Kamis, 05 Juni 2014

Her Majesty Lost : Chapter 1



CHAPTER 1

Manhattan, New York, Selasa

“Rachett! Datang ke ruanganku sekarang juga!”

Rachett hanya memutar mata mendengar si boss memanggil namanya. Lagi. Untuk yang ketiga kalinya. Apa yang salah sih dengan wanita itu? Apa dia membenci Rachett hanya karena melontarkan ide yang menurut direktur bagus? Apa dia mengira Rachett sedang menjilat? Rachett bergegas menuju ke ruangan si boss, sebelum wanita itu memutuskan untuk pergi ke cubiclenya dan membuat drama di kantor.

10 menit kemudian, dia keluar dengan wajah kusut dan pandangan yang bisa membunuh siapapun. 

Sahabatnya, Leah hanya nyengir, dan menyapanya sambil berbisik "Dia marah habis - habisan?"

"Banget. Kayaknya dia lagi PMS atau apalah. Ide yang kulontarkan ke direktur bisa mempercepat proyek kita dan dia sama sekali tidak senang. Mungkin dia ingin dirinya yang melontarkan ide tersebut. Alih - alih aku yang cuma kroco. Padahal aku pemimpin tim proyek ini" Rachett mendengus dan membanting kertas yang dia ambil dari ruangan si boss.

"Yah, aku rasa dia emang tipe yang penjilat."

Rachett menoleh ke arah pria yang baru bergabung dengan obrolannya bersama Leah. Crowley Simmons, karyawan yang baru saja ditransfer ke kantor mereka dari kantor pusat 6 bulan yang lalu dan saat ini bekerja di timnya.

"Menurutmu begitu ya, Simmons? Kau bisa melihatnya dengan jelas, kan? Aku ingin sekali menonjok mukanya," Rachett tentu saja tidak sungguh - sungguh dengan ucapannya. Menonjok bossmu = masalah besar .

"Yah, kau selalu haus darah seperti biasanya, apalagi kalau menyangkut Ms Dane. Ngomong - ngomong, mau minum - minum hari ini? Kelihatannya kau butuh hiburan, Hawthorne."

Leah bersiul dan Rachett memelototi temannya yang satu itu. Orang kantor mengira Simmons naksir dia. Sejujurnya dia tidak begitu jelek.  Crowley Simmons cukup tampan, lebih dari mantan - mantannya dulu yang brengsek. Bahkan dengan kacamata tebal yang dia pakai, Rachett bisa melihat warna matanya yang tidak biasa. Begitu hitam seperti langit malam. Sama hitamnya dengan rambut pria itu. Tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tampak terawat untuk ukuran pria itu.

Tidak ada yang aneh dengan Simmons. Dia layaknya karyawan pria yang lain di kantor itu. Tersenyum jika disapa dan bicara hanya seperlunya. Hanya saja Rachett memang merasa bahwa Simmons cukup dekat dengannya, mungkin karena pria itu  juga kerja di samping cubiclenya - dan mereka suka jalan bareng dengan teman Rachett yang lain. Tapi, baru kali ini Simmons mengajaknya secara terang - terangnya.

"Kau tahu kita lagi sibuk kan, Simmons? Aku tidak punya waktu".

"Ayolah. Ini hanya minum - minum biasa. Leah, kau boleh ikut kalau mau. Aku yang traktir," kata Simmons.

"Ide bagus, Crow! Ayo Rachett, sudah lama kita bersenang - senang. Kita bisa berdansa dan siapa tahu aku bisa dapat cowok baru."

Rachett hanya memutar mata. Leah baru putus 3 hari yang lalu dan sekarang sudah siap mencari pengganti pacarnya. Semua mantan Rachett menuduh kalau dia terlalu workaholic, dan sudah dua tahun lebih dia putus dari mantannya yang terakhir. Tidak ada waktu untuk cinta. Tidak jika proyek yang kau impikan mendarat di pangkuanmu dan ini waktu untuk membuktikan kalau Rachett memang pantas jadi pemimpin tim proyek ini.

Lagipula, sejak kapan Leah dan Simmons mulai memanggil dengan nama depan mereka?

"Baiklah, Leah. Jam 8 malam nanti, Simmons?"

"Sempurna", jawab pria itu dengan mengedipkan mata.

Well, pria itu memang tampan, pikir Rachett. Tapi saat ini dia sedang pacaran dengan pekerjaannya.

******

"Jadiiiii... si Dane, jalang brengsek itu bilang kalau kita tidak perlu menambah budget dan harus menyelesaikan proyek ini tepat waktuuu... sementaraa... kita tidak punya banyak waktuuu.. karena si bawel itu terus - terusan menolak proposalku..."

Rachett tahu dia mabuk, tapi puas rasanya bisa menumpahkan semua yang ada di hatinya. Dia meminta tambahan minum pada bartender, yang dibantu dengan senang hati oleh Simmons yang berada di sebelahnya. Sementara Leah sudah menghilang entah kemana.

"Kau marah karena dia tidak percaya padamu kan, Hawthorne?"

"Yeahhhh...." jawab Rachett sambil menelan ceri di atas cocktail yang baru saja disodorkan oleh si bartender.

"Orang sepertinya tidak pantas jadi pemimpin. Dia hanya ingin terlihat bagus di mata pimpinannya dan mengambil semua kredit untuk dirinya sendiri. Dia butuh dipuji..." ucap Simmons sambil melihat keadaan di sekitarnya. Seorang wanita merayunya untuk turun ke lantai dansa, yang ditolaknya dengan sopan.

Rachett hanya merengut dan memainkan cocktailnya. Tapi dia mendengar semua perkataan Simmons, dan mengangguk setuju.

"Kau tidak puas karena dia berusaha menghalangi kerjamu. Menurutku kau pemimpin yang bagus, Rachett. Aku bisa melihatnya selama 6 bulan ini berkerjasama denganmu. Kau punya bakat alami untuk itu".

Rachett menatap pria itu dan nyengir. Simmons membalas cengirannya dengan tawa renyahnya. Oh sial, pikir Rachett, kalau sedang tertawa Simmons sangat tampan. Selama ini dia terlihat sopan dan menahan diri jika sedang berkumpul dengan teman - temannya. Mungkin ini pengaruh minumannya, jadi Rachett buru - buru menenggak cocktailnya. Setelah ini dia akan turun untuk berdansa, dan mengajak Simmons menari bersamanya. Kelihatannya malam ini akan jadi menyenangkan

"Hei, Rachett.."

"Yah, Crowleyyy..."

"Maukah kau menjadi ratuku?"

Rachett bergeming. Dan menatap Simmons dalam - dalam. Apa pria itu sudah sangat mabuk sampai menanyakan pertanyaan yang aneh itu.

"Setahuku Amerika masih dipimpin Obama, dan bukan Ratu Elizabeth," dengus Rachett.

"Bukan Amerika. Tapi, jawablah pertanyaanku Rachett,  kau wanita yang tegas, kuat, tidak takut pada tantangan, dan kau punya bakat alami untuk menjadi pemimpin. Jadi, maukah kau menjadi ratuku?"

Rachett hanya bisa terdiam. Oh, jangan bilang pertanyaan Simmons itu artinya...

"Oh, demi Tuhan, Crowley! Apa kau melamarku untuk jadi istrimu? Apa kau pangeran dari negara entah dimana dan saat ini sedang mencari pasangan?" teriak Rachett histeris. Tidak ada yang akan memperhatikan mereka berdua karena suara di club kencang sekali. Walau bartender yang melayani mereka melihat Rachett dengan pandangan ingin tahu.

"Jawablah pertanyaanku, Rachett."

"Ohhh, aku harus menjawabnya ya, oh, hi hi hi..."

"Tentu saja. Dan aku tidak menerima jawaban "tidak""

"Huh, kau cowok yang sangaaat pemaksa, heh? Baiklah, baiklah, aku akan jadi ratumu. Aku akan jadi penguasa dunia dan menendang bokong si brengsek itu.. oh, hi hi hi.. hiks!" Rachett tidak peduli dengan jawabannya. Efek alkohol mulai membuatnya mabuk dan bicara tidak karuan.

Tapi Simmons sepertinya tidak terpengaruh dengan minumannya, dan setelah mendengar jawaban Rachett, dia menyeringai dan melakukan hal yang tidak Rachett duga.

Crowley mencium pipinya. Well, hanya pipi, pikirnya kecewa. Tapi, berarti apa yang dipikirkan temannya semua benar. Crowley Simmons naksir dia. Rachett hanya bisa mengikik seperti remaja SMA cewek yang sedang melihat pujaannya dari sebelah lapangan basket.

Crowley menyudahi ciumannya yang singkat dan Rachett mendesah kecewa. Sakit kepalanya makin menjadi dan dia merasa sangat mengantuk. Pandangannya mulai kabur, dan Crowley memegangi tubuhnya yang mulai sempoyongan

"Jadi ratumu, eh, Crow? Ya, ya, ya aku akan jadi ratumu, la la la....."

"Sempurna sekali, Rachett. Sempurna", jawab Crowley, tersenyum misterius.

Lalu setelahnya Rachett tidak ingat apapun.

*******

Suara alarm yang sangat nyaring membangunkan Rachett dan membuatnya tersentak. Oh sial, pikirnya, dia akan terlambat. Dan sakit kepalanya tidak tertahankan. Memalukan sekali untuk mabuk- mabukan tadi malam dan bahkan dia sama sekali tidak ketemu dengan Leah. Rachett melihat sekelilingnya, dan menyadari kalau dirinya berada di apartemennya. Mungkin Simmons yang membawanya kesini. Apa mereka..

Rachett melihat pakaiannya yang masih lengkap, dan dia mendesah lega. Akan sangat aneh kalau tadi malam dia dan Simmons berhubungan sex. Hubungan satu malam sama sekali bukan gayanya, dan Rachett juga tidak suka kalau si pria berusaha memanfaatkan keadaan dirinya yang sedang mabuk. Crowley Simmons benar - benar pria yang sopan, dan hanya menciumnya. Itu juga hanya di pipi.

Alarm berbunyi lagi dan Rachett bergegas mencari kopi untuk membuatnya terjaga. Setelah mandi, sarapan seperlunya, dia bergegas memanggil taksi untuk ke kantor. Dia tidak ingin terlambat karena ada meeting dengan direksi, dan tentunya si bos brengsek akan menggunakan semua kesempatan untuk memarahinya lagi.

Untunglah dia tidak terlambat, dan Rachett bergegas ke cubiclenya untuk menyiapkan bahan presentasi. Tapi dia berhenti saat melihat cubicle di sebelahnya kosong melompong. Kemana Crowley Simmons? Dia tidak tiba - tiba resign kan?

"Hai, Leah! Kemana Simmons?"

Leah mendongak dari atas pekerjaannya dan menatap Rachett bingung, "Simmons?"

"Yeah, Simmons. Crowley Simmons."

"Memangnya ada karyawan dengan nama aneh seperti itu di kantor kita, Rach?"

"Apa maksudmu Leah? Crowley Simmons sudah jadi bagian dari tim kita selama 6 bulan. Dia ditransfer dari kantor pusat! Dan hey, kita bertiga baru saja minum - minum tadi malam di club. Apa kau terlalu mabuk sampai bertanya siapa itu Simmons?"

"Dengar dulu, Rach. Tidak ada karyawan bernama Simmons. Cubicle di sebelahmu selama ini kosong. Dan tadi malam, aku langsung pulang ke apartemenku. Kau tidak apa - apa, sweetie?" tanya Leah khawatir.

Rachett bergeming. Tidak pernah ada karyawan bernama Crowley Simmons selama ini. Lalu, siapa yang selama ini ada di sebelahnya? Siapa pria yang tadi malam mengajaknya minum - minum?

Rachett menanyai Leah lagi dan wanita itu cuma menggeleng, dia memandang Rachett khawatir. Orang - orang lain di kantor itu juga tidak mengenal siapa Simmons. Rachett tertegun. Apakah dia mulai gila? Apakah Simmons selama ini hanya ada di bayangannya saja? Kenapa hanya dia yang bisa mengingat seorang Crowley Simmons?

"Rach, apakah kau tidak apa - apa? Kau terlihat pucat, sayang. Siapa Simmons ini sebenarnya? Kau sedang tidak nge-drug kan?"

Rachett menggeleng keras - keras. Dia tidak gila, sialan!  "Leah, aku.."

"Rachett Hawthorne."

Rachett menoleh dan melihat direktur menghampiri cubiclenya. Baru kali ini Rachett melihat direktur datang langsung ke cubiclenya.

"Ya, Sir?"

"Ke ruanganku. Sekarang"

Rachett hanya bisa mengangguk dan berjalan di belakang si direktur. Pikirannya kacau balau. Pertama, tidak ada karyawan bernama Simmons. Dan sekarang direktur memanggilnya. Apa karena masalahnya kemaren dengan si bos brengsek?

Mereka tiba di depan kantor si direktur dan Rachett bisa melihat siapa yang berada di dalam. Seluruh jajaran direksi dan si boss berengsek. Rachett muak melihat wajah wanita itu yang tampak sangat puas.

"Silakan duduk Ms Hawthorne. Kuharap kau tahu kenapa dipanggil ke sini?"

"Terimakasih, Sir. Maaf, sejujurnya saya tidak tahu. Saya ada meeting dengan client hari ini, jadi, ini cukup mengejutkan," jawab Rachett dengan tertawa kecil yang dipaksakan.

Si direktur menatapnya tajam dan hanya mendesah. Orang - orang lain di ruangan itu berbisik, sementara si boss, Dane, menatapnya dengan pandangan licik.

"Kami menerima laporan bahwa kau memanipulasi progress proyek dan menerima suap dari vendor agar barang mereka bisa diterima."

Tubuh Rachett membeku. Memanipulasi? Suap? Dia orang yang sangat jujur dan tak pernah melakukan itu sama sekali.

"Maaf, Sir. Mungkin anda salah mendengar. Tapi saya tidak pernah melakukannya sama sekali."
Sang direktur hanya terdiam mendengar penjelasannya, lalu menekan tuts komputernya. Rachett melihat ke layar dan jantungnya berdegup keras. Terpampang sebuah kontrak yang menyatakan persetujuan kantornya untuk menggunakan barang dari vendor A dengan jumlah yang sangat besar. Melebihi budget proyek selama ini. Dan ada tanda tangannya di akhir kontrak.

Rachett hanya bisa terpana melihat layar, sementara si direktur berkata dengan suara tegas, "Ini bukti yang masuk kepada kami, Ms Hawthorne, dan itu sudah jelas adalah tanda tanganmu. Menjual informasi dan suap adalah hal yang sangat dilarang. Kami tentu akan sedih karena kehilangan orang dengan potensi seperti dirimu, tapi hal seperti ini tidak bisa ditolerir. Kami minta agar kau mengundurkan diri mulai hari ini."

Rachett tidak mendengar apa kata pria itu. Benaknya berputar - putar, menanyakan segalanya. Dan saat dia ingin menyanggah perkataan direkturnya, dia melihat sang boss tersenyum sangat puas.Seketika itu juga Rachett tahu. Ini bukan ulahnya! Ini ulah si jalang brengsek itu. Dia pasti mengutak - atik komputer Rachett dan memalsukan tanda tangannya untuk menyetujui kontrak. Rachett berani taruhan uang suap itu sudah masuk ke dalam kantong bossnya.

Muka Rachett memerah, dan amarahnya tidak terkendali. Dia bergegas menuju ke tempat bosnya yang terlihat sangat puas dan melakukan apa yang selama ini hanya ada di angan - angannya. Rachett memukul wajah si boss keras - keras sampai wanita itu terjatuh dari kursinya.

"Kau.. dasar wanita brengsek! Selama ini aku selalu tahan dengan perlakuanmu di kantor. Tapi ini sudah di luar batas! Kau menyalahgunakan wewenangmu hanya untuk kepentinganmu sendiri!!", teriak Rachett.

Si boss brengsek terkejut dan mulai mengaduh " Dasar wanita gila!! Panggil satpam kemari!!"

"Ohhh, tidak perlu, brengsek!! Aku bisa pergi sendiri, dan mulai hari ini aku mengundurkan diri. Persetan dengan dirimu. Persetan dengan kantor ini. Selamat siang bapak - bapak dan ibu - ibu sekalian!"

Rachett membuka pintu ruangan itu keras - keras dan tak peduli dengan adegan yang ada di belakangnya. Si boss brengsek masih mengaduh dan Rachett menyeringai puas. Persetan dengan semuanya, pikirnya.

Dia lalu bergegas ke cubiclenya, dan mengemasi semua barang - barangnya. Semua orang terkejut mendengar Rachett dipecat, dan tentu saja mereka tak percaya. Leah hanya bisa menangis tersedu - sedu mendengar kabar pemecatan dirinya, dan menawarkan untuk membawa barang - barangnya keluar. Rachett hanya bisa mengangguk setuju dan dengan gontai meninggalkan proyek yang juga jadi ambisinya selama ini.

Sepanjang perjalanan Leah mengamuk dan menyumpahi boss mereka, sementara Rachett hanya terdiam mendengar amukan Leah. Sampai mereka lalu tiba di sebuah taman ria kecil, dan Leah memutuskan untuk bolos saja dari kantor dan mengajak Rachett bermain. Rachett merasa bersyukur ada Leah, karena dirinya mati rasa saat itu.

Mereka lalu bermain - main sampai menjelang sore, sampai Leah mengajaknya ke sebuah tenda. Rachett melihat papan tenda itu yang bertuliskan "Madam Oracle". Dia tidak percaya ramalan, tapi Leah mendesaknya untuk masuk ke dalam, dan tak mau mengecewakan sahabatnya, Rachett pun mengikuti Leah.

Keadaan tenda agak gelap, kecuali tempat di sekitar sang peramal mengatur kartu Tarotnya di atas meja. Leah sangat antusias dan bergegas untuk minta diramal,sementara Rachett melihat sekelilingnya. Tenda itu didekorasi dengan gambar - gambar aneh. Fantasy dan  mitos bukan favoritnya, karena Rachett menganggap dirinya adalah orang yang praktis. Walau begitu dia terkesan melihat gambar - gambar yang menghiasi tenda itu.

Seekor naga terbang di atas langit dengan daratan yang berbentuk aneh. Seekor harimau berada di daratan itu dan terlihat mengaum. Sementara itu di sisi lain ada seekor kura - kura dengan ekor yang aneh meliliti sebuah istana. Ketika Rachett mengamatinya dengan lebih lanjut, ekor kura - kura itu ternyata berbentuk ular bercabang tiga. Lalu, di atas gambar kura - kura, terlihat seekor burung phoenix, kakinya menggenggam semacam plakat dengan tulisan "Arramis".

"Kau mau diramal, Nona?"

Ucapan sang peramal membuyarkan perhatian Rachett yang sedang mengamati lukisan di tenda. Rachett memandang sang peramal, dan Leah yang terlihat berseri - seri. Mungkin hasil ramalannya bagus. 

"Oke. Silakan ramal aku sepuasnya."

Sang peramal menyusun kartu demi kartu, sementara Rachett memperhatikannya dengan bosan. Sampai sang peramal mengeluarkan kartu "The Empress", Rachett mendadak teringat malam sebelumnya dan ucapan terakhir Crowley

"Maukah kau menjadi ratuku?"

Rachett menatap sang peramal dengan tak percaya. Kemarin Crowley, dan saat ini di tenda sang peramal mengeluarkan kartu yang berarti "Ratu".

"Apa maksudnya ini?" desak Rachett.

Duarrr!!

"Rach....!!!"

Teriakan Leah yang panik membuat Rachett tak sempat mendengarkan jawaban sang peramal. Ada ledakan di luar tenda, dan orang - orang berteriak.

"Rach, ada bom. Ayo kita keluar!" desak Leah sambil menarik tangan Rachett. Rachett bergegas mengikutinya, hanya untuk mendapati tangannya yang satu lagi dipegang oleh sang peramal. Rachett tak bisa melihat wajahnya, walau dari tangannya dan juga ucapannya saat meramal Leah, peramal itu adalah wanita. Dan untuk ukuran seorang wanita, tangannya sangat kuat.

"Lepaskan aku!"

"Rachett Hawthorne!"

"Kumohon, lepaskan aku!! Kenapa kau tahu namaku?"

"Kau adalah wanita yang dipilih oleh The Knights. Aku bisa melihat simbol Phoenix di wajahmu."

"Simbol apa? Tidak ada apa - apa di wajahku. Lepaskan tanganku sekarang juga. Leah, Leah, bantu aku dong!"

"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, Rachett! Jangan lepas tanganmu, atau mereka yang di luar akan membunuhmu!!"

"Leah!!"

Kekuatan peramal itu terlalu kuat dan Leah terpaksa melepaskan tangannya. Rachett terjatuh ke arah peramal itu.Lalu, sesuatu yang aneh terjadi, karena dia sama sekali tidak menimpa tubuh si peramal, alih - alih dirinya tersedot sebuah lubang hitam.

Dan semuanya pun menjadi gelap.

********

"Cari wanita itu."

Sebuah sosok misterius berjalan menyusuri taman ria yang saat itu sedang dalam keadaan kacau. Binatang piaraannya mengendus - endus tanah, seakan mencari sesuatu. Lalu dia mendengking, dan sosok itu melihat ke sebuah tenda.

"Wanita itu ada di tenda yang disana?" tanyanya ke sosok lain yang sekarang berjalan mendekatinya

"Ya, master."

"Madam Oracle? Aku duga ini pasti ada campur tangan dari si Phoenix."

Sosok itu berjalan mendekati tenda, tidak terpengaruh dengan teriakan - teriakan di sekitarnya dan asap yang membumbung tinggi. Urusan di dimensi ini bukan urusannya. Walau banyak orang yang terluka, beberapa mati, karena serangan anak buahnya, dia tak peduli.

Sosok itu masuk ke dalam tenda dan di dalamnya sang peramal sekali lagi menyusun kartu - kartu Tarot.

"Kau terlambat," kata sang peramal.

"Dimana wanita itu? Dimana calon Ratu Astoria selanjutnya?"

"Kau tahu jawabannya, Dietrich. Sang Ratu sudah menuju takdirnya".

Sosok yang dipanggil Dietrich itu melihat ke arah kartu Tarot yang disusun sang peramal, dan melihat kartu "The Empress". Dia bersiul dan sesaat kemudian semua anak buahnya berkumpul di belakangnya. Suasana tenda itu semakin terasa gelap dan jahat, tapi sang peramal sama sekali tidak terpengaruh.

"Kali ini sang Phoenix boleh berada satu langkah di depan kami. Tapi selanjutnya, kami akan membunuh calon Ratunya yang berharga itu. Sampaikan ini kepadanya, wahai Saphira Crux. Minneas tidak akan berhenti sampai Astoria hancur dengan tanah!"

Lalu sosok - sosok itu pergi dan sang peramal tinggal sendirian di dalam tenda yang kemudian menghilang, seolah tak pernah ada di tempat itu sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar