Kamis, 19 September 2013

When He Smile : Part 4 (Final)

 

When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D


Silakan baca part 1 cerita ini di link ini :) 
Part 2 di link ini
Part 3 di link ini
Dan akhirnya sampai di bagian terakhir, part 4 

 ********
 
Titt…Titt…Titt…!!

Uhh, suara bel. Jam berapa ini?

Perlahan-lahan kubuka mataku. Berat sekali rasanya. Ketika, akhirnya mataku bisa kubuka sepenuhnya, aku melihat sekelilingku. Ternyata aku sudah ada di kamarku. Bajuku pun tetap sama dengan yang kemarin kupakai.

Pelan-pelan, aku turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju cermin. Kulihat bayanganku sendiri di cermin. Uhh, jelek sekali! Mataku lebam dan merah, seperti habis ditinju orang. Rambutku berantakan, dan kepalaku sedikit pusing.

Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Yang kuingat hanyalah, tadi malam aku duduk di taman dengan Randalph. Berbincang-bincang, lalu aku marah-marah kepadanya. Setelah itu aku menangis. Tapi, apa yang terjadi setelahnya aku sama sekali tidak ingat.

Aku bergegas pergi ke wastafel. Mencuci mukaku, gosok gigi, lalu merapikan rambutku. Setelah itu, aku turun ke bawah. Kepalaku masih pusing dan telingaku berdenging.

Ketika sudah sampai dibawah, aku melihat Randalph sedang duduk di meja makan, sembari minum teh.

“Hai, Clay! Sudah bangun,yah! Sudah baikan?”

“Ngg, yahh…!”

“Tadi malam kamu heboh sekali lho. Menangis dengan begitu kerasnya. Tapi setelah itu, tangismu mulai mereda. Dan setelah berhenti, kamu langsung tertidur. Pasti capek, yah, setelah menangis selama satu jam, he…he…he…”

“Satu jam? Selama itu? Maaf, sudah merepotkanmu”.

“Nggak, nggak apa-apa kok! Oh, ya kamu mau minum teh buatanku ini? Aku baru saja keluar membeli bahan-bahannya lo,” tawar Randalph, sambil memberikan secangkir teh.

Kuambil cangkir teh itu. Kalau dilihat-lihat, tehnya sedikit aneh. Dan baunya agak mencurigakan. Tapi, karena kasihan pada Randalph yang sudah membuatkan teh ini, kuminum saja walaupun sedikit ragu-ragu.

“Phuaaahhh!!! Hoeekkk, apa ini???”

“Gimana? Enak, kan?”

“Yang begini ini, kamu bilang enak?”

“Lho, harusnya kamu bersyukur loh, bisa minum teh ini. Hanya ada satu jenis minuman teh seperti ini di dunia. Dan hanya aku yang bisa membuatnya Ini resep rahasiaku!” jawab Randalph sambil senyum-senyum.

“Rahasia? Apa yang kamu masukkan?” tanyaku sambil berusaha mencari air putih, karena rasanya yang benar-benar tidak enak.

“ Campuran dari segala macam teh. Mulai dari darjeeling, ceylon, assam, earl grey, dan sebagainya. Lalu aku tambahkan sedikit kopi dan satu sendok penuh susu. Gulanya 3 sendok makan. Untuk menambahkan sedikit citarasa, aku pakai sedikit bubuk merica dan pala. Oh, ya ditambah juga dengan kayu manis.”

Errrggghh!! Pantas saja, rasanya benar-benar tidak enak. Dan, ketika ku lihat dapur….Arrgghhh, apa yang dia lakukan pada dapurku? Kenapa jadi berantakan begini.

“Randalphh…ini…?”

“Ah, maaf, maaf, setelah ini akan kubersihkan, kok!”

Ahh, setelah Randalph datang kesini, hidupku jadi kacau. Kacau!!

Aku langsung membersihkan dapur. Ketika aku menoleh ke meja makan, dia malah bersiul-siul. Tahu kalau aku melihat ke arahnya, dia malah tersenyum. Seolah-olah di wajahnya tertulis “Tolong bersihkan, ya”. Uhh, aku tak tahan lagi.

“Randalphh…”

“Ya?”

“Kenapa kamu diam saja melihat dapur yang berantakan itu?!!”

“Loh, aku kan bilang, pasti akan kubersihkan, kok. Tidak usah repot-repot deh”.

Errghh!! Aku benar-benar marah! Akhirnya kubersihkan dapurku sendirian

“Sudah merasa enakan?”

“Hah?”

“Kalau sudah bisa marah-marah seperti itu, artinya sudah lega, kan?”

“Apa maksudmu?”

“Hmm, lebih baik kamu duduk disini saja”

Aku melepas spon untuk membersihkan meja dapur. Lalu berjalan ke arah meja makan, setelah itu duduk diatas kursi yang telah disiapkan Randalph untukku.

“Ada apa?”

“Wajahmu sedikit cerah hari ini”

“Oh, ya?”

Randalph tersenyum.

“Aku…ingin mengucapkan terimakasih kepadamu…”

“Terimakasih? Memangnya ada apa?”

“Kalau bukan karena nasihatmu tadi malam, mungkin, aku akan terus menyimpan perasaan ini”.

“Yah, tidak perlu terimakasih segala kok. Itu sudah kewajibanku sebagai sesama teman”

“Teman?”

“Iya, kita berdua teman kan?”

Teman, ya? Satu kata yang pernah kuanggap sebagai duri dalam hatiku

“Tapi, aku merasa…dengan peristiwa tadi malam, kamu sedikit berubah, Clay”.

Berubah? Aku?

“Yah, setidaknya, kamu bisa jujur pada hatimu sendiri. Itu yang paling penting sebelum kamu jujur pada orang lain”.

“Jujur pada perasaan sendiri, ya?”

“Ada satu yang ingin kukatakan padamu, Clay. Tadi malam kamu bertanya, kenapa aku bisa tegar seperti ini. Jawabannya sederhana, tawa dan senyum”

“Hah?”

“Waktu itu, aku juga sama sepertimu. Rasa sedih dan marah, hanyut jadi satu dalam tangisanku. Yah, aku juga menangis sekeras-kerasnya, sama sepertimu. Lalu, Matt berkata kepadaku,

“Kalau ingin menangis, menangislah. Jangan pernah memendam apa yang ada di hatimu. Keluarkan semuanya, apa yang membuat hatimu sakit. Lalu, nanti sesudah kau menangis sampai airmatamu yang terakhir, tertawalah. Maka hatimu akan menjadi lega…” sampai sekarang, kata-kata Matt terus terpatri dalam hatiku ini. Tapi, aku yang sekarang ini sudah tidak bisa menangis lagi. Mungkin, air mataku sudah habis waktu itu. Dan karena tidak bisa menangis, jadi aku tertawa saja.”

Tes!

“Loh, Clay, kamu kok menangis lagi? Ada apa? Ada yang sakit, ya?”

“Tidak, tidak apa-apa”.

Tanpa sadar, aku menangis lagi. Tapi, ini tidak sama dengan tadi malam. Entah kenapa, hatiku merasa lega dan juga bahagia. Ingin rasanya aku tertawa. Perasaan inilah, yang sudah aku pendam selama sembilan tahun, semenjak kematian ayah dan ibu.

“Randalph, terimakasih!”

“Clay…, kamu…tersenyum?”

Aku tersenyum, ya aku tersenyum. Aku yang selama sembilan tahun ini tidak pernah tersenyum. Bahkan, mungkin aku sudah lupa bagaimana caranya tersenyum. Randalphlah yang membuka hatiku, menyadarkanku apa arti hidup ini.

“Terimakasih”

“Yah, sama-sama. Kita ini, teman khan?”

“Yah, teman”.

“Kalau begitu, ayo kita bersumpah disini. Apapun yang terjadi, walaupun salah satu dari kita terpisah jauh, persahabatan kita tetap abadi!!” ujar Randalph, sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Aku mengaitkan jari kelingkingku ke jarinya. Lalu kami berdua saling tersenyum penuh arti.

“Ya”, kataku,”apapun yang terjadi, kita ini adalah sahabat sejati!”

*****

Mardalsfossen, 3 tahun kemudian


Sejak perjanjian itu, kami berdua menjadi dekat. Suatu hari kami berniat akan membentuk sebuah organisasi VH. Setelah mengurus ijin dan persyaratan di VH Central Building, kami mencari nama organisasi. Semalaman kami ribut mencari nama organisasi. Dan paginya, akhirnya kami menemukannya.

Nama organisasi kami adalah “LETFRANT”. Aku tak tahu artinya apa. Randalphlah yang menemukan nama itu. Dan karena dia beranggapan kalau nama itu keren, akhirnya kami memakainya. Awalnya anggota organisasi kami hanya kami berdua. Lalu, berturut-turut mulai masuk anggota baru.

Yang pertama masuk adalah Nico Torin. Umurnya 19 tahun. Perawakannya biasa saja, tapi dia sangat kuat. Sanggup mengangkat beban 500 kg. Penguasa sihir barat. Identitas sebenarnya, adalah putra dari Master Penyihir Barat, pimpinan AWWH(Association of West Wizard in Humavalea) yang bermarkas di Berlin. Alasannya ikut sendiri, karena dia tidak mau jadi penerus ayahnya. Alasan yang klasik sebenarnya. Kami menerimanya, ketika kami baru saja mendaftarkan LETFRANT di VH Central Building. Pertemuan pertama yang penuh kekacauan.

Lalu, beberapa bulan kemudian, sepasang cewek dan cowok yang masuk. Nama mereka Roderick Rutherford yang selalu bergaya cowboy dan dipanggil Rod, dan Celia Rutherford, yang suka bersikap keibuan, sekaligus satu-satunya wanita di LETFRANT. Awalnya aku kira mereka adalah suami-istri atau kakak-adik, karena nama belakang sama. Tapi setiap kutanya, mereka selalu bilang “rahasia”. Rod adalah seorang pyrokinesis (sanggup mengendalikan api), sedangkan Celia mampu menghinoptis orang dengan tariannya dan kemampuan meramal dengan tarot (kami pernah terkena hipnotisnya).

Anggota baru lainnya adalah Akio Kazehayabashi, seorang pendeta dari negeri timur bernama Shin Tokyo. Kemampuannya tidak bisa diremehkan. Dia ahli dalam sihir timur dan menguasai angin. Lawan Nico, mereka seusia, tapi tetap jadi teman. Walaupun begitu hobinya membuatku merinding, karena dia gemar membuat boneka kutukan, dan bereksperimen dengan bonekanya. Emosinya sepertinya agak tidak stabil.

Anggota yang ketujuh adalah Lunar Louisse. Kami memanggilnya Lou. Tidak ada yang istimewa darinya, kecuali kenyataan kalau dia manusia serigala. Sukunya sudah punah karena serangan Vampir dan dia ingin balas dendam. Setidaknya tujuannya hampir sama denganku.

Dan, anggota yang terakhir adalah Andrew Balthor. Entah kenapa, aku merasa tidak cocok dengannya –kecuali Randalph yang akrab dengan semua orang-. Kemampuannya di bidang komputer dan hacking. Panggilannya adalah “Wired”. Walaupun aku tidak suka padanya, kuterima juga (karena desakan Randalph, sebenarnya). Walaupun begitu, dia sangat membantu jika kami ingin mencari informasi, yang tentunya “Top Secret”, karena kemampuan hackingnya.

Aku sendiri menjadi pemimpin LETFRANT, dan wakilnya Rod. Randalph tidak mau menjadi pemimpin, dia malah menunjukku. Katanya, ”Kamu punya bakat jadi pemimpin”. Dia tidak mau menjadi pemimpin atau wakil. Hanya minta kedudukan sebagai “anggota istimewa”.(ada-ada saja).

Sebagai pemimpin, aku harus memahami anak buahku. Awalnya sulit memang. Tapi, dengan bantuan Randalph, hal itu bisa kuatasi. Terus terang, aku kurang bisa bersosialisasi.

Hari ini, usiaku 22 tahun. Tak terasa sudah 12 tahun aku hidup mandiri. Aku pun mulai bisa membiasakan diri dengan LaMu, walaupun tidak jarang dia selalu mencemoohku. Aku juga mulai terbiasa dengan anggota LETFRANT yang lain (kecuali Wired, yang entah kenapa, selalu ada yang mengganjal hatiku). Aku juga mengganti penampilanku. Rambutku sudah panjang, dan aku tidak pernah berniat memotongnya. Jika tidak tahu, banyak yang mengira aku adalah Vampir sejati, walau kenyataannya, di dalam tubuhku juga ada Vampir.

Aku menikmati hari-hari itu, sampai suatu hari Randalph akan pergi. Aku sendiri baru tahu dari Rod, kalau pagi itu Randalph akan berangkat.

“Kamu mau pergi kemana?”

“Ah, Clay. Sudah dengar dari Rod, ya”.

“Jadi, berita itu benar? Kamu akan meninggalkan Mardalsfossen ini.”

“Yah, aku akan pergi ke Alcarta”.

“Alcarta? Untuk apa?”

“Entahlah, ada sesuatu yang menarikku kesana. Tadi malam aku mendapat “penglihatan”, dan ada yang menyuruhku pergi kesana.”

“…”

“Aku juga sudah bertanya ke Celia. Dan ternyata ramalannya memang benar. Ada sesuatu yang menantiku disana”

“Kamu…tidak akan kembali?”

“Ahh, tentu saja tidak. Kalau urusanku sudah selesai, aku pasti akan kembali kesini lagi”

“Begitu, ya. Kalau begitu pergilah!”

“Hmm, kalau kamu kangen, aku sudah siapkan satu galon teh"

“Tidak usah! Kamu pikir sudah berapa orang yang hampir keracunan, karena minum teh buatanmu itu.”

“Ha..ha..ha..!! Sampai segitunya. Baiklah, aku berangkat dulu ya. Aku titip LETFRANT dan sampaikan salamku pada yang lain,”

“Randalph!”

“Yah?”

“Kita ini teman kan?” tanyaku.

“Tentu saja!”jawab Randalph.

Aku mengantar kepergian Randalph ke Alcarta. Seperti janji kami dulu, walaupun salah satu dari kami terpisah jauh, dan apapun yang terjadi, persahabatan kami berdua akan tetap abadi. Waktu itu, aku tak menyadarinya, bahwa Randalph akan membawa seseorang yang nantinya, akan berpengaruh besar pada Humavalea dan Varua…
*****

“Clay, Clay, bangun! Sudah siang!”

Nggh. Siapa yang membangunkan aku? Bukannya aku tadi sudah bangun? Apa aku tertidur lagi?

“Oh, My God! Clay, kenapa kamu bisa tidur sambil berdiri? Tidur di dekat jendela,lagi! Kalau ada yang melihat, bagaimana?”

Ah, ternyata itu suara Celia. Rupanya, waktu sedang mengingat masa laluku tadi, aku ketiduran dan bermimpi. Dan, suara Celia menghentikan mimpiku, ibarat sebuah film yang rollnya sudah selesai berputar.

“Ada apa Celia? Kenapa ribut-ribut? Aku masih ngantuk! Kalau ada urusan nanti saja,” pintaku sambil setengah menguap.

“Nantimu itu berapa jam?” tanya Celia.

“Entahlah, mungkin sekitar 15 jam lagi” jawabku, sambil siap-siap untuk tidur lagi.

Aku benar-benar kecapekan. Tadi malam, aku menghadiri rapat di VH Central Building, dan terus terang, aku bosan mendengar para kakek reyot petinggi organisasi berteriak-teriak membahas masalah yang sebenarnya sudah ketinggalan jaman.

“Tidak bisa! Ayo, Clay, kita harus siap-siap! Kita kedatangan tamu istimewa! Ayo, cepat bangun”

“Tamu istimewa? Siapa? Kalau orang-orang petinggi organisasi yang datang, bilang aku tidak ada di tempat!”

“Bukan, Clay! Hari ini, aku meramal tarot. Dan hasilnya bagus sekali! Coba tebak siapa yang datang?”

“Siapa? Aku malas main tebak-tebakan denganmu Celia”.

“Randalph! Randalph sudah pulang dari Alcarta. Selain itu dia juga membawa anggota baru. Jika tidak ada halangan, mereka akan sampai satu jam lagi”.

“Apa? Randalph? Datang satu jam lagi? Kenapa kau tidak bilang Celia? Aku harus siap-siap!”

“Dasar! Dibilangin dari tadi juga”.

Randalph datang! Tergesa-gesa, aku mencuci muka dan merapikan rambutku lalu berpakaian. Akhirnya setelah ½ tahun pergi ke Alcarta, dia pulang juga. Membawa anggota baru, siapa dia kira-kira?

Setelah berpakaian rapi, aku langsung pergi ke bangsal. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Kecuali hanya ada satu orang. Seorang cowok. Mungkin usianya sekitar 17 tahun.

“Permisi, boleh tahu dimana toiletnya?”

“Ah, eh, iya! Disana, belok kiri, lalu jalan terus!” jawabku sedikit gelagapan. Walaupun laki-laki, wajahnya manis sekali.

“Thanks! Oh, ya kamu manusia atau Vampir? Kelihatannya kamu manusia ya, walaupun penampilanmu seperti Vampir. Sekali lagi, thanks!” jawab anak cowok itu, lalu dia berlari menuju ke arah yang sudah kutunjuk.

Anak yang banyak bicara seperti Randalph, pikirku. Tapi, aku harus bergegas. Mungkin mereka semua ada di luar...

Duarrrr!!!!

Apa itu tadi? Ada ledakan?

Mendengar suara ledakan, aku langsung berlari ke arah suara itu. Tapi, sesaat setelah ledakan itu, terdengar suara pistol. Siapa yang memakai pistol? Di LETFRANT tidak ada yang memakai pistol.

Jawabannya baru kuketahui setelah sampai disana. Rupanya, ada beberapa Vampir yang menyerang markas LETFRANT. Mungkin karena sebelumnya, kami mengadakan perburuan besar-besaran terhadap para Vampir. Dan mereka pasti ingin membalas dendam teman-temannya yang telah kami tangkap. Tapi, lagi-lagi aku terkejut. Yang menghadapi mereka adalah anak cowok yang baru saja kutemui.

Aku terpana. Tak kusangka, dia hebat sekali. Dengan senjata dua pistol, dia menembaki para Vampir. Pelurunya adalah peluru perak. Dia terus menembaki Vampir itu. Hebat sekali! Jumlah Vampir itu ada sekitar 20-an dan dia menghadapinya sendirian.

Sedetik kemudian, dia mulai terdesak. Dan, rupanya datang bala bantuan. Cih, sialan! Beraninya main keroyokan. Akhirnya aku pergi untuk menolongnya. Kulayangkan seranganku pada Vampir-Vampir itu. Beberapa diantara mereka roboh kena seranganku.

“Kau, tidak apa-apa?”tanyaku sambil mendekati dia.

“Ah, orang yang tadi, ya?”

Tiba-tiba mereka semua mengepungi kami. Hmm, mungkin mereka mengira bisa menang melawanku dengan cara ini.

“Hei!”

“Yah?”

“Kau bisa menembaki mereka semua khan?”

“Tentu saja! Tembakanku selalu tepat 100 %!”

“Baiklah, mulai hitungan ketiga. Satu…dua…tiga…!!”

Setelah hitungan ketiga, aku langsung melayangkan seranganku, dan dia menembaki para Vampir itu. Tidak sampai hitungan menit. Semuanya sudah roboh.

“Ah, terimakasih! Berkat kakak, aku terbantu!! Aku kaget sekali. Ketika mau ke toilet,tiba-tiba dindingnya hancur. Untung aku bawa dua pistol kesayanganku ini. Oh, ya kita baru bertemu, namaku Milliard. Nama kakak siapa?”

“Eh, aku?”

Tiba-tiba saja pintu dibelakangku terbuka lebar. Lalu…

“Clayy!!! Lama tak bertemu!”

Suara yang sudah lama kukenal. Suara Randalph.

“Randalph!! Bagaimana, kabarmu? Baik saja-saja kan?”

Kami berdua lalu berpelukan. Rasanya sudah lama sekali, sejak Randalph pergi.

“Yah, baik-baik saja. Engg, Milliard? Kenapa disini?”

Aku melepaskan pelukanku, lalu bertanya,

“Kau kenal dengan anak ini, Randalph?” tanyaku, sementara semuanya sudah masuk ke bangsal tempat kami berdiri.

“Yah, namanya Milliard Saga! Dia dari Alcarta, usianya 18 tahun. Dan, kemampuannya menembaknya tidak diragukan lagi. Dia nomor satu di Alcarta. Baru saja lulus sekolah, karena itu aku mengajaknya kesini. Bagaimana? Dia cukup tangguh lo! Masih ada tempat, kan?”

“Yah, tentu saja! Ternyata nama lengkapmu Milliard Saga, ya”.

“Ya!”

“Namaku Claude, Claude C. Evinrude. Panggil saja Clay. Aku pimpinan LETFRANT, aku dengar dari Randalph, kemampuan menembakmu no 1, dan aku sudah melihatnya sendiri. Kalau tidak keberatan, maukah kau bekerjasama dengan kami?”

“Tentu saja! Aku kesini dengan harapan bisa mencapai tujuanku!”

“Tujuan?”

“Yah, aku dengar orang2 yang masuk kesini adalah orang2 yang memiliki dendam pada para Vampir. Aku ingin masuk ke organisasi untuk mencari Vampir yang membunuh kedua orangtuaku dan kakakku!”

Milliard mengucapkannya dengan tegas. Dan dari sorotan matanya, aku seolah melihat diriku sendiri. Hati yang diselimuti dengan dendam.

“Yah, kalau itu keinginanmu, Milliard. Kalau begitu…”

Aku melihat ke arah Randalph. Dia hanya tersenyum dan berbisik, “terima saja”. Lalu, aku melihat Milliard. Anak ini

sungguh-sungguh. Tidak ada jalan lain kecuali mengijinkannya masuk LETFRANT.

“Baiklah Milliard… Selamat datang di LETFRANT!!”.

**THE END**


Kisah Clay Evinrude telah berakhir. Karena ini adalah prototype, maka banyak kalimat yang aneh, mengingat saya menulisnya saat SMA. Saya sudah menulis kisah terbaru Clay, yang namanya saya ganti. Beberapa kalimat yang saya rasa tidak enak dibaca, juga telah diganti. Saya menulisnya dalam bahasa Inggris, yang tentunya not gramatically correct, karena bahasa native saya kan bukan bahasa Inggris. 

Seperti biasa, jika ada yang mau memberi saran, atau kritik, you are very welcome ^_^

Selasa, 30 Juli 2013

When He Smile : Bab 3

 

 When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D

Maaf karena menunggu lama untuk Part 3 nya ^_^". 
Silakan baca part 1 cerita ini di link ini :) 
Dan part 2 di link ini

Sejak saat pertemuan pertamaku dengan Randalph, kami berdua saling bekerjasama dalam memburu Vampir. Tak jarang kami juga bersaing siapa duluan yang berhasil mengalahkan Vampir buruan. Dibandingkan denganku yang lebih sering pakai tangan kosong -karena aku tidak ingin memakai Balmung jika tidak terdesak-, Randalph memakai senjata. Senjatanya sendiri adalah seuntai benang. Bukan sembarang benang, benang itu terbuat dari besi. Dan dengan benangnya itu, Randalph sanggup memotong, bahkan menembus jantung Vampir buruannya.

Dan, dia memang benar-benar kuat. Sudah banyak Vampir yang diburunya, dan herannya ternyata banyak penduduk Mardalsfossen yang kenal dia. Randalph sangat menikmatinya. Dia selalu tersenyum setiap disapa oleh orang yang bahkan mungkin tidak dia kenal sama sekali. Hal yang sudah lama kulupakan.

Sudah genap satu tahun kami berdua bekerjasama dalam membasmi Vampir. Lama-kelamaan aku mulai mempercayainya dan –walaupun mungkin aku tidak mau mengakuinya- aku mulai mengganggapnya sebagai teman, daripada sekedar partner.  Sepertinya Randalph juga menganggapku demikian. Tapi, aku sama sekali tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya ataupun kehidupannya sebelum bertemu denganku. Randalph selalu menutupinya.

Dan tanpa kusadari, entah kenapa, setiap berbicara dengan Randalph, apa yang ada di otakku semuanya mengalir dengan lancar lewat mulutku. Selama ini, aku tak pernah berbicara panjang lebar dengan orang lain. Apalagi mengutarakan apa yang ada di hatiku. Randalph sudah mengubah diriku selama satu tahun ini.

Sampai di suatu sore hari, seusai pergi ke rumah klien, dan mendapatkan bayaran, Randalph mengajakku ke sebuah taman. Kami lalu duduk di sebuah bangku.

“Hmm, popcorn ini memang enak sekali. Mau, Clay?”

“Tidak, terima kasih! Ada apa kamu mengajakku kesini Randalph?”

“Loh, sekali-kali santai juga nggak apa-apa kan?! Lagipula taman ini sepi ya, tidak ada siapa-siapa. Dari sini kita bisa melihat matahari terbenam, itu indah sekali lho! Kamu pernah melihatnya, Clay?”

Melihat matahari terbenam? Aku sering melihatnya tapi aku sama sekali tidak menikmatinya. Apakah matahari terbenam itu sebegitu indahnya? Apakah itu bukan suatu pertanda bahwa setelah matahari tenggelam, kegelapan malam yang akan datang. Dan, kegelapan itu bagi kami, VH adalah suatu surga, karena Vampir berkeliaran dimana-mana jika hari sudah gelap.

“Tidak, aku tidak pernah melihatnya” jawabku berbohong.

“Hmm, sayang padahal indah sekali!”

“Randalph..”

“Ya?”

“Aku ingin mengusulkan sesuatu”

“Apa? Silahkan saja! Jarang-jarang kamu ngomong begitu”.

“Menurutku, benang yang terbuat dari besi itu tidak begitu bagus. Jika dipakai untuk membunuh Vampir, bukannya darah Vampir akan membuat benang besimu berkarat?”

“Hmm, betul katamu, tapi hanya logam ini yang sanggup memotong-motong dan menembus jantung Vampir. Lagipula ini warisan dari guruku”

“Kalau begitu maaf, mungkin aku tidak sopan, tapi, akan lebih baik kalau kamu mengganti benangnya dengan logam yang lebih baik”

Kupikir dia akan tersinggung mendengar ucapanku, tapi ternyata sama sekali tidak. Dia justru menerima usulanku.

“Hmm, baiklah. Menurutmu logam apa yang cocok untuk mengganti benang besiku ini?”

“Cle…Clementium. Logam ini daya tembusnya lebih baik dari besi, lagipula tidak akan berkarat walaupun terkena darah Vampir. Jadi, tidak perlu dibersihkan. Hanya saja untuk bisa menggunakannya harus memakai sihir”.

“Sihir! Kalau itu kan, selama ini juga aku selalu memakai sihirku untuk mengendalikan benang besiku itu”.

“Maksudku, sihir yang lebih kuat. Clementium bukan logam biasa, melainkan logam yang sangat langka.Mungkin saat ini di Humavalea, hanya ada sedikit Tapi, dia jauh lebih kuat dari besi dan lebih berat. Selain itu daya tembusnya lebih hebat dari logam manapun. Kalau kau memakai sihirmu yang sekarang, pastinya…”

“Clay… thanks atas perhatianmu. Tapi kalau tidak dicoba, kita mana bisa tahu. Aku ingin mencobanya. Kau tahu dimana tempatnya?”

Aku hanya diam saja. Randalph sangat optimis. Dia yakin bahwa dia sanggup memakai Clementium. Padahal selama ini kudengar tidak ada yang sanggup menggunakannya.

“A..aku tahu. Sebenarnya, aku pernah mendapatkannya dari seorang klien yang awalnya kuanggap tak tahu diri. Dia tidak membayarku dengan uang, tapi dengan Clementium. Awalnya aku sama sekali tidak tahu apa kegunaannya. Lalu, waktu aku pergi ke pusat VH di Mardalsfossen, aku baru tahu itu apa. Tapi, tetap saja aku tidak membutuhkannya. Jadi kalau kau mau…”tawarku.

Tiba-tiba saja dia menggenggam tanganku dan matanya bersinar-sinar. Aku jadi kaget sendiri. Randalph memang sering seperti itu.

“Tentu saja! Yes! Tidak perlu susah-susah mencarinya.. Sebenarnya aku tidak mau menggantinya, tapi kalau ada yang lebih bagus kenapa tidak dicoba? Ngomong2 kamu jujur sekali yah, bilang kalo klienmu tidak tahu diri,hahaha!”

Mukaku sedikit memerah. Baru kali ini aku dibilang jujur.

“Mm, begitu ya. Baiklah kalau sudah pulang, aku akan memberikannya kepadamu”.

“Sipp!! Nanti biar aku yang mengolahnya menjadi benang!”

“Randalph…”

“Ya?”

“Aku ingin menanyakan sesuatu. Mungkin ini akan sedikit menyinggung perasaanmu”

“Ya, apa?”

“Kenapa, matamu yang sebelah kiri kau tutupi dengan kacamata yang lensanya cuma satu? Apa itu tidak terlihat aneh?”

“Oh,ini ya?” tanyanya sambil menunjuk kacamata lensa satunya itu.

“Hmm…”

“Panjang ceritanya. Kau mau kuceritakan?”

Aku mengangguk.

“Ini sebenarnya juga berhubungan dengan masa laluku”.

Aku teringat, dulu Randalph pernah bilang bahwa masa lalunya lebih menyedihkan dari masa laluku.

“Ah, maaf, bukan maksudku..”

“Nggak masalah, aku akan menceritakannya. Dengarkan baik-baik ya. Waktu aku masih kecil dulu, ibuku sering menyiksaku. Kau pasti tidak percaya, tapi itu adalah kenyataan”.

Disiksa, bagaimana mungkin? Apakah ibu Randalph sekejam itu?

“Mulai darimana enaknya, ya? Hmm, cerita ini kudengar dari salah satu familiku. Sebelum aku lahir, ibuku kabur dari rumah bersama kekasihnya Alasannya waktu itu, nenek dan kakekku tidak menyetujui hubungan mereka. Kekasih ibuku, atau ayahku itu tidak punya asal-usul yang jelas dan dia juga hilang ingatan, jadi mereka tidak mau ibuku menikah dengan ayahku.

Ayah dan ibu yang kawin lari lalu tinggal di rumah ayah yang ada di Corvus. Setahun kemudian, aku lahir. Saat itu kami benar-benar bahagia. Ayah yang tampan dan ibu, walaupun dia tidak begitu cantik, senyumnya indah sekali.

Enam tahun bersama orangtuaku bagaikan mimpi. Suatu hari, Ayah meninggalkan ibu tanpa alasan yang jelas. Saat itu juga bencana dimulai.

Sejak saat itu ibu mengasuhku sendirian. Awalnya kami berdua saling menyayangi. Sampai, ibuku mengetahui bahwa aku punya kekuatan tersembunyi, dia sangat marah sekali. Aku masih ingat kata-katanya waktu itu, “Randalph, apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak tahu bahwa itu kekuatan Vampir?”

Ah, tentu saja aku bingung. Mengapa apa yang kulakukan, dibilang seperti Vampir. Sejak saat itu, dia selalu menyiksaku dengan harapan, kekuatanku akan hilang dengan sendirinya. Tengah malam dia selalu menangis dan berdoa, kenapa ayah meninggalkan kami, kenapa aku harus punya kekuatan yang aneh begini?

Hal itu terus berlangsung sampai umurku 12 tahun. Bekas siksaan ibu pun masih terlihat jelas di tubuhku.Tapi, waktu itu aku sama sekali tidak mengeluh ataupun mengadukan pada orang lain. Karena aku yakin, ibu melakukannya demi diriku dan itu karena dia sangat sayang padaku.


Walaupun begitu, keyakinan itu mulai pudar, seiring dengan semakin seringnya ibuku menyiksaku. Sampai puncaknya, pada malam itu..”

Aku terpaku mendengar ucapan Randalph. Aku tak menyangka masa lalu Randalph sebegini pahitnya. Selama ini aku selalu menganggap bahwa masa laluku yang paling suram. Ternyata masa lalu Randalph jauh lebih menyakitkan.

“… malam itu, aku mengeluarkan kekuatanku untuk membunuh Vampir yang hendak menyerang ibuku. Tapi, rupanya ibuku tidak menyukainya, bahkan menangis histeris. Dia lalu menampar dan memukulku, sambil berteriak, “Anak Vampir!! Karena kamu ayahmu meninggalkan kita”.

Aku sama sekali tidak mengerti, apa benar ayah meninggalkan ibu karena aku? Setelah puas memukulku, ibu mengambil pisau yang ada di sebelahnya, lalu dia berkata,”Seharusnya kamu tidak punya kekuatan itu, karena ayahmu, kamu jadi begini Randalph!! Apalagi matamu, aku tidak suka melihatnya, karena mengingatkanku pada ayahmu!!. Lebih baik aku tidak melihat mata itu untuk selamanya!!!”

Ibu lalu menusuk mataku yang sebelah kiri dengan pisau itu. Rasanya sakit sekali.Aku memegang mata yang ditusuk. Darah terus mengucur keluar. Lalu, kulihat, ibu hendak menusuk mataku yang sebelah kanan. Tapi, waktu itu, tetangga di sebelah rumah yang mendengar keributan di rumahku, datang, dan menghentikan ibuku Aku sendiri pingsan, dan tidak ingat apa-apa lagi.

Ketika sadar, aku sudah ada di rumah sakit. Mereka bilang aku tidak sadarkan diri selama seminggu. Mata sebelah kiriku sudah dibalut. Dan dokter mengatakan bahwa mata kiriku buta permanen. Aku menanyakan ibuku. Tapi jawaban dokter sangat mengejutkan.

Ibuku meninggal. Waktu aku dibawa ke rumah sakit, ibuku mengamuk. Untuk menenangkannya, dokter menyuntikkan obat penenang. Untuk sementara dia bisa tenang. Lalu setelah itu, entah apa yang dilakukan ibu selama dua hari. Kata tetanggaku, dia mengurung diri di kamarnya. Lalu,esok harinya ibu ditemukan tewas.

Mulanya mereka mengira ibu bunuh diri dengan menusuk jantungnya. Tapi, di sekitar ibu terdapat bulu hitam, seperti bulu sayap Vampir…”

“Vampir? Ibumu dibunuh Vampir?”

“Entahlah. Sebenarnya, malam sebelum ibu dibunuh, tetanggaku mendengar pertengkaran di kamar ibu, waktu itu ibu meneriakkan, “Tidak bisa!! Apapun yang terjadi, Randalph adalah anakku. Tidak akan kuserahkan kepada kalian!!” Lalu setelah itu, senyap, dan keesokan harinya, yah seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya.

Dokter lalu menyerahkan sebuah surat kepadaku. Katanya, itu adalah wasiat dari ibuku. Lalu, aku segera membacanya, di surat itu ibu menceritakan alasan kenapa selama ini ibu selalu menyiksaku. Tapi, aku tidak bisa menceritakannya padamu, itu rahasia antara aku dan ibuku.”

“Tidak apa-apa, teruskan saja…”

Randalph menghela nafas panjang. Kelihatan sekali bahwa dia merasa berat untuk menceritakan masa lalunya.

“Baiklah, setelah membaca surat ibu, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tahu, semua yang dilakukan ibu adalah, karena dia sangat menyayangiku. Selain surat , dia juga meninggalkan sebuah kalung, yang sampai saat ini terus kupakai.

Setelah itu, ketika aku masih dirawat di rumah sakit, ada seseorang yang datang menjengukku. Aku sama sekali tidak kenal dia, tapi orangnya baik sekali. Dia bilang, dia yang akan mengasuhku setelah aku keluar dari rumah sakit. Akhirnya, setelah aku keluar dari rumah sakit, aku tinggal dirumahnya, masih tetap di Corvus.

Aku tinggal dengannya selama 4 tahun. Dari dia juga, aku mempelajari cara mengendalikan benang. Dia rupanya tahu kalau aku sanggup mengendalikan benang dengan sihir, sehingga dia mengajarkan semua ilmunya padaku. Baru, pada saat itu aku tahu siapa dia.”

“Maaf kalau aku memotong ceritamu, tapi aku pernah dengar bahwa, di Corvus, ada orang yang juga sanggup mengendalikan benang sama sepertimu. Kalau tidak salah, julukannya adalah, Heart of String”.

“Ya, betul. Dia adalah guruku. Nama aslinya sebenarnya adalah Matthew O’Donnell. Aku biasa memanggilnya Matt. Selama 4 tahun aku berguru padanya. Kacamata lensa satu ini juga pemberiannya. Setelah aku menguasai seluruh ilmunya, Matt menyuruhku pergi. Katanya, tidak baik menimba ilmu hanya dari satu orang, carilah pengalaman di luar. Waktu itu, umurku 16 tahun.

Aku tak pernah tahu kalau Matt akan meninggalkanku selama-lamanya. Tiga bulan setelah aku keluar dari rumah Matt, aku kembali untuk menengoknya, karena tanpa sengaja, aku melihat “masa depannya”. Di masa depan itu, aku melihat Matt tewas terbunuh.Dugaanku benar, sesampainya di sana, di depan rumah Matt telah berkumpul banyak orang. Kata mereka, malam sebelumnya, Matt terlibat pertengkaran dengan seseorang.

Aku lalu masuk ke kamarnya, dan ketika melihat mayatnya, aku teringat ibuku. Ibuku meninggal dengan cara yang sama. Aku lalu menyimpulkan, bahwa yang menyebabkan tewasnya ibuku dan Matt adalah orang yang sama. Lalu, dengan benang besi peninggalan Matt, aku mengikuti ujian VH dan sebulan sesudahnya, aku menjadi VH.

Alasanku menjadi VH adalah, aku ingin tahu siapa yang telah membunuh ibuku dan Matt, lalu, aku juga ingin tahu siapa ayahku dan alasan kenapa dia meninggalkanku.”

“Kalau begitu, kenapa kau malah mengajakku menjadi partnermu, Randalph? Kau ‘kan bisa mengajak orang lain?”

“Hmm, waktu masih menjadi VH di Corvus, aku mendengar tentangmu. Waktu itu, entah kenapa, aku merasa, kalau aku bertemu denganmu, aku bisa mendapatkan petunjuk. Terus terang, waktu pertama kali melihatmu, aku merasa kita orang yang sama. Kita berdua sama-sama dikuasai oleh dendam. Kalau kau dendam pada pembunuh orangtuamu, aku justru dendam pada ayahku.

Kau pasti bertanya kenapa aku harus dendam padanya, tentu saja karena dia telah meninggalkan aku dan ibuku, dan tega membuat ibuku menderita Kalau aku yang menderita, itu tidak apa-apa, tapi aku benci padanya karena dia juga mewariskan kekuatan aneh kepadaku. Aku bersumpah, suatu saat nanti, kalau aku bertemu dengannya, aku akan membunuhnya saat itu juga!”

Sambil mengatakan hal itu, tiba-tiba raut wajah Randalph berubah. Tatapan matanya berubah menjadi mengerikan, ketika dia membicarakan ayahnya. Hatiku sampai bergetar melihat tatapan mata Randalph yang penuh dengan kebencian. Sosok yang tak pernah kutemui dari diri Randalph yang selalu ceria itu.

“Aaah, aku jadi terlalu banyak bicara. Maaf, ya, kau pasti capek mendengar ceritaku ini!!”

Raut wajah dan tatapan matanya berubah lagi. Dia sudah berubah menjadi Randalph yang seperti biasanya. Walau, sejujurnya, aku sempat takut melihat tatapan matanya tadi.

“Randalph, apa kau tak merasa terganggu dengan matamu yang hanya satu itu, kenapa harus memakai kacamata, kenapa bukan penutup mata?”

“Gimana ya ngomongnya. Mmm, alasannya sih…, kalau penutup mata nanti kelihatan seperti bajak laut, he… he..he..” jawab Randalph dengan ceria.

Aku hanya bengong. Seharusnya aku tidak menanyakan hal itu padanya. Dia selalu ceria dan tanpa beban. Walaupun berat, dia sangat tegar dalam menjalani hidupnya. Kenapa dia bisa sekuat itu?

“Ngg…boleh tanya lagi?”

“Apa? Silakan tanya apa saja tentang Randalph. Aku pasti akan menjawabnya dengan senang hati”.

“Sejak kapan kau bisa melihat masa lalu dan masa depan?”

“Mmm, kapan ya, tepatnya? Kalau tidak salah sejak mataku ditusuk ibu , sejak saat itu aku bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang. Kalau masa lalu, yang pertama kali kulihat adalah entah masa lalu siapa, karena banyak sekali yang aku lihat. Sedangkan, waktu melihat masa depan, yang pertama kali kulihat adalah masa depan Matt. Yah, kalau dipikir-pikir, kemampuanku ini unik. Aku bisa melihat masa lalu seseorang kapan saja, tapi kalau masa depan, hanya kadang-kadang saja. ”

“Itu bagus kan?! Setidaknya, kalau kamu tidak tahu masa depan, kamu tidak perlu menderita. Dan, apapun yang terjadi di masa depan orang yang kamu lihat, tidak ada hubungannya dengan kita. Masa depan yang seperti apapun tidak akan bisa diubah,”

“Walaupun begitu, masih ada kemungkinan untuk diubah,kan?” tanya Randalph santai.

Aku terkejut mendengar ucapannya.

“Apa yang mau kamu lakukan, apa kamu ingin mengubah masa depan dari orang yang kamu lihat. I..itu melawan takdir! Apa kamu tidak tahu dengan mengubah masa depan dari orang itu, bukannya kamu yang akan susah. Karena kamu akan dianggap sebagai orang yang aneh, dan bahkan juga iblis, karena kamu bisa “melihat” ! ”

Ah..apa yang kukatakan? Tiba-tiba saja aku jadi emosi seperti ini. Aku tahu kemampuan Randalph hampir sama seperti aku. Kami punya kemampuan langka yang tidak dimiliki manusia. Dan, dan juga karena itu kami harus kehilangan banyak hal.Tapi, kulihat Randalph hanya tersenyum. Yah, tersenyum. Kenapa? Kenapa kamu bisa tersenyum seperti itu? Kenapa? Apa kamu tidak tertekan? Aku sama sekali tidak mengerti .

“Clay, kamu tahu tidak ungkapan seperti ini, ‘Que Sera Sera Whatever will be, will be. The future’s not ours to see. Que Sera Sera What will be, will be’. Bagaimana menurutmu ungkapan ini? Ini sebenarnya penggalan dari sebuah  lagu lama.  Waktu aku tinggal dengan Matt, dia sering menyanyikan lagu ini. Katanya banyak hal menarik yang bisa dipetik dari lagu ini”.

“Itu sudah jelas, kan!”, kataku, ”bukannya lagu itu menandakan bahwa apa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Kita, sebagai manusia tidak bisa mengubah apa yang sudah ditakdirkan!”

“Tapi, bukan berarti tidak bisa diubah! Yang namanya takdir itu memang sudah seharusnya terjadi, tapi apakah itu akan terjadi 100% benar kita juga tidak tahu. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha. Mungkin benar kata-katamu apa hak kita untuk mengubah masa depan orang yang tidak sengaja kita lihat. Kalaupun ada kemungkinan, itu hanya sekitar 10% bahkan mendekati nol. Tapi, walau cuma 10 %, bukan  berarti tidak ada harapan untuk mengubah masa depan!

Lagipula aku sudah berjanji pada Matt dan diriku sendiri, selama masa depan masih bisa diubah, aku akan terus berusaha. Apapun akan kulakukan, walaupun aku harus menentang takdirku sendiri”.

“Kenapa? Kenapa kamu bisa berbicara seenteng itu seolah tanpa beban. Kenapa kamu tegar sekali? Padahal masa lalumu jauh lebih berat dari masa laluku, kenapa kamu masih bisa tersenyum?”tanyaku.

Tubuhku entah kenapa tiba-tiba gemetar. Padahal malam itu tidak dingin sama sekali.

“Karena aku selalu berpikiran positif. Aku pikir kamu juga harus berpikiran seperti itu, Clay.”

“Berpikiran positif katamu?! Kamu pikir aku ini anak kecil yang memandang dunia ini dengan begitu naifnya? Aku tidak sama seperti kamu yang polos, Randalph! Aku dan kamu sudah berbeda, dan kamu menyarankan aku untuk berpikiran positif? Saran macam apa itu? Apa kamu mau membodohiku ?!!”

“C..Clay..”

“Kamu tahu apa perasaaanku? Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya hati ini ketika melihat orangtuaku dibunuh didepan mataku sendiri. Lalu, aku harus mengatasi kerasnya kehidupan di Balkhas, bertemu dengan LaMu, mengadakan perjanjian dengannya, sekaligus menjadikanku seorang pembunuh. Kamu tahu, ketika aku menyadari kekuatanku untuk membaca isi hati orang, dan hal itu sangat menyakitkan, karena aku mendengar apa yang seharusnya tidak boleh didengar. Lalu berulang kali aku dikhianati oleh orang yang mulanya kuanggap “teman” . Dan, mereka meninggalkanku begitu saja, Kamu tahu apa?!”

Untuk sesaat, kami berdua terdiam. Aku bersyukur, tidak ada orang di taman itu. Jadi mereka tidak perlu mendengarku teriak-teriak.

“Clay”

“Apa?!!”

“Mungkin hanya ini yang bisa kukatakan, tapi, sejujurnya perasaanku juga sama sepertimu. Kita berdua sama-sama menderita.Memang, masa lalu kita berdua sangat menyedihkan. Walaupun aku ingin melupakannya, tapi tetap tidak bisa. Semakin ingin dilupakan, semakin membekas di ingatanku. Tapi, aku tidak mau terikat oleh masa laluku. Sebaliknya aku selalu berusaha untuk berpikiran lurus ke depan. Berusaha untuk hari ini dan hari esok”.

“……”

“Kalau kamu bilang aku tidak tahu perasaanmu memang benar. Dan saat ini aku sedang berusaha untuk memahami perasaanmu. Clay, kalau boleh aku katakan, didunia tidak ada seorangpun yang tidak merasakan kesedihan dihatinya. Aku juga sama. Waktu pertama kali bertemu Matt, aku juga emosi kepadanya, karena menganggap dia tidak tahu perasaanku.

Tapi, waktu itu dia bilang, sebenarnya akulah yang tidak tahu perasaanku sendiri. Aku sangat sedih, tapi tidak mau menunjukkan kesedihanku di depan orang lain. Sok tegar, begitu katanya. Aku marah sekali waktu itu. Kuhajar dia, tapi dia sama sekali tidak menghindar. Matt mengatakan kepadaku, pukul aku sampai hatimu merasa puas. Tapi, aku tidak memukulnya, aku hanya diam lalu tanpa sadar air mataku menetes…”

Tes! Tes!

A..apa ini? Air mata? A..Aku menangis? Tanpa kusadari, tiba-tiba saja air mataku keluar. Uhh, aku harus menghapusnya. Aku tidak mau kelihatan seperti ini di depan Randalph. Tapi, Randalph mencegahku.

“Jangan! Jangan dihapus, Clay! Air mata ini menunjukkan kalau kamu pun juga sedih. Tapi kamu menahannya, berusaha untuk menahannya. Kamu tidak ingin orang lain tahu kamu menderita. Kamu sangat tegar. Tapi, setegar - tegarnya orang, suatu saat dia pasti akan menangis juga.”

Air mataku mengalir semakin deras. A..aku sudah tidak kuat lagi, benar apa kata Randalph. Selama ini aku selalu menahan kesedihanku. Tapi, sebenarnya, aku hanya ingin ada seseorang yang mau mendengarkan kata hatiku. Lalu, Randalph menepuk-tepuk pundakku.

“Tidak apa-apa. Menangislah sepuasnya. Hari ini kamu bebas mengeluarkan air matamu sebanyak-banyaknya. Tidak usah malu. Disini nggak ada siapa-siapa. Cuma ada aku. Jadi, tidak usah malu, ya!” kata Randalph sambil tersenyum.

Aku hanya bisa menangis. Malam itu benar-benar dingin, sehingga membuat kulitku terasa perih. Seperih hatiku.

Perih…

Perasaan yang tak pernah kurasakan…

Tapi,kini kehangatan itu menjalar ke hatiku...

Dan bulan bersinar dengan terang...

Seolah menyinari hatiku yang selama ini kelabu...


******

Tinggal 1 part lagi sampai part terakhir cerita ini :). Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.

Rabu, 03 Juli 2013

When He Smile : Bab 2

 

 When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D

Maaf karena menunggu lama untuk Part 2nya ^^". Silakan baca part 1 cerita ini di link ini :)


~Mardalsfossen, 5 tahun kemudian

Mardalsfossen, benteng pertahanan manusia Humavalea yang kedua setelah Balkhas. Disini juga banyak VH. Hanya bedanya, jika di Balkhas profesi ini dipandang sebelah mata, walaupun Balkhas disebut-sebut sebagai VampHunt City, di Mardalsfossen, VH adalah profesi yang paling diidam-idamkan, karena masyarakat berpendapat profesi VH adalah profesi yang sangat mulia.

Mengapa mereka berpendapat seperti itu? Sederhana saja, para VH adalah penolong manusia. Mereka membasmi semua Vampir yang mengganggu manusia. Hal itu wajar saja. Jumlah VH di Mardalsfossen tidak begitu banyak dibandingkan dengan Balkhas yang merupakan VH City. Jadi, para Vampir lebih bebas berkeliaran di Mardalsfossen daripada di Balkhas.

Di Mardalsfossen juga, aku menggantungkan hidupku. Sudah lima tahun sejak aku bertemu dengan LaMu dan meninggalkan Balkhas. Disini aku sudah menjadi VH dan tak terhitung berapa jumlah Vampir yang sudah kubunuh, membuat pamorku menjadi naik di mata para VH. Dan tentu saja aku masih tetap seorang “pembunuh”.

Hari ini, aku sedang jalan-jalan di pusat kota Mardalsfossen untuk membeli bahan makanan. Walaupun aku ini pembunuh, pembunuh juga butuh makan, supaya dia bisa tetap hidup. Tidak mungkin aku mengharapkan seseorang akan membunuhku karena dosaku. Dan juga tidak mungkin aku menunggu orang itu sekian lama tanpa ada secuilpun roti yang masuk kedalam perutku.

Di Mardalsfossen, aku merasa sedikit nyaman. Suasana disini memang sangat menyenangkan. Tidak seperti di Balkhas, yang ada cuma kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, persaingan, dan segala macam hal yang akan membuat manusia merasa putus asa, jika dia tidak mampu melampaui semuanya.

Tahun ini usiaku 18 tahun. Walaupun tubuhku seperti laki-laki, tinggi dan tegap, tapi wajahku semakin cantik saja seperti perempuan. Dan, rambutku yang bewarna pirang juga kupanjangkan. Sehingga, jika orang melihatku hanya dari penampilan saja, maka mereka akan mengira kalau aku ini seorang wanita. Atau bahkan vampir.

Kenapa? Karena bangsa Vampir memiliki penampilan yang sangat memukau. Wajah mereka yang cantik, ditambah dengan rambut pirang dan mata berwarna ungu seperti batu amethyst. Penampilanku persis seperti mereka, hanya saja warna mataku biru, dan aku tidak punya gigi taring untuk menghisap darah seperti mereka.Aku tahu apa yang mereka pikirkan terhadapku. Walaupun diluar mereka tidak bilang apa-apa, tapi dalam hati mereka menganggapku aneh.

Ah, aku lupa bilang. Aku punya kekuatan untuk membaca pikiran orang. Mirip dengan telepati, tapi sebenarnya tidak. Telepati memungkinkan kita untuk membaca dan berkomunikasi melalui pikiran dengan orang lain. Tapi membaca pikiran orang lain hanya membaca pikirannya saja, tapi tidak berkomunikasi dengannya, seperti halnya telepati.

Aku mendapat kekuatan ini dari LaMu. Kuakui, hal ini cukup membantuku, karena aku bisa menebak apa yang lawan pikirkan, dan mengambil satu langkah kedepan untuk mengalahkan lawan. Tapi, disatu sisi, kekuatan ini membuatku tertekan. Coba kau pikirkan ketika kau sedang membaca pikiran temanmu, lalu temanmu itu ternyata membencimu, apa hal itu tidak membuatmu sakit?

Begitu juga denganku. Selama 5 tahun ini, banyak hal yang kualami. Dan itu semuanya, tidak begitu baik. Beberapa kali aku dikhianati temanku sendiri. Banyak sekali alasan mereka untuk mengkhianatiku. Kebanyakan mereka iri pada kekuatanku dan juga takut padaku.

Aku tak butuh partner! Aku bosan dikhianati terus. Karenanya, mulai saat itu dan sampai sekarang, aku selalu curiga pada semua orang. Sulit bagiku untuk mempercayai seseorang. Dan hal itu, membuat aku tidak punya teman satupun. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku memang sendirian.

Aku terus berjalan, menuju ke halte bus. Sebuah bus berhenti di depanku, dan aku segera naik. Di bus, lagi-lagi aku mendengar banyak komentar dari penumpang tentang penampilanku. Misalnya saja, “Rambutnya panjang sekali, tapi dadanya rata, dia itu cewek atau cowok sih?” atau ”Ih, penampilannya seram!” Cih, aku sudah biasa dengan semua itu.

Setelah sampai ditempat tujuan aku segera turun. Rumahku berada di pinggiran kota Mardalsfossen. Rumahku sangat sederhana dan cukup kecil, tapi asalkan itu bisa melindungiku dari hujan dan angin, itu tidak masalah. Aku berjalan menuju rumahku, dan aku melihat sesuatu.

Ada seseorang terbaring didepan rumahku. Aku kaget melihatnya. Segera saja aku berlari menuju orang itu. Lalu mendekatinya, sambil memeriksa apakah dia Vampir atau manusia.

“Akuu lapaar...”

“Haah?”

“Kau punya makanaann...?”

“Kamu siapa?”

Dia menarik bajuku lalu berkata, “Heii...akuu sangatt lapaar sekalii...Beri aku makaann..”

“I..I..Iya..”, jawabku sambil membetulkan kaosku yang tadi ditarik olehnya. Sepertinya dia manusia, dan bukan Vampir. Aku menggotongnya masuk ke rumah. Mendudukkannya di kursi, lalu membuka kulkas. Masih ada sisa makanan tadi malam.Aku akan menghangatkannya.

“Tunggulah sebentar!”

“Toloongg yangg cepaat yaa....”

Gawat, sepertinya dia benar-benar kelaparan. Aku tidak mau ada orang yang mati kelaparan dirumahku.

“Ini, makanlah!” perintahku sambil menyodorkan sepiring penuh makanan.

Dia langsung menyambarnya dan memakannya dengan kecepatan penuh. Aku sampai heran dibuatnya. Sambil menunggu dia makan, aku melihat fisiknya secara keseluruhan. Dia seorang laki-laki. Kalau dilihat-lihat, mungkin umurnya sama denganku. Memakai kacamata yang lensanya cuma satu, entah apa maksudnya. Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan. Dan, baunya sangat menyengat. Sampai-sampai, aku harus menutup hidungku. Berapa hari dia tidak mandi?

Sekarang, aku mencoba untuk membaca pikirannya. Kupejamkan mata, dan mencoba menjelajahi pikiran orang yang didepanku. Setidaknya aku tahu namanya sebelum dia memberitahukannya. Lagi-lagi aku terkejut. Orang ini, pikirannya tidak bisa kubaca. Aku pikir mungkin karena dia sedang makan, jadi aku tidak bisa membacanya pikirannya. Ternyata tidak. Aku memang tidak bisa membaca pikirannya. Seolah-olah ada dinding yang menghalangiku untuk membaca pikiranku. Bahkan LaMu yang ada dalam tubuhku pun terheran-heran. Kalau aku tidak bisa membaca pikiran orang ini, berarti dia lebih kuat dari aku. Siapa dia sebenarnya?

“Fiuhh!Aku kenyangg! ‘Makasih, ya! Kamu baik sekali mau memberiku makan!”

Aku terus menatapnya dengan pandangan curiga.

“Oh, ya! Aku belum memperkenalkan diriku. Mulai dari mana ya enaknya? Ahh, mulai dari namaku saja, ah!”

Aku cuma berpikir, orang ini bodoh apa gila?

“Wahh, maaf dari tadi ngomongnya ngelantur. Baiklah, namaku Randalph, Randalph Svenson. Umurku 18 tahun, masih single lho! Aku suka sekali makanan yang manis-manis. Hobiku adalah tidur siang!!”

“Profesi?”

“Maaf?”

“Profesimu apa, dan apa yang kau lakukan didepan rumahku tadi?” tanyaku dengan sinis.

“Waah, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Aku ini orang baik-baik kok! Yah, karena kamu tanya profesiku, aku akan beritahu jawabannya. Profesiku sama sepertimu”.

“Apa? Kau juga VH?”

“Yup!”

“Darimana kau tahu profesiku?”

“Tahu dong! Kalau boleh kutebak, namamu Claude C. Evinrude. Panggilanmu Clay, kan! Umurmu 18 tahun. Sudah jadi VH selama 3 tahun. Kamu sudah memburu banyak Vampir. Dan itu membuat namamu sangat terkenal di kalangan para VH di Mardalsfossen ini. Bahkan sampai ke kota asalku, Corvus. Katanya di Mardalsfossen ada seorang VH laki-laki yang penampilannya seperti Vampir. Tapi kalau dilihat-lihat memang mirip. Penampilanmu seperti bangsawan zaman dulu” jawabnya dengan santai.

“Kau...”

“Dan, boleh kutebak lagi. Kau tadi mencoba membaca pikiranku ya?”


Aku terkejut. Pertanyaannya tepat sasaran. Dari-mana dia tahu kalau aku membaca pikirannya. Selama ini tidak pernah ada orang yang tahu kalau aku membaca pikirannya, bahkan menyadarinya pun tidak. Tapi, orang ini, orang yang bernama Randalph ini, tahu akan hal itu.

“Ke..kenapa..kamu tahu?”


“Kalau tidak mengelak, berarti benar, bukankah ada peribahasa bahwa rumput di sebelah rumah lebih hijau dari rumah sendiri. Itu artinya masih ada yang lebih kuat dari kamu ‘kan. Eh, sebenarnya apa hubungannya peribahasa itu sama hal ini yah, aih jadi malu. Nilai bahasaku jelek sih!He..he..he..”jawabnya sambil tertawa-tawa.

Terus terang aku sama sekali tidak suka. Aku bertanya dengan serius, dia malah tertawa-tawa. Dia pikir aku ini siapa?


“Kamu meremehkan aku ya? Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku, malah menjawab berbelit-belit, bahkan tidak ada hubungannya!” tanyaku sambil menahan emosi.


Dia cuma terdiam. Lalu tersenyum lagi.

“Clayy…aku sudah bilang ‘kan, di dunia ini masih banyak yang lebih kuat daripada kamu. Membunuh banyak Vampir bukan jaminan kuat tidaknya seseorang, walaupun kamu menjalin persekutuan dengan Vampir legendaris, yang namanya…aduh, kok lupa yah! Ngg…tunggu sebentar…namanya kalau tidak salah… LaMu ‘kan?! “

Lagi-lagi aku terkejut, darimana dia tahu semua itu? Perkataan orang ini menandakan seolah-olah dia bisa menembus pikiranku, sama seperti yang sering kulakukan pada musuh-musuhku.

“Boleh kulanjutkan lagi? Ngg kamu melakukan itu semua karena ingin tahu penyebab tewasnya orangtuamu. Yah, sebenarnya dendam itu tidak baik, tapi adakalanya itu bisa membuat kita bertahan hidup. Lagipula kehidupanmu selama di Balkhas dan juga Mardalsfossen sudah sangat keras. Ah, maaf ini pertemuan kita yang pertama, dan aku sudah ngomong yang macam-macam…”

Brakkk!!

Aku menggebrak meja dengan tanganku. Aku marah sekali. Belum pernah ada orang yang tahu masa laluku dengan sedetil itu.

“Kamu!! Aku bertanya kenapa kamu tahu? Daritadi kamu memberitahukan tentang masa laluku. Belum ada yang tahu sampai sedetil itu, kecuali LaMu saja. Darimana kamu tahu?!!”

Dia hanya diam sambil menatapku.

“Kenapa diam saja?? Jawaab!!” teriakku marah. Aku belum pernah sampai semarah ini. Tapi, kemudian dia tersenyum melihatku.Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya.

“Maaf, kalau aku berbicara sampai sedetil itu. Kamu mau tahu Clay, kenapa aku bisa tahu bahkan masa lalumu yang berusaha kamu sembunyikan ?”

“Apa?”

“Sederhana saja, sama sepertimu yang bisa membaca pikiran orang lain, aku juga bisa melakukannya, tapi lebih spesifik lagi, seperti apa yang telah dia lakukan di masa lalu atau apa yang terjadi dengannya di masa depan…”.

“Kamu…mustahil, kemampuan itu sangat langka sekali ‘kan. Jangan-jangan kamu bisa membaca nasib orang..?”

“Tingtong!! Anda benar!! Tapi, sayang nilainya cuma 75. Aku memang bisa membaca nasib orang , caranya adalah dengan menyentuh orang itu. Kalau masa lalu aku memang sering melihatnya. Tapi kalau melihat masa depan, itu tergantung aku ingin melihatnya atau tidak.

Ah,ya, mungkin juga kamu bertanya-tanya kapan aku melihat masa lalumu. Sebenarnya, aku melihatnya waktu kamu menggotongku masuk ke dalam rumah. Walaupun hanya sebentar, itu sudah cukup bagiku untuk melihat apa yang terjadi pada masa lalumu. Sekali lagi, aku minta maaf, hal itu memang sering terjadi padahal aku tidak menginginkannya.

Lalu…, masalah mengapa kamu tidak bisa membaca pikiranku, itu juga sederhana saja sebenarnya, aku sengaja menutup pikiranku, supaya kamu tidak bisa membacanya. Itu saja, sudah cukup ‘kan?!”

“Kenapa?”

“Ya?”

“ Ini tidak adil sama sekali?! Kamu tahu semua masa laluku, tapi, aku tidak bisa membaca pikiranmu!! Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari semua ini. Sampai-sampai kamu berada di depan rumahku dengan perut yang sama sekali tidak terisi”.

“Ha..ha..ha..jadi malu karena sudah merepotkan. Menurutmu ini tidak adil yah, tapi sudah kubilang dari awal kan?! Aku tidak berniat ingin membaca masa lalumu, itu semua tiba-tiba terlintas di pikiranku begitu saja. Lagipula aku juga tidak mau orang tahu masa laluku, soalnya masa laluku lebih menyedihkan daripada masa lalumu”.

Dia menjawab pertanyaanku dengan ekspresi sendu. Aku tahu, dia sebenarnya tidak ingin tahu masa laluku, tapi mau tidak mau hal itu akan terlihat juga olehnya.

“Aku mengatakan itu semua dengan harapan kamu mau bekerja sama denganku”.

“Kerja sama?”

“Yup, kalau kita bekerja sama, pekerjaanmu jadi akan lebih mudah, bukan?”

“Maaf, aku tidak butuh partner, aku bisa melakukannya sendirian tanpamu!”

“Hei, ayolah!! Ini sebagai tanda terimakasihku karena sudah diberi makan. Lagipula aku juga minta maaf karena sudah mengungkit-ungkit masa lalumu. Bagaimana, aku ini cukup kuat loh!! Aku nggak akan merepotkan kamu kok, lagian aku juga butuh uang!”

Aku diam, sambil mencoba untuk mempertimbangkan ajakannya. Dia bisa membaca masa laluku dengan mudahnya, lagipula dia sanggup membentengi pikirannya dariku, pasti dia bukan orang biasa.

“Baiklah, ngg siapa tadi namamu?”

“Randalph!”

“Yah, Randalph, akan kucoba untuk berpartner denganmu”,jawabku. Hmm, siapa tahu aku bisa menjajal kemampuannya suatu hari. Aku ingin tahu, sekuat apa dia.

“Waa..syukurlah! Akhirnya kamu mau juga! Mm, tapi harap kamu ingat satu hal. Aku ini orangnya bebas. Nggak suka terikat sama orang lain. Jadi, kamu bisa menerima kan, kalau suatu saat aku akan pergi?”

Tidak masalah, aku sudah sering sendirian. Kamu mau pergi kapan saja terserah. Tapi, tentu saja setelah aku tahu sekuat apa dirimu, Randalph.

“Baiklah, aku terima!”

“Sipp!! Kapan kita mulai kerja ? Aku sudah siap nih!!. Oh, ya bolehkah aku pinjam kamar mandi. Ah, tenang saja, aku bawa baju kok, tidak usah dipinjami. Lagipula, pasti tidak cukup. Eh, kamu pasti terganggu dengan bau badanku ya?! Maaf, habis aku tidak mandi selama dua bulan sih, jadi malu, he..he..he.. Sudah dulu ya, aku mau mandi dulu!”

Aku hanya bisa terpaku melihat cara bicaranya. Gila! Darimana dia punya kemampuan untuk bicara layaknya senapan mesin . Aku sendiri, tidak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Ngomongnya banyak sekali.

Belum mandi dua bulan? Ufhh, kalau aku mana tahan tidak mandi selama itu, minimal,aku bisa tahan tidak mandi selama seminggu atau 5 hari. Tapi dia, dua bulan. Pantas baunya benar2 menyengat.

Benar-benar cowok yang ajaib dan aneh. Aku tak sadar bahwa pertemuanku dengan Randalph, akan mengubah segalanya...

****

Dan, apa yang akan terjadi pada Clay selanjutnya setelah kedapatan Randalph? Tunggu kelanjutan ceritanya di Part 3. Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.

Kamis, 30 Mei 2013

When He Smile : Bab 1

   When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D



 Pagi itu terasa dingin. Pelan-pelan kubuka mataku. Kubuka jendela kamar, dan kuhirup udara pagi. Segar sekali. Sudah 6 bulan sejak Randalph meninggalkan Mardalsfossen dan pergi ke Alcarta. Ah, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Claude Claire Evinrude. Nama tengahku sangat aneh bukan. Aku diberi nama seperti anak perempuan, padahal aku laki-laki. Yang jelas nama ini adalah pemberian orangtuaku. Walau begitu aku suka nama ini. Aku biasa dipanggil Clay. Usiaku 22 tahun. Aku adalah pemimpin dari organisasi Vampire Hunter di Mardalsfossen, yang bernama LETFRANT.

    Ketika aku melihat keluar, ada seorang anak kecil yang berjalan-jalan dengan orangtuanya. Mereka tampak bahagia sekali. Keluarga… Sudah 12 tahun aku tidak menjumpai kata itu dalam hidupku. Melihat mereka, tiba-tiba, aku jadi teringat semua kejadian di masa laluku. Dua belas tahun yang lalu, ketika aku masih belum mengenal kerasnya dunia…

~ Peanville , 12 tahun yang lalu~   

  Entah kenapa, hari ini Mama dan Papa bersikap aneh sekali. Tidak seperti biasanya, begitulah pikirku. Mama yang biasanya ceria, sekarang menjadi diam. Papa yang biasanya selalu mengajakku bercanda juga diam saja. Ada apa dengan kalian berdua? Kalian marah padaku? Apa aku ini anak nakal?Pertanyaanku terjawab malamnya. Pukul sepuluh malam, seharusnya, anak umur 10 tahun seperti aku ini sudah tidur. Tapi papa menyuruhku untuk tidak tidur dulu. Papa mau ngomong apa ya? Waktu itu Papa cuma terdiam. Diam saja, tidak berbicara sepatah kata pun. Mama juga, hanya menundukkan wajahnya dan menangis.

“Clay...”

“I..iya, Pa?”

“Papa mau bicara”.

“Bicara apa Pa?”

 Aku bingung. Sekilas Papa seperti kehilangan kata-kata untuk bicara. Mama juga, semakin keras tangisannya. Papa menghela nafas sejenak, lalu berbicara,

 “Clay... mulai saat ini... kamu... harus... hidup sendiri...”

 Hidup sendiri? Kenapa, Papa ngomong begitu? Tapi, Papa rupanya serius, dan Mama lalu memelukku, sambil terisak-isak. Aku tidak sadar bahwa malam ini adalah malam terakhir aku bisa bersama-sama keluargaku.Sementara itu, angin di luar jendela semakin keras dan bunyinya menderu-deru. Roman muka Papa menegang, Mama berhenti menangis, tapi dia memelukku erat sekali. Aku hanya terdiam.

 Sedetik kemudian, jendela di semua rumahku pecah. Aku merasa angin yang keras dan dinginnya malam yang menusuk menerpa wajahku. Lalu, sosok-sosok yang tak kukenal masuk.Mereka, mungkin, adalah makhluk paling mengerikan yang pernah aku kenal. Wajahnya sama dengan manusia-manusia yang ada di Humavalea. Tapi wajah mereka pucat, gigi taring yang mencuat saat mereka menyeringai, sayap yang seperti kelelawar, dan jubah hitam. Sosok yang telah bertahun-tahun menjadi musuh manusia Humavalea.

 Bangsa vampir atau Varuala –nama yang mereka pakai untuk bangsa mereka-  dari kerajaan Varua.

 “Kami ingin mengambil anak itu,” kata salah seorang dari mereka dengan suara yang parau sambil menunjukku.

 Papa tiba-tiba maju ke depan. Sambil merentangkan kedua tangannya, dia hendak melindungi kami.

 “Tidak! Sampai kapanpun, anak itu tidak akan kami serahkan kepada kalian semua!!!”

 “Dalam tubuh anak itu ada makhluk yang dapat memusnahkan bangsa kami. Kami harus membunuhnya, supaya kami selamat!!”

 “Tidak!!! Itu urusan kalian sebagai bangsa Varuala. Tidak ada hubungannya dengan kami, manusia Humavalea!”

“Ternyata memang kami harus pakai jalan kekerasan!”

 Vampir-vampir itu menyerang ayahku. Kepalaku sakit sekali. Mama berusaha melindungiku, sementara Papa melawan para vampir itu. Pertarungan tak berjalan seimbang. Papa mulai menunjukkan tanda-tanda akan kalah. Sedetik kemudian, Papa menoleh ke arahku.

“Clay, maafkan Papa ya. Mulai sekarang, kamu harus bisa hidup sendiri...”

 Setelah papa berkata begitu, salah satu vampir melayangkan serangannya. Papa langsung roboh seketika. Darahnya muncrat kemana-mana, mengenai wajahku. Aku merasakan hangatnya darah diwajahku, dan juga merasa mual. Mama berteriak menyebut nama Papa. Tapi Papa, tidak akan pernah bangun lagi. Untuk selamanya…Saat itu juga para vampir melihat ke arahku, mereka hendak membunuhku! Tapi, Mama melindungiku, dan lagi-lagi aku harus melihat orang yang paling kusayangi di dunia, Mamaku, meninggal didepanku. Dan sama seperti Papa, darah Mama muncrat ke wajahku.

 Aku tidak tahu harus bagaimana, dunia rasanya berputar begitu cepat. Kupanggil nama Papa dan Mama sambil menangis. Tapi aku tahu itu semua tak ada gunanya. Mereka telah merampas semuanya dariku.Saat ini tidak ada yang membentengiku. Aku sendirian, diantara vampir-vampir ganas, yang setiap saat siap membunuhku. Melihat pandangan mereka dan juga darah yang menggenang di lantai, aku jadi mual. Ini saat terburuk didalam hidupku. Aku akan mati,pikirku.Vampir-vampir itu rupanya masih belum puas. Mereka lalu menyerangku, tapi untungnya, serangan mereka hanya sedikit mengenaiku. Tapi aku terluka.

 Sakit! Darahku keluar!Rasanya isi perutku keluar semua!Rupanya mereka semakin tidak puas. Salah satu dari mereka menyerangku. Dan tepat sasaran! Habis sudah! Aku sudah pasti akan mati. Sebentar lagi aku akan menyusul Papa dan Mama. Perlahan-lahan, aku mulai hilang kesadaran.Tapi, justru pada saat itulah, aku merasa ada yang menolongku. Setengah tak sadar, aku mendengar vampir-vampir itu berteriak kesakitan.

 Masa sih sudah pagi? Ah, nggak mungkin! Ini masih malam, tapi apa yang menyebabkan mereka berteriak kesakitan seperti itu? Semuanya mendadak jadi gelap.

 Saat aku tersadar aku sudah ada di rumah sakit. Aku bertanya pada perawat apa yang sedang terjadi.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku disini?”tanyaku“

Tenang saja, ya, Nak! Kamu aman disini” jawab perawat itu.

“Tapi, aku ingin tahu, siapa yang membawaku kesini? Lalu.. mana kedua orangtuaku...?”

“Tetanggamu yang membawamu kesini. Kamu satu-satunya yang selamat. Orangtuamu sudah meninggal. Mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi...”

 Aku tahu itu. Tidak perlu dijelaskan lagi. Perawat itu meletakkan bunga di kamarku. Saudara-saudaraku mengunjungiku silih berganti. Ada juga yang menawarkan untuk mengangkatku sebagai anak.Tidak! Buat apa? Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tidak mau. Biarkan aku sendiri. Aku tidak mau melihat orang mati lagi. Melihat darah saja aku sudah mual.Setelah mereka semua pergi, aku menangis sejadi-jadinya. Dalam hatiku aku berjanji, ini, adalah tangisanku yang terakhir. Mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak akan menangis lagi. Aku akan mematuhi perintah Papa. Hidup sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

 Sepulangnya dari rumah sakit, aku pergi ke makam Papa dan Mama. Harold Evinrude, itu adalah nama Papaku. Dan Marie Evinrude, itu nama Mamaku. Papa dan mama, aku, tidak akan melupakan kalian berdua. Mulai sekarang aku akan memulai kehidupanku sendiri. Aku tidak akan melupakan jasa kalian yang sudah melindungiku sampai saat-saat terakhir.Aku mengambil koporku dan mulai berjalan. Aku tahu, mungkin sulit untuk anak umur 10 tahun mengambil jalan ini. Tapi aku yakin aku bisa. Dan aku pun berjalan, meninggalkan Peanville. Selamat tinggal rumahku, selamat tinggal kenangan, dan juga selamat tinggal Papa dan Mama.



******~ Balkhas, 3 tahun kemudian~

 Balkhas, ibukota Humavalea, satu-satunya tempat harapan manusia dan juga benteng yang dibuat untuk mengatasi serangan Varua. Balkhas, dikenal juga sebagai VH City, kota para pemburu vampir. Hal itu dikarenakan ada banyak sekali organisasi pemburu vampir yang berpusat di Balkhas. Disini pula, aku terdampar, diantara para calon VH akulah yang paling muda. Dan juga yang paling cantik. Aku sadar, walaupun aku laki-laki, wajahku seperti perempuan.  Banyak sekali laki-laki yang menggodaku, bahkan ada yang minta kencan segala!

 Yang benar saja!Memangnya mereka anggap aku ini apa? Aku ini normal. Bukan gay.Tentu saja pasti ada yang bertanya kenapa aku yang masih sangat muda ini (umurku 13 tahun) memutuskan untuk jadi VH. Jawabannya sangat sederhana sekali. Membalaskan kematian kedua orangtuaku. Alasan yang klise. Tapi itu juga yang mampu menopangku sampai saat ini. Bertahan di kehidupan kota Balkhas yang sangat keras dan mengikuti ujian VH yang ketat.

 Suatu hari…

 “Hey, Clay! Kalau aku perhatikan kamu tidak punya senjata. Kamu cuma mengandalkan tangan kosong dalam pertarungan! Tapi, kok bisa ya kamu lolos sampai disini?” tanya salah seorang calon VH.

 Aku cuma tertawa dalam hati. Dia tidak tahu, bahwa selama tiga tahun ini aku sudah mengasah kemampuanku. Hidup sebagai anak jalanan di Balkhas, telah mengajarkan aku bagaimana caranya bertahan hidup di kota keras. Cuma orang bodoh yang akan putus asa menghadapi itu semua. Tapi aku tidak. Demi kedua orangtuaku.

  “Dasar bodoh!! Itu semua bukan urusanmu!!” jawabku dengan ketus.   

  Aku bisa melihat kalau dia marah kepadaku. Sampai-sampai wajahnya merah. Lalu, dia menarik kerah bajuku, dan berkata,

 “Apa maumu anak sialan?! Kau mau menantangku ya!! Sudah namamu aneh pula. Apa itu Claire? Seperti anak perempuan. Yah, kalau lihat penampilanmu, memang pantas sih!” teriaknya sambil mengacung-acungkan tangannya.

 Aku cuek. Biar saja dia mau berbuat apa, aku sudah tidak peduli lagi. Dia semakin kesal padaku dan berniat memukulku. Untung saja Oracle Ujian VH datang dan melerai kami.

 “Awas kau!! Akan kubalas nanti!!” ancamnya. 

 Aku tidak takut!

 Malamnya, aku pulang ke rumah. Sebenarnya tidak dapat disebut rumah. Hanya lorong sempit. Tapi itu sudah cukup nyaman bagiku. Memang mula-mula tidak terbiasa, karena aku biasa tidur di kasur yang empuk, ditemani nyanyian ninabobo dari mama. Tapi, sekarang hanya dengan beralaskan tikar dan ditemani suara binatang malam, itu saja sudah cukup enak.

 “Kyaa!!!!”

 Tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan minta tolong. Aku bergegas pergi ketempat asal teriakan itu. Sampainya disana aku melihat seorang wanita dan juga seorang vampir. Vampir itu rupanya hendak menghisap darah wanita itu. Melihat vampir itu, darahku mendidih. Amarahku memuncak. Bayangan kelam 3 tahun lalu, dimana kedua orangtuaku tewas karena bangsa vampir melintas di benakku. Tanpa ancang-ancang, aku langsung memasang kuda-kuda.Kalau dipikir-pikir benar apa yang telah dikatakan salah seorang calon VH itu kepadaku. Aku hanya mengandalkan tangan kosong dalam bertarung. Aku tidak punya senjata. Dan anehnya selalu bisa lolos dalam ujian, mungkin bisa dibilang itu faktor keberuntungan.

 “Cepat pergi dari sini!!” perintahku pada wanita itu.

 “Te..te..terimakasih...”, jawab wanita itu.

 “Cepaattt!!”

 Wanita itu, dengan tergesa-gesa, segera pergi. Aku mulai berniat menyerang. Vampir itu kelihatannya sudah tua. Tapi aku harus berhati-hati.Aku mulai menyerang. Dan seperti dugaanku, vampir itu ternyata gesit sekali dan aku mulai kehabisan tenaga untuk menyerangnya. Sesekali vampir itu mengejekku,

 “Kasihan sekali kamu anak muda. Kamu yang masih bau kencur ini mau melawanku yang sudah tua ini. Kami bangsa Varuala jauh lebih hebat dari kalian. Ha..ha..ha..lupakan saja..!”

 Sialan!! Dia pikir aku ini lemah. Tapi, memang, lama-kelamaan aku semakin lemah dan tidak kuat lagi. Dia terus memukulku sampai aku babak belur dan tidak sanggup bangkit.Saat itu aku merasakan hal yang sama dengan 3 tahun yang lalu. Waktu para vampir yang menyerangku itu berteriak kesakitan. Teriakan yang tak kupahami apa maksudnya. Dan hal itu sekarang terulang kembali.

 Sosok makhluk yang tak kukenal sedang berdiri didepanku. Aku tidak bisa mendeskripsikan makhluk itu dengan jelas. Hanya, mungkin dia seperti monster. Makhluk itu menyerang vampir tua itu dan dia tidak butuh waktu yang lama untuk memusnahkan Vampir itu.Sebelum musnah Vampir itu meneriakkan kata “LaMu”.Aku yang melihat itu takjub. Dan kemudian pingsan, karena rupa-rupanya aku sudah tidak kuat lagi. Hanya beberapa saat saja, setelah aku pingsan, aku tersadar kembali. Dan sosok yang dipanggil LaMu itu berdiri tepat dihadapanku.

 “Wah, sudah sadar ya! Lama sekali pingsannya!”

 Aku terperanjat. Suaranya menggema di telingaku. Aku mulai waspada. Dan juga mulai bertanya-tanya, apakah makhluk ini yang telah menolongku 3 tahun yang lalu.

 “Kamu...siapa...?”tanyaku.

 "Haahh!! Masa kamu tidak tahu? Aku “LaMu” Vampir paling legendaris. Tapi tentu saja aku tidak bisa disamakan dengan Vampir rendahan dari Varua itu. Mereka bahkan tidak layak menyebut diri mereka vampir. Varuala? Ha,ha,ha, aku baru dengar nama itu. Mereka mencoreng nama besar kami para vampir sesungguhnya”

  “Kamu...Vampir…Apa maksudmu mereka tidak layak disebut vampire? Lalu, vampir sesungguhnya?” Sadar bahwa yang berdiri didepanku adalah vampir, aku langsung berniat melawannya. Tapi, langkahku terhenti!

 “Ha..ha..ha…Jangan terburu emosi dong!! Dasar tidak sabaran. Banyak sekali pertanyaanmu, tapi aku tidak berkewajiban menjawabnya. Aku sudah menghentikan gerakanmu. Kalau ingin melawanku dan mendapatkan jawabannya, kuberi waktu 3 hari. Pulihkan dulu lukamu, baru kita bertarung lagi. Tiga hari lagi, ingat!!”

 Dia lalu menghilang ditelan kegelapan. Aku hanya terdiam. Tiga hari, waktu yang cukup untuk memulihkan lukaku dan juga mencari tahu siapa LaMu yang sebenarnya.Setelah aku pulih, aku berusaha mencari hal-hal yang berkaitan dengan LaMu. Aku sudah bertanya kesana kemari kepada Oracle. Tapi nihil. Mereka tidak pernah mendengarnya. Sesekali aku bertemu dengan orang yang telah mengejekku dulu, tapi kubiarkan saja.Lalu, aku pergi ke perpustakaan. Disana aku mencari buku yang mengupas tentang LaMu. Setelah berjam-jam, akhirnya aku mendapatkan buku tentang itu, lalu aku membacanya,

 “LaMu adalah Vampir legendaris dan mungkin merupakan Vampir terkuat yang pernah ada, bahkan konon kekuatannya melebihi bangsa Vampir atau varuala dari Varua. LaMu adalah vampir dari clan Chirovant yang disebut-sebut merupakan cabang dari keluarga Vlad Tepes, vampir legenda yang ada di  Transylvania. Kekuatannya adalah sanggup memanggil hewan-hewan kegelapan seperti Cerberus, anjing neraka, dan Manx, kucing paling buas di Varua. Tiga ratus tahun yang lalu clan Chirovant dimusnahkan oleh pemburu Vampir dari keluarga Evinrude, yang bernama Ruben Evinrude, akibat perbuatan mereka  menyerang Varua Empire yang mengakibatkan jatuhnya jutaan korban, tidak hanya para varuala tetapi juga manusia-manusia tidak berdosa. Namun hanya LaMu yang tidak dibunuh. LaMu membuat perjanjian dengan Ruben. Ruben boleh memakai kekuatannya. Sebagai gantinya jika Ruben mati, LaMu boleh memakan tubuh Ruben untuk menambah kekuatannya. Kejadian penyerangan klan Chirovant kepada Varua Empire disebut dengan Bloody Road Tragedy, yang sekaligus juga mengawali gencatan senjata antara penguasa Varua Empire dan pemerintah Humavalea…”

 Aku hanya terpaku melihat uraian buku itu. Jadi, keluargaku ada hubungannya dengan LaMu. Lalu aku mulai menyimpulkan, mungkin para Vampir itu memburuku karena LaMu, dendam lama karena pembantaian vampir oleh klan Chirovant. Tapi benar tidaknya aku harus memastikannya sendiri pada LaMu.Hari ketiga pun tiba. Aku bertemu dengan LaMu ditempat yang sudah dijanjikan.

 “Sudah siap, ya?” tanya LaMu.

  “Jika kau menghendaki”,jawabku.

 Kami berdua lalu bertarung. Mulanya aku diatas angin. Tapi lama kelamaan, LaMu mulai memegang kendali pertarungan. Dan aku tahu, pertarungan tak berjalan seimbang.

 “Sudahlah!! Akhiri saja!! Lemah begitu!!”

 Aku tidak mau menyerah. Enak saja, masa aku berhenti ditengah-tengah jalan. Dendamku sama sekali belum terbalaskan. Aku menyerang LaMu dengan jurus tangan kosong.

 “Wah, masih ngotot juga. Bagaimana kalau kucoba melakukan sesuatu...”LaMu berkelit dari seranganku. Dan tiba-tiba saja dia sudah ada di belakangku. Aku menyerangnya. Sesaat aku lengah, dan LaMu melakukan hal yang tak pernah kuduga. Dia memutuskan kedua tanganku.

 “Aaarrrgghhh!!!”

 Sakit sekali rasanya. Ingin aku memegang kedua tanganku yang kesakitan. Tapi, bagaimana bisa? Kedua tanganku sudah diputusnya. Darah mengalir dari lenganku dan lagi-lagi aku merasa mual.

 “Wa..ha..ha..ha..Masa segitu saja sudah sakit! Ayo lawan aku dong! Ruben saja tidak selemah kamu!”

 Amarahku sudah tidak tertahankan. Aku lalu berteriak,

 “Semuanya karena kamu!!! Karena kamu, orangtuaku harus meninggal. Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyangku Ruben terhadapmu. Tapi aku tidak terima dengan semua ini.  Mengerti ‘kan kamu!!!!”

 LaMu hanya terdiam. Lalu dia menjawab,

 “Memangnya itu urusanku? Aku hanya berusaha menepati perjanjian yang telah aku buat dengan Ruben. Sebelum Ruben mati, dia mengatakan kepadaku untuk menjadi pelindung keluarga Evinrude. Aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Mestinya kamu tidak menyalahkanku. Aku sudah melindungimu waktu itu. Masalah kematian orangtuamu itu, seharusnya kamu bisa berpikir dengan jernih!!!”

 Aku cuma diam. Memang benar, kalau LaMu tidak ada,mungkin aku tidak akan berada di tempat ini. Walaupun begitu, aku tidak akan menyerah. Aku berusaha untuk berdiri dan menyerang LaMu. Kalau tidak bisa dengan tangan, pakai kaki. Kata-kata itu kudapat dari seorang oracle, dan baru kali ini, aku berterima kasih pada orang lain.LaMu tampak terdesak. Dia tidak menyangka bahwa aku bisa menyerang walaupun tanganku putus. Rupa-rupanya LaMu berniat untuk memutuskan kedua kakiku. Niat LaMu itu tidak akan kubiarkan dan dengan satu gerakan yang cukup lincah, aku berhasil mengalahkan LaMu.

 “Sekarang kau kalah LaMu!”LaMu terdiam, lalu tersenyum licik.

“Ya,ya,ya, aku mengaku kalah! Kau memang hebat Clay! Superior!”

“Kembalikan kedua tanganku!”

“Hmm, aku tidak janji”.

“Apa, kau bilang? Kembalikan kedua tanganku!!”

“Oh, jadi kamu masih butuh kedua tanganmu, ya. Begini saja bagaimana kalau kita buat perjanjian”.

“Perjanjian?”

“Ya, sama seperti Ruben dulu. Begini, kau boleh memakai kekuatanku dan aku akan mengembalikan kedua tanganmu, tapi tentu saja tidak sempurna. Lalu sebagai gantinya, kalau kau mati nanti, aku boleh memakan tubuhmu”.

“Apa maksudmu? Apa kau berniat membohongiku? Apa yang kau maksud dengan tidak sempurna”.

“Tidak, tidak, bukan begitu. Aku tertarik dengan keteguhan hatimu itu, Clay. Kalian berdua sama, tidak menyerah sampai akhir dan menggunakan segala cara yang ada untuk mengalahkan lawan. Tapi..ada satu perbedaan. Kau dikuasai dendam...”

 Sesaat, aku tak mampu berkata-kata.

 “Aku harus menepati janjiku, karena kalau tidak tanganmu itu akan tidak berfungsi lagi. Lagipula menurutku, kau adalah orang yang menarik. Nah, ambillah perban yang ada di dekatmu itu”.

 Aku melihat ke arah yang ditunjuk LaMu. Sedetik kemudian aku tahu kalau dia, malah menggodaku.

 “Bodoh!! Bagaimana aku bisa mengambilnya?”

“Wah, iya, ya, aku lupa kamu tidak punya tangan,” sahut LaMu sambil tertawa-tawa.

 Aku jadi sebal melihatnya. Dengan satu gerakan, perban itu melayang, dan membungkus kedua lenganku, sampai menyerupai bagian yang telah dipotong oleh LaMu.Aku menggerak-gerakkan “kedua tangan baru”ku. Rasanya seperti tangan sungguhan.

 “Bagaimana? Cukup nyaman bukan? Lalu perjanjian itu kau mau menerimanya?”

 Aku terdiam. Tidak ada salahnya untuk dicoba

 “Ayolah, dengan kekuatanku kamu bisa mengalahkan Vampir dengan mudah dan membalaskan dendammu. Lagipula saat ini kamu tidak punya senjata ‘kan!”

 Aku menjawab dengan tegas,”Aku setuju!”

 LaMu memandangku.“Aku setuju! Kita bekerja sama!”

 LaMu hanya tersenyum. Lalu berkata, “Keputusan yang bagus”

 “Tunggu sebentar!!’“seruku.

 La Mu menoleh ke arahku, "Ada apa lagi?”

 “Kau belum menjawab pertanyaanku!”

 “Oh, itu! Kurasa aku pernah mengatakannya, aku punya hak untuk tidak menjelaskan yang sesungguhnya kenyataan dibalik pertentangan manusia Humavalea dan Varua Empire, juga kenyataan kenapa klan kami begitu membenci Varua Empire. Ada kalanya kita tidak perlu tahu sesuatu,  dan kenyataan akan terhampar di depan mata kita ketika sudah waktunya”

 Sosok LaMu lalu menghilang dan berubah menjadi sebuah sinar merah yang cukup menyilaukan. Sinar itu lalu masuk ke dalam tubuhku, dan meninggalkan tato aneh di lenganku.

 “Mulai sekarang aku akan selalu berada di dalam tubuhmu untuk mengawasimu. Tapi ingatlah hal ini Clay, dengan adanya kekuatanku di dalam tubuhmu, kamu akan jadi pembunuh. Kamu harus siap dengan kenyataan itu! Dan berbanggalah, ternyata kau cocok dengan senjata kebanggaan kami para vampir dari Chirovant, yang bahkan Ruben sendiri tidak sanggup memakainya. Senjata dewa sekaligus iblis, pedang langit Balmung…”

 Suara LaMu menghilang ditelan kegelapan malam. Aku lalu berniat untuk pulang. Namun tak disangka-sangka, orang yang mengejekku tempo hari itu mencegatku. Dia bersama beberapa temannya.

 “Hai, Clay!! Senang dapat kekuatan baru?”

“Darimana kau tahu?”

“Yah secara kebetulan aku lewat dekat sini. Aku menyaksikan pertarunganmu dengan makhluk aneh itu. Aku sempat bergetar juga melihat kejadian itu. Tapi, rupanya kamu sudah punya tangan yang baru ya!”

“Bukan urusanmu!”

“Eitt!! Tunggu dulu! Bagaimana kalau kau ujicoba kekuatanmu itu, hmm?!”

“Boleh saja!” prinsipku, jangan pernah lari dari tantangan

“Baiklah teman-teman, ayo kita maju bersama-sama!”

 Mereka banyak, dan aku sendiri. Tapi entah kenapa aku merasa tidak gentar sama sekali. Justru sebaliknya aku sangat percaya diri. Aku membalas semua serangan mereka dengan mudahnya. Mereka rupanya tidak puas, dan terus menyerangku.Untuk mempersingkat waktuku, aku melepas perban pada tanganku. Mulanya tidak ada apa-apa, dan kulihat mereka kebingungan. Lalu, sejumlah sulur-sulur yang seperti otot, bergerak dari pangkal tanganku yang putus. Saling sambung menyambung membentuk tangan baru, yang tidak bisa disebut tangan. Bentuk yang sangat aneh, pikirku. Lalu, tangan kananku mengeluarkan sinar, membentuk aksara-aksara aneh yang tidak kumengerti. Setelah itu, muncul pedang, dari telapak tanganku.

 Pedang yang aneh, tapi indah, sekaligus jahat. Aku tergetar. Pedang ini penuh dengan kekuatan. Kekuatan yang selama ini kuinginkan.Kuayunkan pedangku kepada mereka. Kena, dan mereka langsung terjerembab semuanya. Aku pikir mungkin mereka hanya pingsan saja, terkena luka gores, karena aku tidak sungguh-sungguh membunuh mereka.

 Tapi ternyata tidak.Mereka semua mati. Darah mengalir dari tubuh mereka. Mendadak aku merasa pusing. Aku muntah. Kejadian ini mengingatkanku pada 3 tahun lalu. Tapi yang terkapar adalah orang-orang ini, bukan orangtuaku, dan pembunuhnya bukan para vampir, tapi aku sendiri.Aku sudah jadi pembunuh. Dengan tanganku ini aku sudah membunuh orang. Aku jadi teringat dengan kata-kata LaMu. Membuat perjanjian dengannya berarti telah mengubah hidupku untuk menjadi pembunuh!!

 Aku lalu berlari, berlari dan berlari. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi. Hatiku serasa goyah. Aku tidak punya pegangan lagi. Aku sudah jadi pembunuh.  Pembunuh! Tapi, aku teringat sesuatu. Dendamku! Benar! Sekarang tak apa-apa aku menjadi pembunuh. Yang penting aku punya kekuatan untuk membasmi para Vampir itu dan membalaskan dendamku.

 Aku berjalan dengan gontai, meninggalkan kota Balkhas. Meninggalkan ujian untuk menjadi VH. Aku muak dengan kota ini! Aku muak dengan semuanya, bahkan diriku sendiri! Aku tidak peduli lagi dengan hidupku…

Pergi…

Pergi…

Pergi…

Tanpa pernah kembali…

Karena hatiku sudah mati...


Bab 2 akan saya posting, semoga aja sih minggu depan, hehehe. Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.