihat keluar, ada seorang anak kecil yang berjalan-jalan dengan orangtuanya. Mereka tampak bahagia sekali. Keluarga… Sudah 12 tahun aku tidak menjumpai kata itu dalam hidupku. Melihat mereka, tiba-tiba, aku jadi teringat semua kejadian di masa laluku. Dua belas tahun yang lalu, ketika aku masih belum mengenal kerasnya dunia…

~ Peanville , 12 tahun yang lalu~   

  Entah kenapa, hari ini Mama dan Papa bersikap aneh sekali. Tidak seperti biasanya, begitulah pikirku. Mama yang biasanya ceria, sekarang menjadi diam. Papa yang biasanya selalu mengajakku bercanda juga diam saja. Ada apa dengan kalian berdua? Kalian marah padaku? Apa aku ini anak nakal?Pertanyaanku terjawab malamnya. Pukul sepuluh malam, seharusnya, anak umur 10 tahun seperti aku ini sudah tidur. Tapi papa menyuruhku untuk tidak tidur dulu. Papa mau ngomong apa ya? Waktu itu Papa cuma terdiam. Diam saja, tidak berbicara sepatah kata pun. Mama juga, hanya menundukkan wajahnya dan menangis.

“Clay...”

“I..iya, Pa?”

“Papa mau bicara”.

“Bicara apa Pa?”

 Aku bingung. Sekilas Papa seperti kehilangan kata-kata untuk bicara. Mama juga, semakin keras tangisannya. Papa menghela nafas sejenak, lalu berbicara,

 “Clay... mulai saat ini... kamu... harus... hidup sendiri...”

 Hidup sendiri? Kenapa, Papa ngomong begitu? Tapi, Papa rupanya serius, dan Mama lalu memelukku, sambil terisak-isak. Aku tidak sadar bahwa malam ini adalah malam terakhir aku bisa bersama-sama keluargaku.Sementara itu, angin di luar jendela semakin keras dan bunyinya menderu-deru. Roman muka Papa menegang, Mama berhenti menangis, tapi dia memelukku erat sekali. Aku hanya terdiam.

 Sedetik kemudian, jendela di semua rumahku pecah. Aku merasa angin yang keras dan dinginnya malam yang menusuk menerpa wajahku. Lalu, sosok-sosok yang tak kukenal masuk.Mereka, mungkin, adalah makhluk paling mengerikan yang pernah aku kenal. Wajahnya sama dengan manusia-manusia yang ada di Humavalea. Tapi wajah mereka pucat, gigi taring yang mencuat saat mereka menyeringai, sayap yang seperti kelelawar, dan jubah hitam. Sosok yang telah bertahun-tahun menjadi musuh manusia Humavalea.

 Bangsa vampir atau Varuala –nama yang mereka pakai untuk bangsa mereka-  dari kerajaan Varua.

 “Kami ingin mengambil anak itu,” kata salah seorang dari mereka dengan suara yang parau sambil menunjukku.

 Papa tiba-tiba maju ke depan. Sambil merentangkan kedua tangannya, dia hendak melindungi kami.

 “Tidak! Sampai kapanpun, anak itu tidak akan kami serahkan kepada kalian semua!!!”

 “Dalam tubuh anak itu ada makhluk yang dapat memusnahkan bangsa kami. Kami harus membunuhnya, supaya kami selamat!!”

 “Tidak!!! Itu urusan kalian sebagai bangsa Varuala. Tidak ada hubungannya dengan kami, manusia Humavalea!”

“Ternyata memang kami harus pakai jalan kekerasan!”

 Vampir-vampir itu menyerang ayahku. Kepalaku sakit sekali. Mama berusaha melindungiku, sementara Papa melawan para vampir itu. Pertarungan tak berjalan seimbang. Papa mulai menunjukkan tanda-tanda akan kalah. Sedetik kemudian, Papa menoleh ke arahku.

“Clay, maafkan Papa ya. Mulai sekarang, kamu harus bisa hidup sendiri...”

 Setelah papa berkata begitu, salah satu vampir melayangkan serangannya. Papa langsung roboh seketika. Darahnya muncrat kemana-mana, mengenai wajahku. Aku merasakan hangatnya darah diwajahku, dan juga merasa mual. Mama berteriak menyebut nama Papa. Tapi Papa, tidak akan pernah bangun lagi. Untuk selamanya…Saat itu juga para vampir melihat ke arahku, mereka hendak membunuhku! Tapi, Mama melindungiku, dan lagi-lagi aku harus melihat orang yang paling kusayangi di dunia, Mamaku, meninggal didepanku. Dan sama seperti Papa, darah Mama muncrat ke wajahku.

 Aku tidak tahu harus bagaimana, dunia rasanya berputar begitu cepat. Kupanggil nama Papa dan Mama sambil menangis. Tapi aku tahu itu semua tak ada gunanya. Mereka telah merampas semuanya dariku.Saat ini tidak ada yang membentengiku. Aku sendirian, diantara vampir-vampir ganas, yang setiap saat siap membunuhku. Melihat pandangan mereka dan juga darah yang menggenang di lantai, aku jadi mual. Ini saat terburuk didalam hidupku. Aku akan mati,pikirku.Vampir-vampir itu rupanya masih belum puas. Mereka lalu menyerangku, tapi untungnya, serangan mereka hanya sedikit mengenaiku. Tapi aku terluka.

 Sakit! Darahku keluar!Rasanya isi perutku keluar semua!Rupanya mereka semakin tidak puas. Salah satu dari mereka menyerangku. Dan tepat sasaran! Habis sudah! Aku sudah pasti akan mati. Sebentar lagi aku akan menyusul Papa dan Mama. Perlahan-lahan, aku mulai hilang kesadaran.Tapi, justru pada saat itulah, aku merasa ada yang menolongku. Setengah tak sadar, aku mendengar vampir-vampir itu berteriak kesakitan.

 Masa sih sudah pagi? Ah, nggak mungkin! Ini masih malam, tapi apa yang menyebabkan mereka berteriak kesakitan seperti itu? Semuanya mendadak jadi gelap.

 Saat aku tersadar aku sudah ada di rumah sakit. Aku bertanya pada perawat apa yang sedang terjadi.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku disini?”tanyaku“

Tenang saja, ya, Nak! Kamu aman disini” jawab perawat itu.

“Tapi, aku ingin tahu, siapa yang membawaku kesini? Lalu.. mana kedua orangtuaku...?”

“Tetanggamu yang membawamu kesini. Kamu satu-satunya yang selamat. Orangtuamu sudah meninggal. Mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi...”

 Aku tahu itu. Tidak perlu dijelaskan lagi. Perawat itu meletakkan bunga di kamarku. Saudara-saudaraku mengunjungiku silih berganti. Ada juga yang menawarkan untuk mengangkatku sebagai anak.Tidak! Buat apa? Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tidak mau. Biarkan aku sendiri. Aku tidak mau melihat orang mati lagi. Melihat darah saja aku sudah mual.Setelah mereka semua pergi, aku menangis sejadi-jadinya. Dalam hatiku aku berjanji, ini, adalah tangisanku yang terakhir. Mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak akan menangis lagi. Aku akan mematuhi perintah Papa. Hidup sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

 Sepulangnya dari rumah sakit, aku pergi ke makam Papa dan Mama. Harold Evinrude, itu adalah nama Papaku. Dan Marie Evinrude, itu nama Mamaku. Papa dan mama, aku, tidak akan melupakan kalian berdua. Mulai sekarang aku akan memulai kehidupanku sendiri. Aku tidak akan melupakan jasa kalian yang sudah melindungiku sampai saat-saat terakhir.Aku mengambil koporku dan mulai berjalan. Aku tahu, mungkin sulit untuk anak umur 10 tahun mengambil jalan ini. Tapi aku yakin aku bisa. Dan aku pun berjalan, meninggalkan Peanville. Selamat tinggal rumahku, selamat tinggal kenangan, dan juga selamat tinggal Papa dan Mama.



******~ Balkhas, 3 tahun kemudian~

 Balkhas, ibukota Humavalea, satu-satunya tempat harapan manusia dan juga benteng yang dibuat untuk mengatasi serangan Varua. Balkhas, dikenal juga sebagai VH City, kota para pemburu vampir. Hal itu dikarenakan ada banyak sekali organisasi pemburu vampir yang berpusat di Balkhas. Disini pula, aku terdampar, diantara para calon VH akulah yang paling muda. Dan juga yang paling cantik. Aku sadar, walaupun aku laki-laki, wajahku seperti perempuan.  Banyak sekali laki-laki yang menggodaku, bahkan ada yang minta kencan segala!

 Yang benar saja!Memangnya mereka anggap aku ini apa? Aku ini normal. Bukan gay.Tentu saja pasti ada yang bertanya kenapa aku yang masih sangat muda ini (umurku 13 tahun) memutuskan untuk jadi VH. Jawabannya sangat sederhana sekali. Membalaskan kematian kedua orangtuaku. Alasan yang klise. Tapi itu juga yang mampu menopangku sampai saat ini. Bertahan di kehidupan kota Balkhas yang sangat keras dan mengikuti ujian VH yang ketat.

 Suatu hari…

 “Hey, Clay! Kalau aku perhatikan kamu tidak punya senjata. Kamu cuma mengandalkan tangan kosong dalam pertarungan! Tapi, kok bisa ya kamu lolos sampai disini?” tanya salah seorang calon VH.

 Aku cuma tertawa dalam hati. Dia tidak tahu, bahwa selama tiga tahun ini aku sudah mengasah kemampuanku. Hidup sebagai anak jalanan di Balkhas, telah mengajarkan aku bagaimana caranya bertahan hidup di kota keras. Cuma orang bodoh yang akan putus asa menghadapi itu semua. Tapi aku tidak. Demi kedua orangtuaku.

  “Dasar bodoh!! Itu semua bukan urusanmu!!” jawabku dengan ketus.   

  Aku bisa melihat kalau dia marah kepadaku. Sampai-sampai wajahnya merah. Lalu, dia menarik kerah bajuku, dan berkata,

 “Apa maumu anak sialan?! Kau mau menantangku ya!! Sudah namamu aneh pula. Apa itu Claire? Seperti anak perempuan. Yah, kalau lihat penampilanmu, memang pantas sih!” teriaknya sambil mengacung-acungkan tangannya.

 Aku cuek. Biar saja dia mau berbuat apa, aku sudah tidak peduli lagi. Dia semakin kesal padaku dan berniat memukulku. Untung saja Oracle Ujian VH datang dan melerai kami.

 “Awas kau!! Akan kubalas nanti!!” ancamnya. 

 Aku tidak takut!

 Malamnya, aku pulang ke rumah. Sebenarnya tidak dapat disebut rumah. Hanya lorong sempit. Tapi itu sudah cukup nyaman bagiku. Memang mula-mula tidak terbiasa, karena aku biasa tidur di kasur yang empuk, ditemani nyanyian ninabobo dari mama. Tapi, sekarang hanya dengan beralaskan tikar dan ditemani suara binatang malam, itu saja sudah cukup enak.

 “Kyaa!!!!”

 Tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan minta tolong. Aku bergegas pergi ketempat asal teriakan itu. Sampainya disana aku melihat seorang wanita dan juga seorang vampir. Vampir itu rupanya hendak menghisap darah wanita itu. Melihat vampir itu, darahku mendidih. Amarahku memuncak. Bayangan kelam 3 tahun lalu, dimana kedua orangtuaku tewas karena bangsa vampir melintas di benakku. Tanpa ancang-ancang, aku langsung memasang kuda-kuda.Kalau dipikir-pikir benar apa yang telah dikatakan salah seorang calon VH itu kepadaku. Aku hanya mengandalkan tangan kosong dalam bertarung. Aku tidak punya senjata. Dan anehnya selalu bisa lolos dalam ujian, mungkin bisa dibilang itu faktor keberuntungan.

 “Cepat pergi dari sini!!” perintahku pada wanita itu.

 “Te..te..terimakasih...”, jawab wanita itu.

 “Cepaattt!!”

 Wanita itu, dengan tergesa-gesa, segera pergi. Aku mulai berniat menyerang. Vampir itu kelihatannya sudah tua. Tapi aku harus berhati-hati.Aku mulai menyerang. Dan seperti dugaanku, vampir itu ternyata gesit sekali dan aku mulai kehabisan tenaga untuk menyerangnya. Sesekali vampir itu mengejekku,

 “Kasihan sekali kamu anak muda. Kamu yang masih bau kencur ini mau melawanku yang sudah tua ini. Kami bangsa Varuala jauh lebih hebat dari kalian. Ha..ha..ha..lupakan saja..!”

 Sialan!! Dia pikir aku ini lemah. Tapi, memang, lama-kelamaan aku semakin lemah dan tidak kuat lagi. Dia terus memukulku sampai aku babak belur dan tidak sanggup bangkit.Saat itu aku merasakan hal yang sama dengan 3 tahun yang lalu. Waktu para vampir yang menyerangku itu berteriak kesakitan. Teriakan yang tak kupahami apa maksudnya. Dan hal itu sekarang terulang kembali.

 Sosok makhluk yang tak kukenal sedang berdiri didepanku. Aku tidak bisa mendeskripsikan makhluk itu dengan jelas. Hanya, mungkin dia seperti monster. Makhluk itu menyerang vampir tua itu dan dia tidak butuh waktu yang lama untuk memusnahkan Vampir itu.Sebelum musnah Vampir itu meneriakkan kata “LaMu”.Aku yang melihat itu takjub. Dan kemudian pingsan, karena rupa-rupanya aku sudah tidak kuat lagi. Hanya beberapa saat saja, setelah aku pingsan, aku tersadar kembali. Dan sosok yang dipanggil LaMu itu berdiri tepat dihadapanku.

 “Wah, sudah sadar ya! Lama sekali pingsannya!”

 Aku terperanjat. Suaranya menggema di telingaku. Aku mulai waspada. Dan juga mulai bertanya-tanya, apakah makhluk ini yang telah menolongku 3 tahun yang lalu.

 “Kamu...siapa...?”tanyaku.

 "Haahh!! Masa kamu tidak tahu? Aku “LaMu” Vampir paling legendaris. Tapi tentu saja aku tidak bisa disamakan dengan Vampir rendahan dari Varua itu. Mereka bahkan tidak layak menyebut diri mereka vampir. Varuala? Ha,ha,ha, aku baru dengar nama itu. Mereka mencoreng nama besar kami para vampir sesungguhnya”

  “Kamu...Vampir…Apa maksudmu mereka tidak layak disebut vampire? Lalu, vampir sesungguhnya?” Sadar bahwa yang berdiri didepanku adalah vampir, aku langsung berniat melawannya. Tapi, langkahku terhenti!

 “Ha..ha..ha…Jangan terburu emosi dong!! Dasar tidak sabaran. Banyak sekali pertanyaanmu, tapi aku tidak berkewajiban menjawabnya. Aku sudah menghentikan gerakanmu. Kalau ingin melawanku dan mendapatkan jawabannya, kuberi waktu 3 hari. Pulihkan dulu lukamu, baru kita bertarung lagi. Tiga hari lagi, ingat!!”

 Dia lalu menghilang ditelan kegelapan. Aku hanya terdiam. Tiga hari, waktu yang cukup untuk memulihkan lukaku dan juga mencari tahu siapa LaMu yang sebenarnya.Setelah aku pulih, aku berusaha mencari hal-hal yang berkaitan dengan LaMu. Aku sudah bertanya kesana kemari kepada Oracle. Tapi nihil. Mereka tidak pernah mendengarnya. Sesekali aku bertemu dengan orang yang telah mengejekku dulu, tapi kubiarkan saja.Lalu, aku pergi ke perpustakaan. Disana aku mencari buku yang mengupas tentang LaMu. Setelah berjam-jam, akhirnya aku mendapatkan buku tentang itu, lalu aku membacanya,

 “LaMu adalah Vampir legendaris dan mungkin merupakan Vampir terkuat yang pernah ada, bahkan konon kekuatannya melebihi bangsa Vampir atau varuala dari Varua. LaMu adalah vampir dari clan Chirovant yang disebut-sebut merupakan cabang dari keluarga Vlad Tepes, vampir legenda yang ada di  Transylvania. Kekuatannya adalah sanggup memanggil hewan-hewan kegelapan seperti Cerberus, anjing neraka, dan Manx, kucing paling buas di Varua. Tiga ratus tahun yang lalu clan Chirovant dimusnahkan oleh pemburu Vampir dari keluarga Evinrude, yang bernama Ruben Evinrude, akibat perbuatan mereka  menyerang Varua Empire yang mengakibatkan jatuhnya jutaan korban, tidak hanya para varuala tetapi juga manusia-manusia tidak berdosa. Namun hanya LaMu yang tidak dibunuh. LaMu membuat perjanjian dengan Ruben. Ruben boleh memakai kekuatannya. Sebagai gantinya jika Ruben mati, LaMu boleh memakan tubuh Ruben untuk menambah kekuatannya. Kejadian penyerangan klan Chirovant kepada Varua Empire disebut dengan Bloody Road Tragedy, yang sekaligus juga mengawali gencatan senjata antara penguasa Varua Empire dan pemerintah Humavalea…”

 Aku hanya terpaku melihat uraian buku itu. Jadi, keluargaku ada hubungannya dengan LaMu. Lalu aku mulai menyimpulkan, mungkin para Vampir itu memburuku karena LaMu, dendam lama karena pembantaian vampir oleh klan Chirovant. Tapi benar tidaknya aku harus memastikannya sendiri pada LaMu.Hari ketiga pun tiba. Aku bertemu dengan LaMu ditempat yang sudah dijanjikan.

 “Sudah siap, ya?” tanya LaMu.

  “Jika kau menghendaki”,jawabku.

 Kami berdua lalu bertarung. Mulanya aku diatas angin. Tapi lama kelamaan, LaMu mulai memegang kendali pertarungan. Dan aku tahu, pertarungan tak berjalan seimbang.

 “Sudahlah!! Akhiri saja!! Lemah begitu!!”

 Aku tidak mau menyerah. Enak saja, masa aku berhenti ditengah-tengah jalan. Dendamku sama sekali belum terbalaskan. Aku menyerang LaMu dengan jurus tangan kosong.

 “Wah, masih ngotot juga. Bagaimana kalau kucoba melakukan sesuatu...”LaMu berkelit dari seranganku. Dan tiba-tiba saja dia sudah ada di belakangku. Aku menyerangnya. Sesaat aku lengah, dan LaMu melakukan hal yang tak pernah kuduga. Dia memutuskan kedua tanganku.

 “Aaarrrgghhh!!!”

 Sakit sekali rasanya. Ingin aku memegang kedua tanganku yang kesakitan. Tapi, bagaimana bisa? Kedua tanganku sudah diputusnya. Darah mengalir dari lenganku dan lagi-lagi aku merasa mual.

 “Wa..ha..ha..ha..Masa segitu saja sudah sakit! Ayo lawan aku dong! Ruben saja tidak selemah kamu!”

 Amarahku sudah tidak tertahankan. Aku lalu berteriak,

 “Semuanya karena kamu!!! Karena kamu, orangtuaku harus meninggal. Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyangku Ruben terhadapmu. Tapi aku tidak terima dengan semua ini.  Mengerti ‘kan kamu!!!!”

 LaMu hanya terdiam. Lalu dia menjawab,

 “Memangnya itu urusanku? Aku hanya berusaha menepati perjanjian yang telah aku buat dengan Ruben. Sebelum Ruben mati, dia mengatakan kepadaku untuk menjadi pelindung keluarga Evinrude. Aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Mestinya kamu tidak menyalahkanku. Aku sudah melindungimu waktu itu. Masalah kematian orangtuamu itu, seharusnya kamu bisa berpikir dengan jernih!!!”

 Aku cuma diam. Memang benar, kalau LaMu tidak ada,mungkin aku tidak akan berada di tempat ini. Walaupun begitu, aku tidak akan menyerah. Aku berusaha untuk berdiri dan menyerang LaMu. Kalau tidak bisa dengan tangan, pakai kaki. Kata-kata itu kudapat dari seorang oracle, dan baru kali ini, aku berterima kasih pada orang lain.LaMu tampak terdesak. Dia tidak menyangka bahwa aku bisa menyerang walaupun tanganku putus. Rupa-rupanya LaMu berniat untuk memutuskan kedua kakiku. Niat LaMu itu tidak akan kubiarkan dan dengan satu gerakan yang cukup lincah, aku berhasil mengalahkan LaMu.

 “Sekarang kau kalah LaMu!”LaMu terdiam, lalu tersenyum licik.

“Ya,ya,ya, aku mengaku kalah! Kau memang hebat Clay! Superior!”

“Kembalikan kedua tanganku!”

“Hmm, aku tidak janji”.

“Apa, kau bilang? Kembalikan kedua tanganku!!”

“Oh, jadi kamu masih butuh kedua tanganmu, ya. Begini saja bagaimana kalau kita buat perjanjian”.

“Perjanjian?”

“Ya, sama seperti Ruben dulu. Begini, kau boleh memakai kekuatanku dan aku akan mengembalikan kedua tanganmu, tapi tentu saja tidak sempurna. Lalu sebagai gantinya, kalau kau mati nanti, aku boleh memakan tubuhmu”.

“Apa maksudmu? Apa kau berniat membohongiku? Apa yang kau maksud dengan tidak sempurna”.

“Tidak, tidak, bukan begitu. Aku tertarik dengan keteguhan hatimu itu, Clay. Kalian berdua sama, tidak menyerah sampai akhir dan menggunakan segala cara yang ada untuk mengalahkan lawan. Tapi..ada satu perbedaan. Kau dikuasai dendam...”

 Sesaat, aku tak mampu berkata-kata.

 “Aku harus menepati janjiku, karena kalau tidak tanganmu itu akan tidak berfungsi lagi. Lagipula menurutku, kau adalah orang yang menarik. Nah, ambillah perban yang ada di dekatmu itu”.

 Aku melihat ke arah yang ditunjuk LaMu. Sedetik kemudian aku tahu kalau dia, malah menggodaku.

 “Bodoh!! Bagaimana aku bisa mengambilnya?”

“Wah, iya, ya, aku lupa kamu tidak punya tangan,” sahut LaMu sambil tertawa-tawa.

 Aku jadi sebal melihatnya. Dengan satu gerakan, perban itu melayang, dan membungkus kedua lenganku, sampai menyerupai bagian yang telah dipotong oleh LaMu.Aku menggerak-gerakkan “kedua tangan baru”ku. Rasanya seperti tangan sungguhan.

 “Bagaimana? Cukup nyaman bukan? Lalu perjanjian itu kau mau menerimanya?”

 Aku terdiam. Tidak ada salahnya untuk dicoba

 “Ayolah, dengan kekuatanku kamu bisa mengalahkan Vampir dengan mudah dan membalaskan dendammu. Lagipula saat ini kamu tidak punya senjata ‘kan!”

 Aku menjawab dengan tegas,”Aku setuju!”

 LaMu memandangku.“Aku setuju! Kita bekerja sama!”

 LaMu hanya tersenyum. Lalu berkata, “Keputusan yang bagus”

 “Tunggu sebentar!!’“seruku.

 La Mu menoleh ke arahku, "Ada apa lagi?”

 “Kau belum menjawab pertanyaanku!”

 “Oh, itu! Kurasa aku pernah mengatakannya, aku punya hak untuk tidak menjelaskan yang sesungguhnya kenyataan dibalik pertentangan manusia Humavalea dan Varua Empire, juga kenyataan kenapa klan kami begitu membenci Varua Empire. Ada kalanya kita tidak perlu tahu sesuatu,  dan kenyataan akan terhampar di depan mata kita ketika sudah waktunya”

 Sosok LaMu lalu menghilang dan berubah menjadi sebuah sinar merah yang cukup menyilaukan. Sinar itu lalu masuk ke dalam tubuhku, dan meninggalkan tato aneh di lenganku.

 “Mulai sekarang aku akan selalu berada di dalam tubuhmu untuk mengawasimu. Tapi ingatlah hal ini Clay, dengan adanya kekuatanku di dalam tubuhmu, kamu akan jadi pembunuh. Kamu harus siap dengan kenyataan itu! Dan berbanggalah, ternyata kau cocok dengan senjata kebanggaan kami para vampir dari Chirovant, yang bahkan Ruben sendiri tidak sanggup memakainya. Senjata dewa sekaligus iblis, pedang langit Balmung…”

 Suara LaMu menghilang ditelan kegelapan malam. Aku lalu berniat untuk pulang. Namun tak disangka-sangka, orang yang mengejekku tempo hari itu mencegatku. Dia bersama beberapa temannya.

 “Hai, Clay!! Senang dapat kekuatan baru?”

“Darimana kau tahu?”

“Yah secara kebetulan aku lewat dekat sini. Aku menyaksikan pertarunganmu dengan makhluk aneh itu. Aku sempat bergetar juga melihat kejadian itu. Tapi, rupanya kamu sudah punya tangan yang baru ya!”

“Bukan urusanmu!”

“Eitt!! Tunggu dulu! Bagaimana kalau kau ujicoba kekuatanmu itu, hmm?!”

“Boleh saja!” prinsipku, jangan pernah lari dari tantangan

“Baiklah teman-teman, ayo kita maju bersama-sama!”

 Mereka banyak, dan aku sendiri. Tapi entah kenapa aku merasa tidak gentar sama sekali. Justru sebaliknya aku sangat percaya diri. Aku membalas semua serangan mereka dengan mudahnya. Mereka rupanya tidak puas, dan terus menyerangku.Untuk mempersingkat waktuku, aku melepas perban pada tanganku. Mulanya tidak ada apa-apa, dan kulihat mereka kebingungan. Lalu, sejumlah sulur-sulur yang seperti otot, bergerak dari pangkal tanganku yang putus. Saling sambung menyambung membentuk tangan baru, yang tidak bisa disebut tangan. Bentuk yang sangat aneh, pikirku. Lalu, tangan kananku mengeluarkan sinar, membentuk aksara-aksara aneh yang tidak kumengerti. Setelah itu, muncul pedang, dari telapak tanganku.

 Pedang yang aneh, tapi indah, sekaligus jahat. Aku tergetar. Pedang ini penuh dengan kekuatan. Kekuatan yang selama ini kuinginkan.Kuayunkan pedangku kepada mereka. Kena, dan mereka langsung terjerembab semuanya. Aku pikir mungkin mereka hanya pingsan saja, terkena luka gores, karena aku tidak sungguh-sungguh membunuh mereka.

 Tapi ternyata tidak.Mereka semua mati. Darah mengalir dari tubuh mereka. Mendadak aku merasa pusing. Aku muntah. Kejadian ini mengingatkanku pada 3 tahun lalu. Tapi yang terkapar adalah orang-orang ini, bukan orangtuaku, dan pembunuhnya bukan para vampir, tapi aku sendiri.Aku sudah jadi pembunuh. Dengan tanganku ini aku sudah membunuh orang. Aku jadi teringat dengan kata-kata LaMu. Membuat perjanjian dengannya berarti telah mengubah hidupku untuk menjadi pembunuh!!

 Aku lalu berlari, berlari dan berlari. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi. Hatiku serasa goyah. Aku tidak punya pegangan lagi. Aku sudah jadi pembunuh.  Pembunuh! Tapi, aku teringat sesuatu. Dendamku! Benar! Sekarang tak apa-apa aku menjadi pembunuh. Yang penting aku punya kekuatan untuk membasmi para Vampir itu dan membalaskan dendamku.

 Aku berjalan dengan gontai, meninggalkan kota Balkhas. Meninggalkan ujian untuk menjadi VH. Aku muak dengan kota ini! Aku muak dengan semuanya, bahkan diriku sendiri! Aku tidak peduli lagi dengan hidupku…

Pergi…

Pergi…

Pergi…

Tanpa pernah kembali…

Karena hatiku sudah mati...


Bab 2 akan saya posting, semoga aja sih minggu depan, hehehe. Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.