Rabu, 03 Juli 2013

When He Smile : Bab 2

 

 When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D

Maaf karena menunggu lama untuk Part 2nya ^^". Silakan baca part 1 cerita ini di link ini :)


~Mardalsfossen, 5 tahun kemudian

Mardalsfossen, benteng pertahanan manusia Humavalea yang kedua setelah Balkhas. Disini juga banyak VH. Hanya bedanya, jika di Balkhas profesi ini dipandang sebelah mata, walaupun Balkhas disebut-sebut sebagai VampHunt City, di Mardalsfossen, VH adalah profesi yang paling diidam-idamkan, karena masyarakat berpendapat profesi VH adalah profesi yang sangat mulia.

Mengapa mereka berpendapat seperti itu? Sederhana saja, para VH adalah penolong manusia. Mereka membasmi semua Vampir yang mengganggu manusia. Hal itu wajar saja. Jumlah VH di Mardalsfossen tidak begitu banyak dibandingkan dengan Balkhas yang merupakan VH City. Jadi, para Vampir lebih bebas berkeliaran di Mardalsfossen daripada di Balkhas.

Di Mardalsfossen juga, aku menggantungkan hidupku. Sudah lima tahun sejak aku bertemu dengan LaMu dan meninggalkan Balkhas. Disini aku sudah menjadi VH dan tak terhitung berapa jumlah Vampir yang sudah kubunuh, membuat pamorku menjadi naik di mata para VH. Dan tentu saja aku masih tetap seorang “pembunuh”.

Hari ini, aku sedang jalan-jalan di pusat kota Mardalsfossen untuk membeli bahan makanan. Walaupun aku ini pembunuh, pembunuh juga butuh makan, supaya dia bisa tetap hidup. Tidak mungkin aku mengharapkan seseorang akan membunuhku karena dosaku. Dan juga tidak mungkin aku menunggu orang itu sekian lama tanpa ada secuilpun roti yang masuk kedalam perutku.

Di Mardalsfossen, aku merasa sedikit nyaman. Suasana disini memang sangat menyenangkan. Tidak seperti di Balkhas, yang ada cuma kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, persaingan, dan segala macam hal yang akan membuat manusia merasa putus asa, jika dia tidak mampu melampaui semuanya.

Tahun ini usiaku 18 tahun. Walaupun tubuhku seperti laki-laki, tinggi dan tegap, tapi wajahku semakin cantik saja seperti perempuan. Dan, rambutku yang bewarna pirang juga kupanjangkan. Sehingga, jika orang melihatku hanya dari penampilan saja, maka mereka akan mengira kalau aku ini seorang wanita. Atau bahkan vampir.

Kenapa? Karena bangsa Vampir memiliki penampilan yang sangat memukau. Wajah mereka yang cantik, ditambah dengan rambut pirang dan mata berwarna ungu seperti batu amethyst. Penampilanku persis seperti mereka, hanya saja warna mataku biru, dan aku tidak punya gigi taring untuk menghisap darah seperti mereka.Aku tahu apa yang mereka pikirkan terhadapku. Walaupun diluar mereka tidak bilang apa-apa, tapi dalam hati mereka menganggapku aneh.

Ah, aku lupa bilang. Aku punya kekuatan untuk membaca pikiran orang. Mirip dengan telepati, tapi sebenarnya tidak. Telepati memungkinkan kita untuk membaca dan berkomunikasi melalui pikiran dengan orang lain. Tapi membaca pikiran orang lain hanya membaca pikirannya saja, tapi tidak berkomunikasi dengannya, seperti halnya telepati.

Aku mendapat kekuatan ini dari LaMu. Kuakui, hal ini cukup membantuku, karena aku bisa menebak apa yang lawan pikirkan, dan mengambil satu langkah kedepan untuk mengalahkan lawan. Tapi, disatu sisi, kekuatan ini membuatku tertekan. Coba kau pikirkan ketika kau sedang membaca pikiran temanmu, lalu temanmu itu ternyata membencimu, apa hal itu tidak membuatmu sakit?

Begitu juga denganku. Selama 5 tahun ini, banyak hal yang kualami. Dan itu semuanya, tidak begitu baik. Beberapa kali aku dikhianati temanku sendiri. Banyak sekali alasan mereka untuk mengkhianatiku. Kebanyakan mereka iri pada kekuatanku dan juga takut padaku.

Aku tak butuh partner! Aku bosan dikhianati terus. Karenanya, mulai saat itu dan sampai sekarang, aku selalu curiga pada semua orang. Sulit bagiku untuk mempercayai seseorang. Dan hal itu, membuat aku tidak punya teman satupun. Tapi itu tidak masalah bagiku. Aku memang sendirian.

Aku terus berjalan, menuju ke halte bus. Sebuah bus berhenti di depanku, dan aku segera naik. Di bus, lagi-lagi aku mendengar banyak komentar dari penumpang tentang penampilanku. Misalnya saja, “Rambutnya panjang sekali, tapi dadanya rata, dia itu cewek atau cowok sih?” atau ”Ih, penampilannya seram!” Cih, aku sudah biasa dengan semua itu.

Setelah sampai ditempat tujuan aku segera turun. Rumahku berada di pinggiran kota Mardalsfossen. Rumahku sangat sederhana dan cukup kecil, tapi asalkan itu bisa melindungiku dari hujan dan angin, itu tidak masalah. Aku berjalan menuju rumahku, dan aku melihat sesuatu.

Ada seseorang terbaring didepan rumahku. Aku kaget melihatnya. Segera saja aku berlari menuju orang itu. Lalu mendekatinya, sambil memeriksa apakah dia Vampir atau manusia.

“Akuu lapaar...”

“Haah?”

“Kau punya makanaann...?”

“Kamu siapa?”

Dia menarik bajuku lalu berkata, “Heii...akuu sangatt lapaar sekalii...Beri aku makaann..”

“I..I..Iya..”, jawabku sambil membetulkan kaosku yang tadi ditarik olehnya. Sepertinya dia manusia, dan bukan Vampir. Aku menggotongnya masuk ke rumah. Mendudukkannya di kursi, lalu membuka kulkas. Masih ada sisa makanan tadi malam.Aku akan menghangatkannya.

“Tunggulah sebentar!”

“Toloongg yangg cepaat yaa....”

Gawat, sepertinya dia benar-benar kelaparan. Aku tidak mau ada orang yang mati kelaparan dirumahku.

“Ini, makanlah!” perintahku sambil menyodorkan sepiring penuh makanan.

Dia langsung menyambarnya dan memakannya dengan kecepatan penuh. Aku sampai heran dibuatnya. Sambil menunggu dia makan, aku melihat fisiknya secara keseluruhan. Dia seorang laki-laki. Kalau dilihat-lihat, mungkin umurnya sama denganku. Memakai kacamata yang lensanya cuma satu, entah apa maksudnya. Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan. Dan, baunya sangat menyengat. Sampai-sampai, aku harus menutup hidungku. Berapa hari dia tidak mandi?

Sekarang, aku mencoba untuk membaca pikirannya. Kupejamkan mata, dan mencoba menjelajahi pikiran orang yang didepanku. Setidaknya aku tahu namanya sebelum dia memberitahukannya. Lagi-lagi aku terkejut. Orang ini, pikirannya tidak bisa kubaca. Aku pikir mungkin karena dia sedang makan, jadi aku tidak bisa membacanya pikirannya. Ternyata tidak. Aku memang tidak bisa membaca pikirannya. Seolah-olah ada dinding yang menghalangiku untuk membaca pikiranku. Bahkan LaMu yang ada dalam tubuhku pun terheran-heran. Kalau aku tidak bisa membaca pikiran orang ini, berarti dia lebih kuat dari aku. Siapa dia sebenarnya?

“Fiuhh!Aku kenyangg! ‘Makasih, ya! Kamu baik sekali mau memberiku makan!”

Aku terus menatapnya dengan pandangan curiga.

“Oh, ya! Aku belum memperkenalkan diriku. Mulai dari mana ya enaknya? Ahh, mulai dari namaku saja, ah!”

Aku cuma berpikir, orang ini bodoh apa gila?

“Wahh, maaf dari tadi ngomongnya ngelantur. Baiklah, namaku Randalph, Randalph Svenson. Umurku 18 tahun, masih single lho! Aku suka sekali makanan yang manis-manis. Hobiku adalah tidur siang!!”

“Profesi?”

“Maaf?”

“Profesimu apa, dan apa yang kau lakukan didepan rumahku tadi?” tanyaku dengan sinis.

“Waah, jangan melihatku dengan tatapan seperti itu. Aku ini orang baik-baik kok! Yah, karena kamu tanya profesiku, aku akan beritahu jawabannya. Profesiku sama sepertimu”.

“Apa? Kau juga VH?”

“Yup!”

“Darimana kau tahu profesiku?”

“Tahu dong! Kalau boleh kutebak, namamu Claude C. Evinrude. Panggilanmu Clay, kan! Umurmu 18 tahun. Sudah jadi VH selama 3 tahun. Kamu sudah memburu banyak Vampir. Dan itu membuat namamu sangat terkenal di kalangan para VH di Mardalsfossen ini. Bahkan sampai ke kota asalku, Corvus. Katanya di Mardalsfossen ada seorang VH laki-laki yang penampilannya seperti Vampir. Tapi kalau dilihat-lihat memang mirip. Penampilanmu seperti bangsawan zaman dulu” jawabnya dengan santai.

“Kau...”

“Dan, boleh kutebak lagi. Kau tadi mencoba membaca pikiranku ya?”


Aku terkejut. Pertanyaannya tepat sasaran. Dari-mana dia tahu kalau aku membaca pikirannya. Selama ini tidak pernah ada orang yang tahu kalau aku membaca pikirannya, bahkan menyadarinya pun tidak. Tapi, orang ini, orang yang bernama Randalph ini, tahu akan hal itu.

“Ke..kenapa..kamu tahu?”


“Kalau tidak mengelak, berarti benar, bukankah ada peribahasa bahwa rumput di sebelah rumah lebih hijau dari rumah sendiri. Itu artinya masih ada yang lebih kuat dari kamu ‘kan. Eh, sebenarnya apa hubungannya peribahasa itu sama hal ini yah, aih jadi malu. Nilai bahasaku jelek sih!He..he..he..”jawabnya sambil tertawa-tawa.

Terus terang aku sama sekali tidak suka. Aku bertanya dengan serius, dia malah tertawa-tawa. Dia pikir aku ini siapa?


“Kamu meremehkan aku ya? Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku, malah menjawab berbelit-belit, bahkan tidak ada hubungannya!” tanyaku sambil menahan emosi.


Dia cuma terdiam. Lalu tersenyum lagi.

“Clayy…aku sudah bilang ‘kan, di dunia ini masih banyak yang lebih kuat daripada kamu. Membunuh banyak Vampir bukan jaminan kuat tidaknya seseorang, walaupun kamu menjalin persekutuan dengan Vampir legendaris, yang namanya…aduh, kok lupa yah! Ngg…tunggu sebentar…namanya kalau tidak salah… LaMu ‘kan?! “

Lagi-lagi aku terkejut, darimana dia tahu semua itu? Perkataan orang ini menandakan seolah-olah dia bisa menembus pikiranku, sama seperti yang sering kulakukan pada musuh-musuhku.

“Boleh kulanjutkan lagi? Ngg kamu melakukan itu semua karena ingin tahu penyebab tewasnya orangtuamu. Yah, sebenarnya dendam itu tidak baik, tapi adakalanya itu bisa membuat kita bertahan hidup. Lagipula kehidupanmu selama di Balkhas dan juga Mardalsfossen sudah sangat keras. Ah, maaf ini pertemuan kita yang pertama, dan aku sudah ngomong yang macam-macam…”

Brakkk!!

Aku menggebrak meja dengan tanganku. Aku marah sekali. Belum pernah ada orang yang tahu masa laluku dengan sedetil itu.

“Kamu!! Aku bertanya kenapa kamu tahu? Daritadi kamu memberitahukan tentang masa laluku. Belum ada yang tahu sampai sedetil itu, kecuali LaMu saja. Darimana kamu tahu?!!”

Dia hanya diam sambil menatapku.

“Kenapa diam saja?? Jawaab!!” teriakku marah. Aku belum pernah sampai semarah ini. Tapi, kemudian dia tersenyum melihatku.Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya.

“Maaf, kalau aku berbicara sampai sedetil itu. Kamu mau tahu Clay, kenapa aku bisa tahu bahkan masa lalumu yang berusaha kamu sembunyikan ?”

“Apa?”

“Sederhana saja, sama sepertimu yang bisa membaca pikiran orang lain, aku juga bisa melakukannya, tapi lebih spesifik lagi, seperti apa yang telah dia lakukan di masa lalu atau apa yang terjadi dengannya di masa depan…”.

“Kamu…mustahil, kemampuan itu sangat langka sekali ‘kan. Jangan-jangan kamu bisa membaca nasib orang..?”

“Tingtong!! Anda benar!! Tapi, sayang nilainya cuma 75. Aku memang bisa membaca nasib orang , caranya adalah dengan menyentuh orang itu. Kalau masa lalu aku memang sering melihatnya. Tapi kalau melihat masa depan, itu tergantung aku ingin melihatnya atau tidak.

Ah,ya, mungkin juga kamu bertanya-tanya kapan aku melihat masa lalumu. Sebenarnya, aku melihatnya waktu kamu menggotongku masuk ke dalam rumah. Walaupun hanya sebentar, itu sudah cukup bagiku untuk melihat apa yang terjadi pada masa lalumu. Sekali lagi, aku minta maaf, hal itu memang sering terjadi padahal aku tidak menginginkannya.

Lalu…, masalah mengapa kamu tidak bisa membaca pikiranku, itu juga sederhana saja sebenarnya, aku sengaja menutup pikiranku, supaya kamu tidak bisa membacanya. Itu saja, sudah cukup ‘kan?!”

“Kenapa?”

“Ya?”

“ Ini tidak adil sama sekali?! Kamu tahu semua masa laluku, tapi, aku tidak bisa membaca pikiranmu!! Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari semua ini. Sampai-sampai kamu berada di depan rumahku dengan perut yang sama sekali tidak terisi”.

“Ha..ha..ha..jadi malu karena sudah merepotkan. Menurutmu ini tidak adil yah, tapi sudah kubilang dari awal kan?! Aku tidak berniat ingin membaca masa lalumu, itu semua tiba-tiba terlintas di pikiranku begitu saja. Lagipula aku juga tidak mau orang tahu masa laluku, soalnya masa laluku lebih menyedihkan daripada masa lalumu”.

Dia menjawab pertanyaanku dengan ekspresi sendu. Aku tahu, dia sebenarnya tidak ingin tahu masa laluku, tapi mau tidak mau hal itu akan terlihat juga olehnya.

“Aku mengatakan itu semua dengan harapan kamu mau bekerja sama denganku”.

“Kerja sama?”

“Yup, kalau kita bekerja sama, pekerjaanmu jadi akan lebih mudah, bukan?”

“Maaf, aku tidak butuh partner, aku bisa melakukannya sendirian tanpamu!”

“Hei, ayolah!! Ini sebagai tanda terimakasihku karena sudah diberi makan. Lagipula aku juga minta maaf karena sudah mengungkit-ungkit masa lalumu. Bagaimana, aku ini cukup kuat loh!! Aku nggak akan merepotkan kamu kok, lagian aku juga butuh uang!”

Aku diam, sambil mencoba untuk mempertimbangkan ajakannya. Dia bisa membaca masa laluku dengan mudahnya, lagipula dia sanggup membentengi pikirannya dariku, pasti dia bukan orang biasa.

“Baiklah, ngg siapa tadi namamu?”

“Randalph!”

“Yah, Randalph, akan kucoba untuk berpartner denganmu”,jawabku. Hmm, siapa tahu aku bisa menjajal kemampuannya suatu hari. Aku ingin tahu, sekuat apa dia.

“Waa..syukurlah! Akhirnya kamu mau juga! Mm, tapi harap kamu ingat satu hal. Aku ini orangnya bebas. Nggak suka terikat sama orang lain. Jadi, kamu bisa menerima kan, kalau suatu saat aku akan pergi?”

Tidak masalah, aku sudah sering sendirian. Kamu mau pergi kapan saja terserah. Tapi, tentu saja setelah aku tahu sekuat apa dirimu, Randalph.

“Baiklah, aku terima!”

“Sipp!! Kapan kita mulai kerja ? Aku sudah siap nih!!. Oh, ya bolehkah aku pinjam kamar mandi. Ah, tenang saja, aku bawa baju kok, tidak usah dipinjami. Lagipula, pasti tidak cukup. Eh, kamu pasti terganggu dengan bau badanku ya?! Maaf, habis aku tidak mandi selama dua bulan sih, jadi malu, he..he..he.. Sudah dulu ya, aku mau mandi dulu!”

Aku hanya bisa terpaku melihat cara bicaranya. Gila! Darimana dia punya kemampuan untuk bicara layaknya senapan mesin . Aku sendiri, tidak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Ngomongnya banyak sekali.

Belum mandi dua bulan? Ufhh, kalau aku mana tahan tidak mandi selama itu, minimal,aku bisa tahan tidak mandi selama seminggu atau 5 hari. Tapi dia, dua bulan. Pantas baunya benar2 menyengat.

Benar-benar cowok yang ajaib dan aneh. Aku tak sadar bahwa pertemuanku dengan Randalph, akan mengubah segalanya...

****

Dan, apa yang akan terjadi pada Clay selanjutnya setelah kedapatan Randalph? Tunggu kelanjutan ceritanya di Part 3. Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar