Kamis, 19 September 2013

When He Smile : Part 4 (Final)

 

When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D


Silakan baca part 1 cerita ini di link ini :) 
Part 2 di link ini
Part 3 di link ini
Dan akhirnya sampai di bagian terakhir, part 4 

 ********
 
Titt…Titt…Titt…!!

Uhh, suara bel. Jam berapa ini?

Perlahan-lahan kubuka mataku. Berat sekali rasanya. Ketika, akhirnya mataku bisa kubuka sepenuhnya, aku melihat sekelilingku. Ternyata aku sudah ada di kamarku. Bajuku pun tetap sama dengan yang kemarin kupakai.

Pelan-pelan, aku turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju cermin. Kulihat bayanganku sendiri di cermin. Uhh, jelek sekali! Mataku lebam dan merah, seperti habis ditinju orang. Rambutku berantakan, dan kepalaku sedikit pusing.

Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Yang kuingat hanyalah, tadi malam aku duduk di taman dengan Randalph. Berbincang-bincang, lalu aku marah-marah kepadanya. Setelah itu aku menangis. Tapi, apa yang terjadi setelahnya aku sama sekali tidak ingat.

Aku bergegas pergi ke wastafel. Mencuci mukaku, gosok gigi, lalu merapikan rambutku. Setelah itu, aku turun ke bawah. Kepalaku masih pusing dan telingaku berdenging.

Ketika sudah sampai dibawah, aku melihat Randalph sedang duduk di meja makan, sembari minum teh.

“Hai, Clay! Sudah bangun,yah! Sudah baikan?”

“Ngg, yahh…!”

“Tadi malam kamu heboh sekali lho. Menangis dengan begitu kerasnya. Tapi setelah itu, tangismu mulai mereda. Dan setelah berhenti, kamu langsung tertidur. Pasti capek, yah, setelah menangis selama satu jam, he…he…he…”

“Satu jam? Selama itu? Maaf, sudah merepotkanmu”.

“Nggak, nggak apa-apa kok! Oh, ya kamu mau minum teh buatanku ini? Aku baru saja keluar membeli bahan-bahannya lo,” tawar Randalph, sambil memberikan secangkir teh.

Kuambil cangkir teh itu. Kalau dilihat-lihat, tehnya sedikit aneh. Dan baunya agak mencurigakan. Tapi, karena kasihan pada Randalph yang sudah membuatkan teh ini, kuminum saja walaupun sedikit ragu-ragu.

“Phuaaahhh!!! Hoeekkk, apa ini???”

“Gimana? Enak, kan?”

“Yang begini ini, kamu bilang enak?”

“Lho, harusnya kamu bersyukur loh, bisa minum teh ini. Hanya ada satu jenis minuman teh seperti ini di dunia. Dan hanya aku yang bisa membuatnya Ini resep rahasiaku!” jawab Randalph sambil senyum-senyum.

“Rahasia? Apa yang kamu masukkan?” tanyaku sambil berusaha mencari air putih, karena rasanya yang benar-benar tidak enak.

“ Campuran dari segala macam teh. Mulai dari darjeeling, ceylon, assam, earl grey, dan sebagainya. Lalu aku tambahkan sedikit kopi dan satu sendok penuh susu. Gulanya 3 sendok makan. Untuk menambahkan sedikit citarasa, aku pakai sedikit bubuk merica dan pala. Oh, ya ditambah juga dengan kayu manis.”

Errrggghh!! Pantas saja, rasanya benar-benar tidak enak. Dan, ketika ku lihat dapur….Arrgghhh, apa yang dia lakukan pada dapurku? Kenapa jadi berantakan begini.

“Randalphh…ini…?”

“Ah, maaf, maaf, setelah ini akan kubersihkan, kok!”

Ahh, setelah Randalph datang kesini, hidupku jadi kacau. Kacau!!

Aku langsung membersihkan dapur. Ketika aku menoleh ke meja makan, dia malah bersiul-siul. Tahu kalau aku melihat ke arahnya, dia malah tersenyum. Seolah-olah di wajahnya tertulis “Tolong bersihkan, ya”. Uhh, aku tak tahan lagi.

“Randalphh…”

“Ya?”

“Kenapa kamu diam saja melihat dapur yang berantakan itu?!!”

“Loh, aku kan bilang, pasti akan kubersihkan, kok. Tidak usah repot-repot deh”.

Errghh!! Aku benar-benar marah! Akhirnya kubersihkan dapurku sendirian

“Sudah merasa enakan?”

“Hah?”

“Kalau sudah bisa marah-marah seperti itu, artinya sudah lega, kan?”

“Apa maksudmu?”

“Hmm, lebih baik kamu duduk disini saja”

Aku melepas spon untuk membersihkan meja dapur. Lalu berjalan ke arah meja makan, setelah itu duduk diatas kursi yang telah disiapkan Randalph untukku.

“Ada apa?”

“Wajahmu sedikit cerah hari ini”

“Oh, ya?”

Randalph tersenyum.

“Aku…ingin mengucapkan terimakasih kepadamu…”

“Terimakasih? Memangnya ada apa?”

“Kalau bukan karena nasihatmu tadi malam, mungkin, aku akan terus menyimpan perasaan ini”.

“Yah, tidak perlu terimakasih segala kok. Itu sudah kewajibanku sebagai sesama teman”

“Teman?”

“Iya, kita berdua teman kan?”

Teman, ya? Satu kata yang pernah kuanggap sebagai duri dalam hatiku

“Tapi, aku merasa…dengan peristiwa tadi malam, kamu sedikit berubah, Clay”.

Berubah? Aku?

“Yah, setidaknya, kamu bisa jujur pada hatimu sendiri. Itu yang paling penting sebelum kamu jujur pada orang lain”.

“Jujur pada perasaan sendiri, ya?”

“Ada satu yang ingin kukatakan padamu, Clay. Tadi malam kamu bertanya, kenapa aku bisa tegar seperti ini. Jawabannya sederhana, tawa dan senyum”

“Hah?”

“Waktu itu, aku juga sama sepertimu. Rasa sedih dan marah, hanyut jadi satu dalam tangisanku. Yah, aku juga menangis sekeras-kerasnya, sama sepertimu. Lalu, Matt berkata kepadaku,

“Kalau ingin menangis, menangislah. Jangan pernah memendam apa yang ada di hatimu. Keluarkan semuanya, apa yang membuat hatimu sakit. Lalu, nanti sesudah kau menangis sampai airmatamu yang terakhir, tertawalah. Maka hatimu akan menjadi lega…” sampai sekarang, kata-kata Matt terus terpatri dalam hatiku ini. Tapi, aku yang sekarang ini sudah tidak bisa menangis lagi. Mungkin, air mataku sudah habis waktu itu. Dan karena tidak bisa menangis, jadi aku tertawa saja.”

Tes!

“Loh, Clay, kamu kok menangis lagi? Ada apa? Ada yang sakit, ya?”

“Tidak, tidak apa-apa”.

Tanpa sadar, aku menangis lagi. Tapi, ini tidak sama dengan tadi malam. Entah kenapa, hatiku merasa lega dan juga bahagia. Ingin rasanya aku tertawa. Perasaan inilah, yang sudah aku pendam selama sembilan tahun, semenjak kematian ayah dan ibu.

“Randalph, terimakasih!”

“Clay…, kamu…tersenyum?”

Aku tersenyum, ya aku tersenyum. Aku yang selama sembilan tahun ini tidak pernah tersenyum. Bahkan, mungkin aku sudah lupa bagaimana caranya tersenyum. Randalphlah yang membuka hatiku, menyadarkanku apa arti hidup ini.

“Terimakasih”

“Yah, sama-sama. Kita ini, teman khan?”

“Yah, teman”.

“Kalau begitu, ayo kita bersumpah disini. Apapun yang terjadi, walaupun salah satu dari kita terpisah jauh, persahabatan kita tetap abadi!!” ujar Randalph, sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

Aku mengaitkan jari kelingkingku ke jarinya. Lalu kami berdua saling tersenyum penuh arti.

“Ya”, kataku,”apapun yang terjadi, kita ini adalah sahabat sejati!”

*****

Mardalsfossen, 3 tahun kemudian


Sejak perjanjian itu, kami berdua menjadi dekat. Suatu hari kami berniat akan membentuk sebuah organisasi VH. Setelah mengurus ijin dan persyaratan di VH Central Building, kami mencari nama organisasi. Semalaman kami ribut mencari nama organisasi. Dan paginya, akhirnya kami menemukannya.

Nama organisasi kami adalah “LETFRANT”. Aku tak tahu artinya apa. Randalphlah yang menemukan nama itu. Dan karena dia beranggapan kalau nama itu keren, akhirnya kami memakainya. Awalnya anggota organisasi kami hanya kami berdua. Lalu, berturut-turut mulai masuk anggota baru.

Yang pertama masuk adalah Nico Torin. Umurnya 19 tahun. Perawakannya biasa saja, tapi dia sangat kuat. Sanggup mengangkat beban 500 kg. Penguasa sihir barat. Identitas sebenarnya, adalah putra dari Master Penyihir Barat, pimpinan AWWH(Association of West Wizard in Humavalea) yang bermarkas di Berlin. Alasannya ikut sendiri, karena dia tidak mau jadi penerus ayahnya. Alasan yang klasik sebenarnya. Kami menerimanya, ketika kami baru saja mendaftarkan LETFRANT di VH Central Building. Pertemuan pertama yang penuh kekacauan.

Lalu, beberapa bulan kemudian, sepasang cewek dan cowok yang masuk. Nama mereka Roderick Rutherford yang selalu bergaya cowboy dan dipanggil Rod, dan Celia Rutherford, yang suka bersikap keibuan, sekaligus satu-satunya wanita di LETFRANT. Awalnya aku kira mereka adalah suami-istri atau kakak-adik, karena nama belakang sama. Tapi setiap kutanya, mereka selalu bilang “rahasia”. Rod adalah seorang pyrokinesis (sanggup mengendalikan api), sedangkan Celia mampu menghinoptis orang dengan tariannya dan kemampuan meramal dengan tarot (kami pernah terkena hipnotisnya).

Anggota baru lainnya adalah Akio Kazehayabashi, seorang pendeta dari negeri timur bernama Shin Tokyo. Kemampuannya tidak bisa diremehkan. Dia ahli dalam sihir timur dan menguasai angin. Lawan Nico, mereka seusia, tapi tetap jadi teman. Walaupun begitu hobinya membuatku merinding, karena dia gemar membuat boneka kutukan, dan bereksperimen dengan bonekanya. Emosinya sepertinya agak tidak stabil.

Anggota yang ketujuh adalah Lunar Louisse. Kami memanggilnya Lou. Tidak ada yang istimewa darinya, kecuali kenyataan kalau dia manusia serigala. Sukunya sudah punah karena serangan Vampir dan dia ingin balas dendam. Setidaknya tujuannya hampir sama denganku.

Dan, anggota yang terakhir adalah Andrew Balthor. Entah kenapa, aku merasa tidak cocok dengannya –kecuali Randalph yang akrab dengan semua orang-. Kemampuannya di bidang komputer dan hacking. Panggilannya adalah “Wired”. Walaupun aku tidak suka padanya, kuterima juga (karena desakan Randalph, sebenarnya). Walaupun begitu, dia sangat membantu jika kami ingin mencari informasi, yang tentunya “Top Secret”, karena kemampuan hackingnya.

Aku sendiri menjadi pemimpin LETFRANT, dan wakilnya Rod. Randalph tidak mau menjadi pemimpin, dia malah menunjukku. Katanya, ”Kamu punya bakat jadi pemimpin”. Dia tidak mau menjadi pemimpin atau wakil. Hanya minta kedudukan sebagai “anggota istimewa”.(ada-ada saja).

Sebagai pemimpin, aku harus memahami anak buahku. Awalnya sulit memang. Tapi, dengan bantuan Randalph, hal itu bisa kuatasi. Terus terang, aku kurang bisa bersosialisasi.

Hari ini, usiaku 22 tahun. Tak terasa sudah 12 tahun aku hidup mandiri. Aku pun mulai bisa membiasakan diri dengan LaMu, walaupun tidak jarang dia selalu mencemoohku. Aku juga mulai terbiasa dengan anggota LETFRANT yang lain (kecuali Wired, yang entah kenapa, selalu ada yang mengganjal hatiku). Aku juga mengganti penampilanku. Rambutku sudah panjang, dan aku tidak pernah berniat memotongnya. Jika tidak tahu, banyak yang mengira aku adalah Vampir sejati, walau kenyataannya, di dalam tubuhku juga ada Vampir.

Aku menikmati hari-hari itu, sampai suatu hari Randalph akan pergi. Aku sendiri baru tahu dari Rod, kalau pagi itu Randalph akan berangkat.

“Kamu mau pergi kemana?”

“Ah, Clay. Sudah dengar dari Rod, ya”.

“Jadi, berita itu benar? Kamu akan meninggalkan Mardalsfossen ini.”

“Yah, aku akan pergi ke Alcarta”.

“Alcarta? Untuk apa?”

“Entahlah, ada sesuatu yang menarikku kesana. Tadi malam aku mendapat “penglihatan”, dan ada yang menyuruhku pergi kesana.”

“…”

“Aku juga sudah bertanya ke Celia. Dan ternyata ramalannya memang benar. Ada sesuatu yang menantiku disana”

“Kamu…tidak akan kembali?”

“Ahh, tentu saja tidak. Kalau urusanku sudah selesai, aku pasti akan kembali kesini lagi”

“Begitu, ya. Kalau begitu pergilah!”

“Hmm, kalau kamu kangen, aku sudah siapkan satu galon teh"

“Tidak usah! Kamu pikir sudah berapa orang yang hampir keracunan, karena minum teh buatanmu itu.”

“Ha..ha..ha..!! Sampai segitunya. Baiklah, aku berangkat dulu ya. Aku titip LETFRANT dan sampaikan salamku pada yang lain,”

“Randalph!”

“Yah?”

“Kita ini teman kan?” tanyaku.

“Tentu saja!”jawab Randalph.

Aku mengantar kepergian Randalph ke Alcarta. Seperti janji kami dulu, walaupun salah satu dari kami terpisah jauh, dan apapun yang terjadi, persahabatan kami berdua akan tetap abadi. Waktu itu, aku tak menyadarinya, bahwa Randalph akan membawa seseorang yang nantinya, akan berpengaruh besar pada Humavalea dan Varua…
*****

“Clay, Clay, bangun! Sudah siang!”

Nggh. Siapa yang membangunkan aku? Bukannya aku tadi sudah bangun? Apa aku tertidur lagi?

“Oh, My God! Clay, kenapa kamu bisa tidur sambil berdiri? Tidur di dekat jendela,lagi! Kalau ada yang melihat, bagaimana?”

Ah, ternyata itu suara Celia. Rupanya, waktu sedang mengingat masa laluku tadi, aku ketiduran dan bermimpi. Dan, suara Celia menghentikan mimpiku, ibarat sebuah film yang rollnya sudah selesai berputar.

“Ada apa Celia? Kenapa ribut-ribut? Aku masih ngantuk! Kalau ada urusan nanti saja,” pintaku sambil setengah menguap.

“Nantimu itu berapa jam?” tanya Celia.

“Entahlah, mungkin sekitar 15 jam lagi” jawabku, sambil siap-siap untuk tidur lagi.

Aku benar-benar kecapekan. Tadi malam, aku menghadiri rapat di VH Central Building, dan terus terang, aku bosan mendengar para kakek reyot petinggi organisasi berteriak-teriak membahas masalah yang sebenarnya sudah ketinggalan jaman.

“Tidak bisa! Ayo, Clay, kita harus siap-siap! Kita kedatangan tamu istimewa! Ayo, cepat bangun”

“Tamu istimewa? Siapa? Kalau orang-orang petinggi organisasi yang datang, bilang aku tidak ada di tempat!”

“Bukan, Clay! Hari ini, aku meramal tarot. Dan hasilnya bagus sekali! Coba tebak siapa yang datang?”

“Siapa? Aku malas main tebak-tebakan denganmu Celia”.

“Randalph! Randalph sudah pulang dari Alcarta. Selain itu dia juga membawa anggota baru. Jika tidak ada halangan, mereka akan sampai satu jam lagi”.

“Apa? Randalph? Datang satu jam lagi? Kenapa kau tidak bilang Celia? Aku harus siap-siap!”

“Dasar! Dibilangin dari tadi juga”.

Randalph datang! Tergesa-gesa, aku mencuci muka dan merapikan rambutku lalu berpakaian. Akhirnya setelah ½ tahun pergi ke Alcarta, dia pulang juga. Membawa anggota baru, siapa dia kira-kira?

Setelah berpakaian rapi, aku langsung pergi ke bangsal. Tapi tidak ada siapa-siapa disana. Kecuali hanya ada satu orang. Seorang cowok. Mungkin usianya sekitar 17 tahun.

“Permisi, boleh tahu dimana toiletnya?”

“Ah, eh, iya! Disana, belok kiri, lalu jalan terus!” jawabku sedikit gelagapan. Walaupun laki-laki, wajahnya manis sekali.

“Thanks! Oh, ya kamu manusia atau Vampir? Kelihatannya kamu manusia ya, walaupun penampilanmu seperti Vampir. Sekali lagi, thanks!” jawab anak cowok itu, lalu dia berlari menuju ke arah yang sudah kutunjuk.

Anak yang banyak bicara seperti Randalph, pikirku. Tapi, aku harus bergegas. Mungkin mereka semua ada di luar...

Duarrrr!!!!

Apa itu tadi? Ada ledakan?

Mendengar suara ledakan, aku langsung berlari ke arah suara itu. Tapi, sesaat setelah ledakan itu, terdengar suara pistol. Siapa yang memakai pistol? Di LETFRANT tidak ada yang memakai pistol.

Jawabannya baru kuketahui setelah sampai disana. Rupanya, ada beberapa Vampir yang menyerang markas LETFRANT. Mungkin karena sebelumnya, kami mengadakan perburuan besar-besaran terhadap para Vampir. Dan mereka pasti ingin membalas dendam teman-temannya yang telah kami tangkap. Tapi, lagi-lagi aku terkejut. Yang menghadapi mereka adalah anak cowok yang baru saja kutemui.

Aku terpana. Tak kusangka, dia hebat sekali. Dengan senjata dua pistol, dia menembaki para Vampir. Pelurunya adalah peluru perak. Dia terus menembaki Vampir itu. Hebat sekali! Jumlah Vampir itu ada sekitar 20-an dan dia menghadapinya sendirian.

Sedetik kemudian, dia mulai terdesak. Dan, rupanya datang bala bantuan. Cih, sialan! Beraninya main keroyokan. Akhirnya aku pergi untuk menolongnya. Kulayangkan seranganku pada Vampir-Vampir itu. Beberapa diantara mereka roboh kena seranganku.

“Kau, tidak apa-apa?”tanyaku sambil mendekati dia.

“Ah, orang yang tadi, ya?”

Tiba-tiba mereka semua mengepungi kami. Hmm, mungkin mereka mengira bisa menang melawanku dengan cara ini.

“Hei!”

“Yah?”

“Kau bisa menembaki mereka semua khan?”

“Tentu saja! Tembakanku selalu tepat 100 %!”

“Baiklah, mulai hitungan ketiga. Satu…dua…tiga…!!”

Setelah hitungan ketiga, aku langsung melayangkan seranganku, dan dia menembaki para Vampir itu. Tidak sampai hitungan menit. Semuanya sudah roboh.

“Ah, terimakasih! Berkat kakak, aku terbantu!! Aku kaget sekali. Ketika mau ke toilet,tiba-tiba dindingnya hancur. Untung aku bawa dua pistol kesayanganku ini. Oh, ya kita baru bertemu, namaku Milliard. Nama kakak siapa?”

“Eh, aku?”

Tiba-tiba saja pintu dibelakangku terbuka lebar. Lalu…

“Clayy!!! Lama tak bertemu!”

Suara yang sudah lama kukenal. Suara Randalph.

“Randalph!! Bagaimana, kabarmu? Baik saja-saja kan?”

Kami berdua lalu berpelukan. Rasanya sudah lama sekali, sejak Randalph pergi.

“Yah, baik-baik saja. Engg, Milliard? Kenapa disini?”

Aku melepaskan pelukanku, lalu bertanya,

“Kau kenal dengan anak ini, Randalph?” tanyaku, sementara semuanya sudah masuk ke bangsal tempat kami berdiri.

“Yah, namanya Milliard Saga! Dia dari Alcarta, usianya 18 tahun. Dan, kemampuannya menembaknya tidak diragukan lagi. Dia nomor satu di Alcarta. Baru saja lulus sekolah, karena itu aku mengajaknya kesini. Bagaimana? Dia cukup tangguh lo! Masih ada tempat, kan?”

“Yah, tentu saja! Ternyata nama lengkapmu Milliard Saga, ya”.

“Ya!”

“Namaku Claude, Claude C. Evinrude. Panggil saja Clay. Aku pimpinan LETFRANT, aku dengar dari Randalph, kemampuan menembakmu no 1, dan aku sudah melihatnya sendiri. Kalau tidak keberatan, maukah kau bekerjasama dengan kami?”

“Tentu saja! Aku kesini dengan harapan bisa mencapai tujuanku!”

“Tujuan?”

“Yah, aku dengar orang2 yang masuk kesini adalah orang2 yang memiliki dendam pada para Vampir. Aku ingin masuk ke organisasi untuk mencari Vampir yang membunuh kedua orangtuaku dan kakakku!”

Milliard mengucapkannya dengan tegas. Dan dari sorotan matanya, aku seolah melihat diriku sendiri. Hati yang diselimuti dengan dendam.

“Yah, kalau itu keinginanmu, Milliard. Kalau begitu…”

Aku melihat ke arah Randalph. Dia hanya tersenyum dan berbisik, “terima saja”. Lalu, aku melihat Milliard. Anak ini

sungguh-sungguh. Tidak ada jalan lain kecuali mengijinkannya masuk LETFRANT.

“Baiklah Milliard… Selamat datang di LETFRANT!!”.

**THE END**


Kisah Clay Evinrude telah berakhir. Karena ini adalah prototype, maka banyak kalimat yang aneh, mengingat saya menulisnya saat SMA. Saya sudah menulis kisah terbaru Clay, yang namanya saya ganti. Beberapa kalimat yang saya rasa tidak enak dibaca, juga telah diganti. Saya menulisnya dalam bahasa Inggris, yang tentunya not gramatically correct, karena bahasa native saya kan bukan bahasa Inggris. 

Seperti biasa, jika ada yang mau memberi saran, atau kritik, you are very welcome ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar