Tampilkan postingan dengan label bab satu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bab satu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

Her Majesty Lost : Chapter 1



CHAPTER 1

Manhattan, New York, Selasa

“Rachett! Datang ke ruanganku sekarang juga!”

Rachett hanya memutar mata mendengar si boss memanggil namanya. Lagi. Untuk yang ketiga kalinya. Apa yang salah sih dengan wanita itu? Apa dia membenci Rachett hanya karena melontarkan ide yang menurut direktur bagus? Apa dia mengira Rachett sedang menjilat? Rachett bergegas menuju ke ruangan si boss, sebelum wanita itu memutuskan untuk pergi ke cubiclenya dan membuat drama di kantor.

10 menit kemudian, dia keluar dengan wajah kusut dan pandangan yang bisa membunuh siapapun. 

Sahabatnya, Leah hanya nyengir, dan menyapanya sambil berbisik "Dia marah habis - habisan?"

"Banget. Kayaknya dia lagi PMS atau apalah. Ide yang kulontarkan ke direktur bisa mempercepat proyek kita dan dia sama sekali tidak senang. Mungkin dia ingin dirinya yang melontarkan ide tersebut. Alih - alih aku yang cuma kroco. Padahal aku pemimpin tim proyek ini" Rachett mendengus dan membanting kertas yang dia ambil dari ruangan si boss.

"Yah, aku rasa dia emang tipe yang penjilat."

Rachett menoleh ke arah pria yang baru bergabung dengan obrolannya bersama Leah. Crowley Simmons, karyawan yang baru saja ditransfer ke kantor mereka dari kantor pusat 6 bulan yang lalu dan saat ini bekerja di timnya.

"Menurutmu begitu ya, Simmons? Kau bisa melihatnya dengan jelas, kan? Aku ingin sekali menonjok mukanya," Rachett tentu saja tidak sungguh - sungguh dengan ucapannya. Menonjok bossmu = masalah besar .

"Yah, kau selalu haus darah seperti biasanya, apalagi kalau menyangkut Ms Dane. Ngomong - ngomong, mau minum - minum hari ini? Kelihatannya kau butuh hiburan, Hawthorne."

Leah bersiul dan Rachett memelototi temannya yang satu itu. Orang kantor mengira Simmons naksir dia. Sejujurnya dia tidak begitu jelek.  Crowley Simmons cukup tampan, lebih dari mantan - mantannya dulu yang brengsek. Bahkan dengan kacamata tebal yang dia pakai, Rachett bisa melihat warna matanya yang tidak biasa. Begitu hitam seperti langit malam. Sama hitamnya dengan rambut pria itu. Tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya tampak terawat untuk ukuran pria itu.

Tidak ada yang aneh dengan Simmons. Dia layaknya karyawan pria yang lain di kantor itu. Tersenyum jika disapa dan bicara hanya seperlunya. Hanya saja Rachett memang merasa bahwa Simmons cukup dekat dengannya, mungkin karena pria itu  juga kerja di samping cubiclenya - dan mereka suka jalan bareng dengan teman Rachett yang lain. Tapi, baru kali ini Simmons mengajaknya secara terang - terangnya.

"Kau tahu kita lagi sibuk kan, Simmons? Aku tidak punya waktu".

"Ayolah. Ini hanya minum - minum biasa. Leah, kau boleh ikut kalau mau. Aku yang traktir," kata Simmons.

"Ide bagus, Crow! Ayo Rachett, sudah lama kita bersenang - senang. Kita bisa berdansa dan siapa tahu aku bisa dapat cowok baru."

Rachett hanya memutar mata. Leah baru putus 3 hari yang lalu dan sekarang sudah siap mencari pengganti pacarnya. Semua mantan Rachett menuduh kalau dia terlalu workaholic, dan sudah dua tahun lebih dia putus dari mantannya yang terakhir. Tidak ada waktu untuk cinta. Tidak jika proyek yang kau impikan mendarat di pangkuanmu dan ini waktu untuk membuktikan kalau Rachett memang pantas jadi pemimpin tim proyek ini.

Lagipula, sejak kapan Leah dan Simmons mulai memanggil dengan nama depan mereka?

"Baiklah, Leah. Jam 8 malam nanti, Simmons?"

"Sempurna", jawab pria itu dengan mengedipkan mata.

Well, pria itu memang tampan, pikir Rachett. Tapi saat ini dia sedang pacaran dengan pekerjaannya.

******

"Jadiiiii... si Dane, jalang brengsek itu bilang kalau kita tidak perlu menambah budget dan harus menyelesaikan proyek ini tepat waktuuu... sementaraa... kita tidak punya banyak waktuuu.. karena si bawel itu terus - terusan menolak proposalku..."

Rachett tahu dia mabuk, tapi puas rasanya bisa menumpahkan semua yang ada di hatinya. Dia meminta tambahan minum pada bartender, yang dibantu dengan senang hati oleh Simmons yang berada di sebelahnya. Sementara Leah sudah menghilang entah kemana.

"Kau marah karena dia tidak percaya padamu kan, Hawthorne?"

"Yeahhhh...." jawab Rachett sambil menelan ceri di atas cocktail yang baru saja disodorkan oleh si bartender.

"Orang sepertinya tidak pantas jadi pemimpin. Dia hanya ingin terlihat bagus di mata pimpinannya dan mengambil semua kredit untuk dirinya sendiri. Dia butuh dipuji..." ucap Simmons sambil melihat keadaan di sekitarnya. Seorang wanita merayunya untuk turun ke lantai dansa, yang ditolaknya dengan sopan.

Rachett hanya merengut dan memainkan cocktailnya. Tapi dia mendengar semua perkataan Simmons, dan mengangguk setuju.

"Kau tidak puas karena dia berusaha menghalangi kerjamu. Menurutku kau pemimpin yang bagus, Rachett. Aku bisa melihatnya selama 6 bulan ini berkerjasama denganmu. Kau punya bakat alami untuk itu".

Rachett menatap pria itu dan nyengir. Simmons membalas cengirannya dengan tawa renyahnya. Oh sial, pikir Rachett, kalau sedang tertawa Simmons sangat tampan. Selama ini dia terlihat sopan dan menahan diri jika sedang berkumpul dengan teman - temannya. Mungkin ini pengaruh minumannya, jadi Rachett buru - buru menenggak cocktailnya. Setelah ini dia akan turun untuk berdansa, dan mengajak Simmons menari bersamanya. Kelihatannya malam ini akan jadi menyenangkan

"Hei, Rachett.."

"Yah, Crowleyyy..."

"Maukah kau menjadi ratuku?"

Rachett bergeming. Dan menatap Simmons dalam - dalam. Apa pria itu sudah sangat mabuk sampai menanyakan pertanyaan yang aneh itu.

"Setahuku Amerika masih dipimpin Obama, dan bukan Ratu Elizabeth," dengus Rachett.

"Bukan Amerika. Tapi, jawablah pertanyaanku Rachett,  kau wanita yang tegas, kuat, tidak takut pada tantangan, dan kau punya bakat alami untuk menjadi pemimpin. Jadi, maukah kau menjadi ratuku?"

Rachett hanya bisa terdiam. Oh, jangan bilang pertanyaan Simmons itu artinya...

"Oh, demi Tuhan, Crowley! Apa kau melamarku untuk jadi istrimu? Apa kau pangeran dari negara entah dimana dan saat ini sedang mencari pasangan?" teriak Rachett histeris. Tidak ada yang akan memperhatikan mereka berdua karena suara di club kencang sekali. Walau bartender yang melayani mereka melihat Rachett dengan pandangan ingin tahu.

"Jawablah pertanyaanku, Rachett."

"Ohhh, aku harus menjawabnya ya, oh, hi hi hi..."

"Tentu saja. Dan aku tidak menerima jawaban "tidak""

"Huh, kau cowok yang sangaaat pemaksa, heh? Baiklah, baiklah, aku akan jadi ratumu. Aku akan jadi penguasa dunia dan menendang bokong si brengsek itu.. oh, hi hi hi.. hiks!" Rachett tidak peduli dengan jawabannya. Efek alkohol mulai membuatnya mabuk dan bicara tidak karuan.

Tapi Simmons sepertinya tidak terpengaruh dengan minumannya, dan setelah mendengar jawaban Rachett, dia menyeringai dan melakukan hal yang tidak Rachett duga.

Crowley mencium pipinya. Well, hanya pipi, pikirnya kecewa. Tapi, berarti apa yang dipikirkan temannya semua benar. Crowley Simmons naksir dia. Rachett hanya bisa mengikik seperti remaja SMA cewek yang sedang melihat pujaannya dari sebelah lapangan basket.

Crowley menyudahi ciumannya yang singkat dan Rachett mendesah kecewa. Sakit kepalanya makin menjadi dan dia merasa sangat mengantuk. Pandangannya mulai kabur, dan Crowley memegangi tubuhnya yang mulai sempoyongan

"Jadi ratumu, eh, Crow? Ya, ya, ya aku akan jadi ratumu, la la la....."

"Sempurna sekali, Rachett. Sempurna", jawab Crowley, tersenyum misterius.

Lalu setelahnya Rachett tidak ingat apapun.

*******

Suara alarm yang sangat nyaring membangunkan Rachett dan membuatnya tersentak. Oh sial, pikirnya, dia akan terlambat. Dan sakit kepalanya tidak tertahankan. Memalukan sekali untuk mabuk- mabukan tadi malam dan bahkan dia sama sekali tidak ketemu dengan Leah. Rachett melihat sekelilingnya, dan menyadari kalau dirinya berada di apartemennya. Mungkin Simmons yang membawanya kesini. Apa mereka..

Rachett melihat pakaiannya yang masih lengkap, dan dia mendesah lega. Akan sangat aneh kalau tadi malam dia dan Simmons berhubungan sex. Hubungan satu malam sama sekali bukan gayanya, dan Rachett juga tidak suka kalau si pria berusaha memanfaatkan keadaan dirinya yang sedang mabuk. Crowley Simmons benar - benar pria yang sopan, dan hanya menciumnya. Itu juga hanya di pipi.

Alarm berbunyi lagi dan Rachett bergegas mencari kopi untuk membuatnya terjaga. Setelah mandi, sarapan seperlunya, dia bergegas memanggil taksi untuk ke kantor. Dia tidak ingin terlambat karena ada meeting dengan direksi, dan tentunya si bos brengsek akan menggunakan semua kesempatan untuk memarahinya lagi.

Untunglah dia tidak terlambat, dan Rachett bergegas ke cubiclenya untuk menyiapkan bahan presentasi. Tapi dia berhenti saat melihat cubicle di sebelahnya kosong melompong. Kemana Crowley Simmons? Dia tidak tiba - tiba resign kan?

"Hai, Leah! Kemana Simmons?"

Leah mendongak dari atas pekerjaannya dan menatap Rachett bingung, "Simmons?"

"Yeah, Simmons. Crowley Simmons."

"Memangnya ada karyawan dengan nama aneh seperti itu di kantor kita, Rach?"

"Apa maksudmu Leah? Crowley Simmons sudah jadi bagian dari tim kita selama 6 bulan. Dia ditransfer dari kantor pusat! Dan hey, kita bertiga baru saja minum - minum tadi malam di club. Apa kau terlalu mabuk sampai bertanya siapa itu Simmons?"

"Dengar dulu, Rach. Tidak ada karyawan bernama Simmons. Cubicle di sebelahmu selama ini kosong. Dan tadi malam, aku langsung pulang ke apartemenku. Kau tidak apa - apa, sweetie?" tanya Leah khawatir.

Rachett bergeming. Tidak pernah ada karyawan bernama Crowley Simmons selama ini. Lalu, siapa yang selama ini ada di sebelahnya? Siapa pria yang tadi malam mengajaknya minum - minum?

Rachett menanyai Leah lagi dan wanita itu cuma menggeleng, dia memandang Rachett khawatir. Orang - orang lain di kantor itu juga tidak mengenal siapa Simmons. Rachett tertegun. Apakah dia mulai gila? Apakah Simmons selama ini hanya ada di bayangannya saja? Kenapa hanya dia yang bisa mengingat seorang Crowley Simmons?

"Rach, apakah kau tidak apa - apa? Kau terlihat pucat, sayang. Siapa Simmons ini sebenarnya? Kau sedang tidak nge-drug kan?"

Rachett menggeleng keras - keras. Dia tidak gila, sialan!  "Leah, aku.."

"Rachett Hawthorne."

Rachett menoleh dan melihat direktur menghampiri cubiclenya. Baru kali ini Rachett melihat direktur datang langsung ke cubiclenya.

"Ya, Sir?"

"Ke ruanganku. Sekarang"

Rachett hanya bisa mengangguk dan berjalan di belakang si direktur. Pikirannya kacau balau. Pertama, tidak ada karyawan bernama Simmons. Dan sekarang direktur memanggilnya. Apa karena masalahnya kemaren dengan si bos brengsek?

Mereka tiba di depan kantor si direktur dan Rachett bisa melihat siapa yang berada di dalam. Seluruh jajaran direksi dan si boss berengsek. Rachett muak melihat wajah wanita itu yang tampak sangat puas.

"Silakan duduk Ms Hawthorne. Kuharap kau tahu kenapa dipanggil ke sini?"

"Terimakasih, Sir. Maaf, sejujurnya saya tidak tahu. Saya ada meeting dengan client hari ini, jadi, ini cukup mengejutkan," jawab Rachett dengan tertawa kecil yang dipaksakan.

Si direktur menatapnya tajam dan hanya mendesah. Orang - orang lain di ruangan itu berbisik, sementara si boss, Dane, menatapnya dengan pandangan licik.

"Kami menerima laporan bahwa kau memanipulasi progress proyek dan menerima suap dari vendor agar barang mereka bisa diterima."

Tubuh Rachett membeku. Memanipulasi? Suap? Dia orang yang sangat jujur dan tak pernah melakukan itu sama sekali.

"Maaf, Sir. Mungkin anda salah mendengar. Tapi saya tidak pernah melakukannya sama sekali."
Sang direktur hanya terdiam mendengar penjelasannya, lalu menekan tuts komputernya. Rachett melihat ke layar dan jantungnya berdegup keras. Terpampang sebuah kontrak yang menyatakan persetujuan kantornya untuk menggunakan barang dari vendor A dengan jumlah yang sangat besar. Melebihi budget proyek selama ini. Dan ada tanda tangannya di akhir kontrak.

Rachett hanya bisa terpana melihat layar, sementara si direktur berkata dengan suara tegas, "Ini bukti yang masuk kepada kami, Ms Hawthorne, dan itu sudah jelas adalah tanda tanganmu. Menjual informasi dan suap adalah hal yang sangat dilarang. Kami tentu akan sedih karena kehilangan orang dengan potensi seperti dirimu, tapi hal seperti ini tidak bisa ditolerir. Kami minta agar kau mengundurkan diri mulai hari ini."

Rachett tidak mendengar apa kata pria itu. Benaknya berputar - putar, menanyakan segalanya. Dan saat dia ingin menyanggah perkataan direkturnya, dia melihat sang boss tersenyum sangat puas.Seketika itu juga Rachett tahu. Ini bukan ulahnya! Ini ulah si jalang brengsek itu. Dia pasti mengutak - atik komputer Rachett dan memalsukan tanda tangannya untuk menyetujui kontrak. Rachett berani taruhan uang suap itu sudah masuk ke dalam kantong bossnya.

Muka Rachett memerah, dan amarahnya tidak terkendali. Dia bergegas menuju ke tempat bosnya yang terlihat sangat puas dan melakukan apa yang selama ini hanya ada di angan - angannya. Rachett memukul wajah si boss keras - keras sampai wanita itu terjatuh dari kursinya.

"Kau.. dasar wanita brengsek! Selama ini aku selalu tahan dengan perlakuanmu di kantor. Tapi ini sudah di luar batas! Kau menyalahgunakan wewenangmu hanya untuk kepentinganmu sendiri!!", teriak Rachett.

Si boss brengsek terkejut dan mulai mengaduh " Dasar wanita gila!! Panggil satpam kemari!!"

"Ohhh, tidak perlu, brengsek!! Aku bisa pergi sendiri, dan mulai hari ini aku mengundurkan diri. Persetan dengan dirimu. Persetan dengan kantor ini. Selamat siang bapak - bapak dan ibu - ibu sekalian!"

Rachett membuka pintu ruangan itu keras - keras dan tak peduli dengan adegan yang ada di belakangnya. Si boss brengsek masih mengaduh dan Rachett menyeringai puas. Persetan dengan semuanya, pikirnya.

Dia lalu bergegas ke cubiclenya, dan mengemasi semua barang - barangnya. Semua orang terkejut mendengar Rachett dipecat, dan tentu saja mereka tak percaya. Leah hanya bisa menangis tersedu - sedu mendengar kabar pemecatan dirinya, dan menawarkan untuk membawa barang - barangnya keluar. Rachett hanya bisa mengangguk setuju dan dengan gontai meninggalkan proyek yang juga jadi ambisinya selama ini.

Sepanjang perjalanan Leah mengamuk dan menyumpahi boss mereka, sementara Rachett hanya terdiam mendengar amukan Leah. Sampai mereka lalu tiba di sebuah taman ria kecil, dan Leah memutuskan untuk bolos saja dari kantor dan mengajak Rachett bermain. Rachett merasa bersyukur ada Leah, karena dirinya mati rasa saat itu.

Mereka lalu bermain - main sampai menjelang sore, sampai Leah mengajaknya ke sebuah tenda. Rachett melihat papan tenda itu yang bertuliskan "Madam Oracle". Dia tidak percaya ramalan, tapi Leah mendesaknya untuk masuk ke dalam, dan tak mau mengecewakan sahabatnya, Rachett pun mengikuti Leah.

Keadaan tenda agak gelap, kecuali tempat di sekitar sang peramal mengatur kartu Tarotnya di atas meja. Leah sangat antusias dan bergegas untuk minta diramal,sementara Rachett melihat sekelilingnya. Tenda itu didekorasi dengan gambar - gambar aneh. Fantasy dan  mitos bukan favoritnya, karena Rachett menganggap dirinya adalah orang yang praktis. Walau begitu dia terkesan melihat gambar - gambar yang menghiasi tenda itu.

Seekor naga terbang di atas langit dengan daratan yang berbentuk aneh. Seekor harimau berada di daratan itu dan terlihat mengaum. Sementara itu di sisi lain ada seekor kura - kura dengan ekor yang aneh meliliti sebuah istana. Ketika Rachett mengamatinya dengan lebih lanjut, ekor kura - kura itu ternyata berbentuk ular bercabang tiga. Lalu, di atas gambar kura - kura, terlihat seekor burung phoenix, kakinya menggenggam semacam plakat dengan tulisan "Arramis".

"Kau mau diramal, Nona?"

Ucapan sang peramal membuyarkan perhatian Rachett yang sedang mengamati lukisan di tenda. Rachett memandang sang peramal, dan Leah yang terlihat berseri - seri. Mungkin hasil ramalannya bagus. 

"Oke. Silakan ramal aku sepuasnya."

Sang peramal menyusun kartu demi kartu, sementara Rachett memperhatikannya dengan bosan. Sampai sang peramal mengeluarkan kartu "The Empress", Rachett mendadak teringat malam sebelumnya dan ucapan terakhir Crowley

"Maukah kau menjadi ratuku?"

Rachett menatap sang peramal dengan tak percaya. Kemarin Crowley, dan saat ini di tenda sang peramal mengeluarkan kartu yang berarti "Ratu".

"Apa maksudnya ini?" desak Rachett.

Duarrr!!

"Rach....!!!"

Teriakan Leah yang panik membuat Rachett tak sempat mendengarkan jawaban sang peramal. Ada ledakan di luar tenda, dan orang - orang berteriak.

"Rach, ada bom. Ayo kita keluar!" desak Leah sambil menarik tangan Rachett. Rachett bergegas mengikutinya, hanya untuk mendapati tangannya yang satu lagi dipegang oleh sang peramal. Rachett tak bisa melihat wajahnya, walau dari tangannya dan juga ucapannya saat meramal Leah, peramal itu adalah wanita. Dan untuk ukuran seorang wanita, tangannya sangat kuat.

"Lepaskan aku!"

"Rachett Hawthorne!"

"Kumohon, lepaskan aku!! Kenapa kau tahu namaku?"

"Kau adalah wanita yang dipilih oleh The Knights. Aku bisa melihat simbol Phoenix di wajahmu."

"Simbol apa? Tidak ada apa - apa di wajahku. Lepaskan tanganku sekarang juga. Leah, Leah, bantu aku dong!"

"Kau tidak bisa lari dari takdirmu, Rachett! Jangan lepas tanganmu, atau mereka yang di luar akan membunuhmu!!"

"Leah!!"

Kekuatan peramal itu terlalu kuat dan Leah terpaksa melepaskan tangannya. Rachett terjatuh ke arah peramal itu.Lalu, sesuatu yang aneh terjadi, karena dia sama sekali tidak menimpa tubuh si peramal, alih - alih dirinya tersedot sebuah lubang hitam.

Dan semuanya pun menjadi gelap.

********

"Cari wanita itu."

Sebuah sosok misterius berjalan menyusuri taman ria yang saat itu sedang dalam keadaan kacau. Binatang piaraannya mengendus - endus tanah, seakan mencari sesuatu. Lalu dia mendengking, dan sosok itu melihat ke sebuah tenda.

"Wanita itu ada di tenda yang disana?" tanyanya ke sosok lain yang sekarang berjalan mendekatinya

"Ya, master."

"Madam Oracle? Aku duga ini pasti ada campur tangan dari si Phoenix."

Sosok itu berjalan mendekati tenda, tidak terpengaruh dengan teriakan - teriakan di sekitarnya dan asap yang membumbung tinggi. Urusan di dimensi ini bukan urusannya. Walau banyak orang yang terluka, beberapa mati, karena serangan anak buahnya, dia tak peduli.

Sosok itu masuk ke dalam tenda dan di dalamnya sang peramal sekali lagi menyusun kartu - kartu Tarot.

"Kau terlambat," kata sang peramal.

"Dimana wanita itu? Dimana calon Ratu Astoria selanjutnya?"

"Kau tahu jawabannya, Dietrich. Sang Ratu sudah menuju takdirnya".

Sosok yang dipanggil Dietrich itu melihat ke arah kartu Tarot yang disusun sang peramal, dan melihat kartu "The Empress". Dia bersiul dan sesaat kemudian semua anak buahnya berkumpul di belakangnya. Suasana tenda itu semakin terasa gelap dan jahat, tapi sang peramal sama sekali tidak terpengaruh.

"Kali ini sang Phoenix boleh berada satu langkah di depan kami. Tapi selanjutnya, kami akan membunuh calon Ratunya yang berharga itu. Sampaikan ini kepadanya, wahai Saphira Crux. Minneas tidak akan berhenti sampai Astoria hancur dengan tanah!"

Lalu sosok - sosok itu pergi dan sang peramal tinggal sendirian di dalam tenda yang kemudian menghilang, seolah tak pernah ada di tempat itu sebelumnya.

Senin, 21 Oktober 2013

Never Walk Alone : Chapter 1

Hai hai :D

Never Walk Alone, adalah novel yang saya ikutkan untuk NaNoWriMo di tahun 2011, dimana saya pertama kalinya join NaNoWriMo. Karena pada bulan saat saya nulis cerita ini, yaitu November 2011, saya diterima kerja, jadi berhenti di tengah jalan deh :') . Saya belum tahu kapan mau ngelanjutin lagi, semoga saja ada waktu. Karena di NaNoWriMo tahun ini, saya menulis cerita yang bener - bener baru.

Never Walk Alone adalah versi yang lebih baru dan lebih matang secara tulisan (yah menurut saya :P) dari When You Smile. Ada penambahan karakter dan perkembangan cerita. Untuk versi yang saya posting ini, saya memposting edisi bahasa Inggrisnya, yang saya terjemahkan sendiri. Berhubung bahasa Inggris bukan bahasa native saya, kalau ada nemu kesalahan grammar dan structure, bisa kirim email ke saya di sawamura_foxman at yahoo dot com 

Selamat membaca :D

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

~ Mardalsfossen, 3025 AD ~

"Dad, I want those chocolate ice cream!"

A shout from some little boy make me awake. I glance to the clock beside my bed. Still 5 a.m. I see if the chick I met last night still sleep beside me.

She's not there.

Good. Maybe she hang up with Roderick, our Fire Master. I'm not bothered by that fact. Not that I'm terrible lover or something that snore in my bed. But I prefer to wake alone.

The morning's weather was cool enough to freeze me out. Slowly, I step out from my bed and walk into the window. I open it and breathe, the air is so fresh even I'm still feel cold. Been 6 months since Randalph leave Mardalsfossen and go to Alcarta. He had a plan, someone to meet, something to do. It's Randalph to you. He come and go as he please.

I see to the outside. Well, that little boy voice is loud enough to wake dead people. He can't stop whining to his parents. Why they still not buy him ice cream? Feel annoyed, I start to shout to him to just shut up, when I see them. And stun when look their happy faces.

Family ...

It's been seventeen years, when my life change. And suddenly I remember all the events in my past. Seventeen years ago, when I am not familiar with the hardest part of this world.

Seventeen years ago, when my deepest nightmare began ...

CHAPTER 1

~ Peanville, 3008 AD, 17 years ago ~

My name is Alexandre Claire Evinrude. People often look at me confusely or wondering why my middle name sound like a girl name. I think that's my mother's fault, Marie Evinrude. At the beginning of her pregnancy, she is so eager to had baby girl and want to named her Claire. Imagine when the baby is a boy, a.k.a me. But my father, Laurent Evinrude, bless him, sometimes he had a brilliant idea. Claire's name continue to be used, but as a middle name. He then naming me Alexandre, which its meaning in French was, "defender of the humankind".

Few days more, I'll turn twelve years old. Still a child, that what my father said. Not yet a teenager, he added. My mother just smile, and she will stroke my hair. She always say, "Alex, you really like your father. A handsome face, aquiline nose, a lips that always whining to get what you want, "she said with a laugh.

"But my eye color comes from you," I replied.

"Ah, yes. yours are like mine, like amethyst stone, "said her.

"Like those blood-sucking leechs," I muttered.

They suddenly become quiet, then just look at me sadly. I feel awkward after say that.

"Yes, like a vampire", says my father.

"I hate my eyes! My friends in school always make fun of me. And they also mock you, Mother! "

"Did they hurt you, Alex?" asked my mother. She sounded worried.

"Nothing. Yes, sometimes they  locked me in the bathroom. But, I always make it out. I'm smarter than them, "I replied, proudly.

Father and mother look at each other, then they laugh. Well, I do not want to make them afraid, a little lie  sometimes is necessary. My friends  not only locked me in the bathroom,  sometimes they beat me. I used to hide the wounds from my parents. Yeah, a little lie will not hurt anyone.

"If they start to bullying you and cross the line, you can complain to the teachers, Alex," said my father, stop my inner mind dialogue.

"Father, I'm not weak. But, okay, I'll do it. " Once again, I like to appraise myself in front of my parents.

He smile once more. He look pleased with his one and only boy. Sometimes I feel very lonely staying at home. Evinrude family's mansion is magnificient but gloomy. Sometimes I talk to my parents (or rather whine), to move from Peanville then go to Mardalsfossen.

But my mother always refuse. "Mardalsfossen not safe," she replied.

"Mardalsfossen is a great city, and have lots of great toys!" I wailed. Hey, I'm a boy - a usual kind of boy who is also fond of toys.

"Peansville is safer. There are no vampires here. "

"Mardalsfossen too. Well, I hear there are vampires wandering at the city, but just a few of them. Unlike at Balkhas, Mother! "

"When I said not, it is not, Alex", Mother said gently. "Do you not feel like at home when staying in Peansville?"

I was speechless and only nod. Well, what a twelve-year olds boy can do? I have to stay in Peansville that so grim and gloomy, and face any bullying act from my friends at school.

The same day start over and over again without stopping.

But somehow, today, my father and mother being weird. Not like usual,I thought. Mother who is usually cheerful, now become quiet and more quiet. She stroke my hair for times. My father that always joke with me, become grim and also quiet. Well they are still play and talk with me, but after that they fell silent again. As if...thinking of something.

I become panic. What's wrong with them? Are they mad at me? Are they somehow knew I was hiding the fact that I used to be bullied at school?

My questions is answered that night. Ten o'clock at night, it should be 12 years old boy as me to already asleep. But my father told me not to sleep. I start to panic again. Darn, I thought. They know!

I'm trying to think positively. Maybe they will not punish me even though I'd lied to them. Maybe they will grant my wish to move to Mardalsfossen. Yeah, goodbye grim and gloomy Peansville. And I can go freely to Mardalsfossen, meet new people. Although in my little heart, I'm a little scared, what would they think if they see this eyes.

But my father still silent. So quiet, not speaking a word. Mom also just lower her face and weep. I hate to see she crying. Hey, I tell you one more, I'm. A. Boy ! If there is a girl or woman crying, I can not bear to see it. Not that I consider them weak. I just want to protect them,'kay? But, here I am, just stand and see her cry.

Mother cries grew louder and my father's face looked more grim. My fear grew. Even though still a child , I know, this is more than just some lies that was discovered. It's larger than "my friend are bullying me" problems

"Alex .." said my father.

"Y.. Yes?"

"We want to say something".

"What is it, Father?" I hope is not about the lies.

I'm confused. I see my father loss for words to speak. While my mother still crying. Then she saw me. Purple eyes like a amethys stone, shine like a rare jewel it is. Beautiful even she's crying. Her face was flushed, but she tried to smile. As if trying to convince me, that whatever my father said, everything will be fine... just fine.

My father sighed for a moment, then said, "Alex ... from now  ... you must live alone. Without us. "

Huh? I'm getting confused. Live... alone? What does he mean? Why suddenly my father talk like that? I just twelve years old, for God's sake! I know that I'm not a kid anymore. But give me a break? Twelve years old and your parents tell you to live alone? Huh! Their speech is a beautiful gift for my birthday, which is feel lame for me.

"Father, you just kidding right? You are not really serious with your words,right? "

But, I see his expression,  grim and serious. So, he is not joking. I then turn to my mother.

"Mother! Father just kidding right? You two just kidding, right? You don't really want me to live alone!!"

Mother still silent, then she hug me, sobbing. I hug her back, still feel confused

"Alex, forgive us, forgive us," she repeat that words, and still sobbing.

I'm getting more confused, why suddenly they said something like this . Why must this day? The day I celebrate my twelve years birthday?

I am not realize that tonight was my last night with my family, and the last time we can be together. My brain as a small child can not understand the concept of life itself in a very young age. What is actually my parents hide, until they decide I should live alone? Do I have to part with them ... forever? No, I do not want to! They are the only family I have. All I know both, my parents are orphanage and although they have a cousin or distant relative, they never say it.

That question continues to repeat itself, again and again in my mind. Why must this day they say I must live alone? And, where do I go?

Meanwhile, the wind outside the window grow louder and a sound of roaring suddenly appear. It's so terrible, I feel cold. Father look strained, my mother stopped crying, but she still hug me. I am silent too. I feel something bad is going to my home. Something evil that make my father and mother suddenly tell me to live alone.

A second later, all the windows in my house broken. I feel the wind blow very hard and the chill of night pierce my face. Electricity in my house off, but thankfully there is still a glimmer of light from the outside coming into the house. So I can still see where my father and my mother is. We just fell quiet, waiting for something to happen. Waiting for something that threatens our safety.

Then, the figures that I am not recognize enter into our house.

They maybe, are the most horrible and cruel but also the most beautiful creatures I have ever known. They have same face with the people in the Humavalea. Only theirs are pale, protruding canine teeth when they're grinning, some invisible wings like bat, and a black cloak. I know, it's cliche, but I feel like a mouse in on front of snake. I can't move and can't stop see them.

And then, those purple eyes that like an amethyst stone. A monster who had for many years become human enemy at Humavalea.

Varuala they name themself. Vampire we named them, the creature we know only living in legend, but they do exist. Live in the kingdom Varua, the place that only screams can be hear from our world.

"We want to take the boy," said one of them with a hoarse voice as he pointed at me. While the rest stand around me and my parents. We are stuck, unable to escape. Can't ask for help. They are all show a very cruel expression on their face, one wrong move from us, it will have fatal consequences.

But my father suddenly came forward. As he stretch out his hands, he's going to protect us. That's my dad. The Evinrude family protector. The vampires are tall, but my father's height is above the average people. He is not afraid to see the vampires. His face is tense, and now looks full of anger.

My mother still holding me. She had stopped crying, and I am surprise to see her expression. Just as father, mother also looks angry. She hug me so tightly I can't breath and feel hurt. But Mother never move, she still hug me. Like don't want to let me go.

"No!", my father shout. "Until whenever, Alexandre will never we give to you all!"

The leader of the vampires pause, his eyes watching us coldly and calculating. He reply in a voice that make my father freeze. "The boy's there have a creature in his body that can destroy our nation. We have to kill him, in order for we to survived. I think you know about that, Laurent. "

I am surprise again. The vampire know my father's name! I see to my father, then to the vampire. He just smiled to see me. A smile that made me shudder. My father clench his teeth, listening to that vampire call his name.

"That's the business of you, the Varuala. Nothing to do with us,Humavalea's men! We live in Peansville, to avoid all the affairs between Varuala and Humavalea. Again, nothing to do with us. Alex is innocent, he don't know anything!"

"But you know, Laurent. You are the former vampire hunter. Huh, vampire. Just saying the word that you all human calling us is makes me sick. You're well known among the Varuala. Varua royal noble actually admire your ability as hunter. You're so smart, strong and also cunning. So clever until you can grab our most precious treasure. Is not that right, Marie? "

Mother gasp. She pause, then look at the vampire with anger.

"None of your business Gregory! I went from Varua, because I'm sure Laurent will make me safe! "

"But you're safer in our hands, Marie." answered the vampire, named Gregory, quietly. As if this is a tea banquet, and he don't intend to attack us.

I'am stun hear my mother's last words. She came from Varua?

"But she's not a vampire!" I exclaimed.

Gregory see me, his eyes show an interest.

"He never know, Laurent? Marie? He never know about the creature that inhabit his body. Creature that used to be the guardian of Marie, and now protect him. "

This is getting weird and weirder, the creature in my body make Gregory think it will threaten the vampire. Now he says the creature is my guardian. So, what am I?

"Mother ... I ... What am I?" I asked, looking at my mother.

My mother, with those beautiful purple eyes. Eyes that passed on to me, just look at me with sadness. "I'm sorry, Alex. You're still so young. Laurent and I realize that this day would come. That our life is not long enough after he took me away from Varua. That we should leave. "

"But, mother.You are come from Varua, it means mother ... you... father? My father knew that, so it means you are ... "

I can't continue. What my friends say at school always playing in my mind, that I was a vampire's child Because of this eyes. I shut them tightly. I can't think, I can't!

"No. Alex," said my father, "Your mother Marie was not part of the vampire. Your mother is more than that, and neither do you. "

"Laurent, Laurent, Laurent. That's what I admire about you. Intelligent, and full of secrets. I still wondering how you kidnap Marie, our treasure. "Gregory said, a tone of admiration in his voice, as well as sarcasm.

"None of your business, leech!" replied my father.

"Tsk, tsk, tsk. And still so wild and rough. You realize Marie is my fiancee, and yet you took her. Laurent, you hurt my heart, and also make me angry. You both need to be punished. Your life is not enough. Marie's life too. Although I regret to say this, I love you Marie, really. But you chose this cockroach than me. So you also have to die with him, sweetheart. And I promise to treat your children like my own son. "Gregory kept smiling while looking at us. His men are standing in the back, all chuckled.

"You're crazy, Gregory. I and Marie may be die, but Alex is not mere thing you could recognize as yours. Alex will survive, just like Marie. Creature that inhabit his body will protect him and according to the propechy, will destroy you, the rotten leechs! "

"Laurent, my friend. With regret we do in fact, have to use violence, is not it? Andrew, Frances, Jean, you know what to do."

Gregory snapped his fingers, and instantly three of the vampires behind us moving forward at a pace that humans can not be detect.

The vampires attack my father. Mother hold me back, trying to protect me, while my father fight against the vampires. My father run into the nearest wall, and take the sword into the wall. And then  I know. It's not a decorative sword, the sword is real.

"Ah, Claymore. You still have it, I see. "Gregory sounded amazed, though I hear there is a little fear in his voice.

"Well, you know me, Gregory. It's not good to forget the past, "my father grin as he put his stance and wielding the sword, that called Claymore.

Three vampires under Gregory's command started to surround him. Father remain vigilant. His Claymore remain unsheathed. I was so amazed to see my father. He is like a warrior of the past, like a Templars knight that ready to kill his enemies in the battle, protect what he treasure the most. I hear Gregory call my father as the former vampire hunter. I never expect it. I always thought my father was an officer he used to be. It never dawned in my mind that he was once a warrior who defends the humans against the vampires.

"Father, don't lose! Fight, I want you to teach me how to swing a sword that make you always won! "I yelled.

"Shhh, Alex. Don't distract your father, "my mother said with a slight whisper.

My father never see me, he also never less his stance. But he said, "I'm sorry, Alex. If only I teach you to learning how to use sword from the first time. My fault to want Marie and me to raise you as a normal kid. "

"You will not lose!"

And still he continue to said, "Alex, listen to me. This is my last words from me. After this, I and your mother will not survive. But you can. Go as far as possible from here, and to Balkhas. Go to the main base of Vampire Hunter. Tell me you are my son, Laurent Evinrude. And whatever happens, fight. Fight, Alex! Stay alive for us, stay alive until you find someone that means to you, just as I find Marie. I love you Alex. Never, ever forget that. "

My father still not see me when he say that words. But I can see his back shudder. As if he know his time is no longer, that we will be forever separated.

I start to cry. But then I try to reply his, "I promise you, father. I promise I'll stay alive. I love you and mother too!. "

"It's really a touching farewell scene between father and son. Shakespeare will be so inspire to see you both and make a play from it. But, alas, my time is not so much. I'm sorry, Laurent, "Gregory said, still smiling.

I'm sick of seeing his smile!

Three of Gregory's vampires attacked my father. By instinct and experience as a vampire hunter, father go forward and wield his sword. His movements are so beautiful like a dancer.

Crashh! He manage to behead one of the vampire!

"Frances!" Hissed one of the vampire who attacked my father, then looked at him with deep hatred.

"One dies, two still standing." says my father.

The vampire attacked my father again. Try to avoid the vampire, my father roll back and draw his sword right through the vampire's heart.

"Two dead, one left." my father grin, and facing toward Gregory.

"It is the ability of your crew, Greg?"

"You know I really hate to call it, my friend Laurent. But Frances and Jean is a low level warrior. Let's see if you can beat Andreas. He is the son of the most talented and most powerful Varuala noble. "

My father put up his stance back, and this time he faces Andreas. Although I don't fight, I know the vampire named Andreas was dangerous. My father know it too. A cold sweat began to slick down on his face, and his hands began to tremble.

"Freeze. The ability to freeze the movement of the opponent. Amazing, Andreas, "said my father.

Andreas grinned, and then attack my father. To his surprise, my father break Andreas's spell, and strike back. They meet in the middle. Andreas, a vampire with sharp fingernails, rapid movement and almost invisible. Father with his claymore, but still able to fight Andreas.

Finally my father cast a final strike on Andreas, and cut his head. Andreas fall, but my father's breath sound weird. He's breathing so fast. Then I saw holding his stomach. Seems Andreas had cut my father and now he is wounded!

"Father!"

Father still not see me, as if I am not in the room. His eyes still look out to see Gregory. "You're not going to get Alex, Gregory."

Gregory with those sickening smile, again smile slyly and said, "I always get what I want, Laurent."

"Huh, nonsense ... ugh!"

I am stun. The event was happen very fast. Second before, my father still talking to Gregori, a second later red spot spread in his chest. Big red spot and smell metallic.

Blood.

"Da ... mn."

"Yes, Laurent. You still remember Warren right? "

"War .. ren ...imposssible. I ... I ... "

"Kill him when you kidnapped Marie, isn't it? Warren was assigned to guard Marie. And you thought you had killed him, Laurent. But you don't know, that you just kill his shadow. "

"Shadow, eh? I was ... careless ... ugh! "my father look down and began to spit blood.

"Father!"

I start running toward my father, but my mother hold me back. Her tears flow like a rivers on her face. She look to my injured father, and whisper, "we will meet again after this, Laurent."

"Warren" said Gregori.

A shadowy figure appear out of nowhere and form silouette of a male. Pale as his colleagues, purple eyes that exude hatred that  now looking at my father.

A second later, my father turn to me. Finally he face me.

"Good-bye ... Alex," he said, smiling.

Before Warren blow the last strike and cut my father's head.


Catatan : Disini saya menggunakan A.D, yang merupakan singkatan dari After Destruction. Jadi tidak memakai sistem kalender Tahun Masehi :)

Kamis, 30 Mei 2013

When He Smile : Bab 1

   When He Smile adalah awal mula cerita Clay Evinrude, seorang pembasmi vampir. Ini adalah awal dari kisah balas dendam dan kebencian Clay yang mendalam kepada vampir. Dan juga pertemuannya dengan sahabatnya Randolph Svenson yang nantinya akan merubah kehidupan mereka. Selamat membaca :D



 Pagi itu terasa dingin. Pelan-pelan kubuka mataku. Kubuka jendela kamar, dan kuhirup udara pagi. Segar sekali. Sudah 6 bulan sejak Randalph meninggalkan Mardalsfossen dan pergi ke Alcarta. Ah, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Claude Claire Evinrude. Nama tengahku sangat aneh bukan. Aku diberi nama seperti anak perempuan, padahal aku laki-laki. Yang jelas nama ini adalah pemberian orangtuaku. Walau begitu aku suka nama ini. Aku biasa dipanggil Clay. Usiaku 22 tahun. Aku adalah pemimpin dari organisasi Vampire Hunter di Mardalsfossen, yang bernama LETFRANT.

    Ketika aku melihat keluar, ada seorang anak kecil yang berjalan-jalan dengan orangtuanya. Mereka tampak bahagia sekali. Keluarga… Sudah 12 tahun aku tidak menjumpai kata itu dalam hidupku. Melihat mereka, tiba-tiba, aku jadi teringat semua kejadian di masa laluku. Dua belas tahun yang lalu, ketika aku masih belum mengenal kerasnya dunia…

~ Peanville , 12 tahun yang lalu~   

  Entah kenapa, hari ini Mama dan Papa bersikap aneh sekali. Tidak seperti biasanya, begitulah pikirku. Mama yang biasanya ceria, sekarang menjadi diam. Papa yang biasanya selalu mengajakku bercanda juga diam saja. Ada apa dengan kalian berdua? Kalian marah padaku? Apa aku ini anak nakal?Pertanyaanku terjawab malamnya. Pukul sepuluh malam, seharusnya, anak umur 10 tahun seperti aku ini sudah tidur. Tapi papa menyuruhku untuk tidak tidur dulu. Papa mau ngomong apa ya? Waktu itu Papa cuma terdiam. Diam saja, tidak berbicara sepatah kata pun. Mama juga, hanya menundukkan wajahnya dan menangis.

“Clay...”

“I..iya, Pa?”

“Papa mau bicara”.

“Bicara apa Pa?”

 Aku bingung. Sekilas Papa seperti kehilangan kata-kata untuk bicara. Mama juga, semakin keras tangisannya. Papa menghela nafas sejenak, lalu berbicara,

 “Clay... mulai saat ini... kamu... harus... hidup sendiri...”

 Hidup sendiri? Kenapa, Papa ngomong begitu? Tapi, Papa rupanya serius, dan Mama lalu memelukku, sambil terisak-isak. Aku tidak sadar bahwa malam ini adalah malam terakhir aku bisa bersama-sama keluargaku.Sementara itu, angin di luar jendela semakin keras dan bunyinya menderu-deru. Roman muka Papa menegang, Mama berhenti menangis, tapi dia memelukku erat sekali. Aku hanya terdiam.

 Sedetik kemudian, jendela di semua rumahku pecah. Aku merasa angin yang keras dan dinginnya malam yang menusuk menerpa wajahku. Lalu, sosok-sosok yang tak kukenal masuk.Mereka, mungkin, adalah makhluk paling mengerikan yang pernah aku kenal. Wajahnya sama dengan manusia-manusia yang ada di Humavalea. Tapi wajah mereka pucat, gigi taring yang mencuat saat mereka menyeringai, sayap yang seperti kelelawar, dan jubah hitam. Sosok yang telah bertahun-tahun menjadi musuh manusia Humavalea.

 Bangsa vampir atau Varuala –nama yang mereka pakai untuk bangsa mereka-  dari kerajaan Varua.

 “Kami ingin mengambil anak itu,” kata salah seorang dari mereka dengan suara yang parau sambil menunjukku.

 Papa tiba-tiba maju ke depan. Sambil merentangkan kedua tangannya, dia hendak melindungi kami.

 “Tidak! Sampai kapanpun, anak itu tidak akan kami serahkan kepada kalian semua!!!”

 “Dalam tubuh anak itu ada makhluk yang dapat memusnahkan bangsa kami. Kami harus membunuhnya, supaya kami selamat!!”

 “Tidak!!! Itu urusan kalian sebagai bangsa Varuala. Tidak ada hubungannya dengan kami, manusia Humavalea!”

“Ternyata memang kami harus pakai jalan kekerasan!”

 Vampir-vampir itu menyerang ayahku. Kepalaku sakit sekali. Mama berusaha melindungiku, sementara Papa melawan para vampir itu. Pertarungan tak berjalan seimbang. Papa mulai menunjukkan tanda-tanda akan kalah. Sedetik kemudian, Papa menoleh ke arahku.

“Clay, maafkan Papa ya. Mulai sekarang, kamu harus bisa hidup sendiri...”

 Setelah papa berkata begitu, salah satu vampir melayangkan serangannya. Papa langsung roboh seketika. Darahnya muncrat kemana-mana, mengenai wajahku. Aku merasakan hangatnya darah diwajahku, dan juga merasa mual. Mama berteriak menyebut nama Papa. Tapi Papa, tidak akan pernah bangun lagi. Untuk selamanya…Saat itu juga para vampir melihat ke arahku, mereka hendak membunuhku! Tapi, Mama melindungiku, dan lagi-lagi aku harus melihat orang yang paling kusayangi di dunia, Mamaku, meninggal didepanku. Dan sama seperti Papa, darah Mama muncrat ke wajahku.

 Aku tidak tahu harus bagaimana, dunia rasanya berputar begitu cepat. Kupanggil nama Papa dan Mama sambil menangis. Tapi aku tahu itu semua tak ada gunanya. Mereka telah merampas semuanya dariku.Saat ini tidak ada yang membentengiku. Aku sendirian, diantara vampir-vampir ganas, yang setiap saat siap membunuhku. Melihat pandangan mereka dan juga darah yang menggenang di lantai, aku jadi mual. Ini saat terburuk didalam hidupku. Aku akan mati,pikirku.Vampir-vampir itu rupanya masih belum puas. Mereka lalu menyerangku, tapi untungnya, serangan mereka hanya sedikit mengenaiku. Tapi aku terluka.

 Sakit! Darahku keluar!Rasanya isi perutku keluar semua!Rupanya mereka semakin tidak puas. Salah satu dari mereka menyerangku. Dan tepat sasaran! Habis sudah! Aku sudah pasti akan mati. Sebentar lagi aku akan menyusul Papa dan Mama. Perlahan-lahan, aku mulai hilang kesadaran.Tapi, justru pada saat itulah, aku merasa ada yang menolongku. Setengah tak sadar, aku mendengar vampir-vampir itu berteriak kesakitan.

 Masa sih sudah pagi? Ah, nggak mungkin! Ini masih malam, tapi apa yang menyebabkan mereka berteriak kesakitan seperti itu? Semuanya mendadak jadi gelap.

 Saat aku tersadar aku sudah ada di rumah sakit. Aku bertanya pada perawat apa yang sedang terjadi.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku disini?”tanyaku“

Tenang saja, ya, Nak! Kamu aman disini” jawab perawat itu.

“Tapi, aku ingin tahu, siapa yang membawaku kesini? Lalu.. mana kedua orangtuaku...?”

“Tetanggamu yang membawamu kesini. Kamu satu-satunya yang selamat. Orangtuamu sudah meninggal. Mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi...”

 Aku tahu itu. Tidak perlu dijelaskan lagi. Perawat itu meletakkan bunga di kamarku. Saudara-saudaraku mengunjungiku silih berganti. Ada juga yang menawarkan untuk mengangkatku sebagai anak.Tidak! Buat apa? Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Tidak mau. Biarkan aku sendiri. Aku tidak mau melihat orang mati lagi. Melihat darah saja aku sudah mual.Setelah mereka semua pergi, aku menangis sejadi-jadinya. Dalam hatiku aku berjanji, ini, adalah tangisanku yang terakhir. Mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak akan menangis lagi. Aku akan mematuhi perintah Papa. Hidup sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

 Sepulangnya dari rumah sakit, aku pergi ke makam Papa dan Mama. Harold Evinrude, itu adalah nama Papaku. Dan Marie Evinrude, itu nama Mamaku. Papa dan mama, aku, tidak akan melupakan kalian berdua. Mulai sekarang aku akan memulai kehidupanku sendiri. Aku tidak akan melupakan jasa kalian yang sudah melindungiku sampai saat-saat terakhir.Aku mengambil koporku dan mulai berjalan. Aku tahu, mungkin sulit untuk anak umur 10 tahun mengambil jalan ini. Tapi aku yakin aku bisa. Dan aku pun berjalan, meninggalkan Peanville. Selamat tinggal rumahku, selamat tinggal kenangan, dan juga selamat tinggal Papa dan Mama.



******~ Balkhas, 3 tahun kemudian~

 Balkhas, ibukota Humavalea, satu-satunya tempat harapan manusia dan juga benteng yang dibuat untuk mengatasi serangan Varua. Balkhas, dikenal juga sebagai VH City, kota para pemburu vampir. Hal itu dikarenakan ada banyak sekali organisasi pemburu vampir yang berpusat di Balkhas. Disini pula, aku terdampar, diantara para calon VH akulah yang paling muda. Dan juga yang paling cantik. Aku sadar, walaupun aku laki-laki, wajahku seperti perempuan.  Banyak sekali laki-laki yang menggodaku, bahkan ada yang minta kencan segala!

 Yang benar saja!Memangnya mereka anggap aku ini apa? Aku ini normal. Bukan gay.Tentu saja pasti ada yang bertanya kenapa aku yang masih sangat muda ini (umurku 13 tahun) memutuskan untuk jadi VH. Jawabannya sangat sederhana sekali. Membalaskan kematian kedua orangtuaku. Alasan yang klise. Tapi itu juga yang mampu menopangku sampai saat ini. Bertahan di kehidupan kota Balkhas yang sangat keras dan mengikuti ujian VH yang ketat.

 Suatu hari…

 “Hey, Clay! Kalau aku perhatikan kamu tidak punya senjata. Kamu cuma mengandalkan tangan kosong dalam pertarungan! Tapi, kok bisa ya kamu lolos sampai disini?” tanya salah seorang calon VH.

 Aku cuma tertawa dalam hati. Dia tidak tahu, bahwa selama tiga tahun ini aku sudah mengasah kemampuanku. Hidup sebagai anak jalanan di Balkhas, telah mengajarkan aku bagaimana caranya bertahan hidup di kota keras. Cuma orang bodoh yang akan putus asa menghadapi itu semua. Tapi aku tidak. Demi kedua orangtuaku.

  “Dasar bodoh!! Itu semua bukan urusanmu!!” jawabku dengan ketus.   

  Aku bisa melihat kalau dia marah kepadaku. Sampai-sampai wajahnya merah. Lalu, dia menarik kerah bajuku, dan berkata,

 “Apa maumu anak sialan?! Kau mau menantangku ya!! Sudah namamu aneh pula. Apa itu Claire? Seperti anak perempuan. Yah, kalau lihat penampilanmu, memang pantas sih!” teriaknya sambil mengacung-acungkan tangannya.

 Aku cuek. Biar saja dia mau berbuat apa, aku sudah tidak peduli lagi. Dia semakin kesal padaku dan berniat memukulku. Untung saja Oracle Ujian VH datang dan melerai kami.

 “Awas kau!! Akan kubalas nanti!!” ancamnya. 

 Aku tidak takut!

 Malamnya, aku pulang ke rumah. Sebenarnya tidak dapat disebut rumah. Hanya lorong sempit. Tapi itu sudah cukup nyaman bagiku. Memang mula-mula tidak terbiasa, karena aku biasa tidur di kasur yang empuk, ditemani nyanyian ninabobo dari mama. Tapi, sekarang hanya dengan beralaskan tikar dan ditemani suara binatang malam, itu saja sudah cukup enak.

 “Kyaa!!!!”

 Tiba-tiba, aku mendengar suara teriakan minta tolong. Aku bergegas pergi ketempat asal teriakan itu. Sampainya disana aku melihat seorang wanita dan juga seorang vampir. Vampir itu rupanya hendak menghisap darah wanita itu. Melihat vampir itu, darahku mendidih. Amarahku memuncak. Bayangan kelam 3 tahun lalu, dimana kedua orangtuaku tewas karena bangsa vampir melintas di benakku. Tanpa ancang-ancang, aku langsung memasang kuda-kuda.Kalau dipikir-pikir benar apa yang telah dikatakan salah seorang calon VH itu kepadaku. Aku hanya mengandalkan tangan kosong dalam bertarung. Aku tidak punya senjata. Dan anehnya selalu bisa lolos dalam ujian, mungkin bisa dibilang itu faktor keberuntungan.

 “Cepat pergi dari sini!!” perintahku pada wanita itu.

 “Te..te..terimakasih...”, jawab wanita itu.

 “Cepaattt!!”

 Wanita itu, dengan tergesa-gesa, segera pergi. Aku mulai berniat menyerang. Vampir itu kelihatannya sudah tua. Tapi aku harus berhati-hati.Aku mulai menyerang. Dan seperti dugaanku, vampir itu ternyata gesit sekali dan aku mulai kehabisan tenaga untuk menyerangnya. Sesekali vampir itu mengejekku,

 “Kasihan sekali kamu anak muda. Kamu yang masih bau kencur ini mau melawanku yang sudah tua ini. Kami bangsa Varuala jauh lebih hebat dari kalian. Ha..ha..ha..lupakan saja..!”

 Sialan!! Dia pikir aku ini lemah. Tapi, memang, lama-kelamaan aku semakin lemah dan tidak kuat lagi. Dia terus memukulku sampai aku babak belur dan tidak sanggup bangkit.Saat itu aku merasakan hal yang sama dengan 3 tahun yang lalu. Waktu para vampir yang menyerangku itu berteriak kesakitan. Teriakan yang tak kupahami apa maksudnya. Dan hal itu sekarang terulang kembali.

 Sosok makhluk yang tak kukenal sedang berdiri didepanku. Aku tidak bisa mendeskripsikan makhluk itu dengan jelas. Hanya, mungkin dia seperti monster. Makhluk itu menyerang vampir tua itu dan dia tidak butuh waktu yang lama untuk memusnahkan Vampir itu.Sebelum musnah Vampir itu meneriakkan kata “LaMu”.Aku yang melihat itu takjub. Dan kemudian pingsan, karena rupa-rupanya aku sudah tidak kuat lagi. Hanya beberapa saat saja, setelah aku pingsan, aku tersadar kembali. Dan sosok yang dipanggil LaMu itu berdiri tepat dihadapanku.

 “Wah, sudah sadar ya! Lama sekali pingsannya!”

 Aku terperanjat. Suaranya menggema di telingaku. Aku mulai waspada. Dan juga mulai bertanya-tanya, apakah makhluk ini yang telah menolongku 3 tahun yang lalu.

 “Kamu...siapa...?”tanyaku.

 "Haahh!! Masa kamu tidak tahu? Aku “LaMu” Vampir paling legendaris. Tapi tentu saja aku tidak bisa disamakan dengan Vampir rendahan dari Varua itu. Mereka bahkan tidak layak menyebut diri mereka vampir. Varuala? Ha,ha,ha, aku baru dengar nama itu. Mereka mencoreng nama besar kami para vampir sesungguhnya”

  “Kamu...Vampir…Apa maksudmu mereka tidak layak disebut vampire? Lalu, vampir sesungguhnya?” Sadar bahwa yang berdiri didepanku adalah vampir, aku langsung berniat melawannya. Tapi, langkahku terhenti!

 “Ha..ha..ha…Jangan terburu emosi dong!! Dasar tidak sabaran. Banyak sekali pertanyaanmu, tapi aku tidak berkewajiban menjawabnya. Aku sudah menghentikan gerakanmu. Kalau ingin melawanku dan mendapatkan jawabannya, kuberi waktu 3 hari. Pulihkan dulu lukamu, baru kita bertarung lagi. Tiga hari lagi, ingat!!”

 Dia lalu menghilang ditelan kegelapan. Aku hanya terdiam. Tiga hari, waktu yang cukup untuk memulihkan lukaku dan juga mencari tahu siapa LaMu yang sebenarnya.Setelah aku pulih, aku berusaha mencari hal-hal yang berkaitan dengan LaMu. Aku sudah bertanya kesana kemari kepada Oracle. Tapi nihil. Mereka tidak pernah mendengarnya. Sesekali aku bertemu dengan orang yang telah mengejekku dulu, tapi kubiarkan saja.Lalu, aku pergi ke perpustakaan. Disana aku mencari buku yang mengupas tentang LaMu. Setelah berjam-jam, akhirnya aku mendapatkan buku tentang itu, lalu aku membacanya,

 “LaMu adalah Vampir legendaris dan mungkin merupakan Vampir terkuat yang pernah ada, bahkan konon kekuatannya melebihi bangsa Vampir atau varuala dari Varua. LaMu adalah vampir dari clan Chirovant yang disebut-sebut merupakan cabang dari keluarga Vlad Tepes, vampir legenda yang ada di  Transylvania. Kekuatannya adalah sanggup memanggil hewan-hewan kegelapan seperti Cerberus, anjing neraka, dan Manx, kucing paling buas di Varua. Tiga ratus tahun yang lalu clan Chirovant dimusnahkan oleh pemburu Vampir dari keluarga Evinrude, yang bernama Ruben Evinrude, akibat perbuatan mereka  menyerang Varua Empire yang mengakibatkan jatuhnya jutaan korban, tidak hanya para varuala tetapi juga manusia-manusia tidak berdosa. Namun hanya LaMu yang tidak dibunuh. LaMu membuat perjanjian dengan Ruben. Ruben boleh memakai kekuatannya. Sebagai gantinya jika Ruben mati, LaMu boleh memakan tubuh Ruben untuk menambah kekuatannya. Kejadian penyerangan klan Chirovant kepada Varua Empire disebut dengan Bloody Road Tragedy, yang sekaligus juga mengawali gencatan senjata antara penguasa Varua Empire dan pemerintah Humavalea…”

 Aku hanya terpaku melihat uraian buku itu. Jadi, keluargaku ada hubungannya dengan LaMu. Lalu aku mulai menyimpulkan, mungkin para Vampir itu memburuku karena LaMu, dendam lama karena pembantaian vampir oleh klan Chirovant. Tapi benar tidaknya aku harus memastikannya sendiri pada LaMu.Hari ketiga pun tiba. Aku bertemu dengan LaMu ditempat yang sudah dijanjikan.

 “Sudah siap, ya?” tanya LaMu.

  “Jika kau menghendaki”,jawabku.

 Kami berdua lalu bertarung. Mulanya aku diatas angin. Tapi lama kelamaan, LaMu mulai memegang kendali pertarungan. Dan aku tahu, pertarungan tak berjalan seimbang.

 “Sudahlah!! Akhiri saja!! Lemah begitu!!”

 Aku tidak mau menyerah. Enak saja, masa aku berhenti ditengah-tengah jalan. Dendamku sama sekali belum terbalaskan. Aku menyerang LaMu dengan jurus tangan kosong.

 “Wah, masih ngotot juga. Bagaimana kalau kucoba melakukan sesuatu...”LaMu berkelit dari seranganku. Dan tiba-tiba saja dia sudah ada di belakangku. Aku menyerangnya. Sesaat aku lengah, dan LaMu melakukan hal yang tak pernah kuduga. Dia memutuskan kedua tanganku.

 “Aaarrrgghhh!!!”

 Sakit sekali rasanya. Ingin aku memegang kedua tanganku yang kesakitan. Tapi, bagaimana bisa? Kedua tanganku sudah diputusnya. Darah mengalir dari lenganku dan lagi-lagi aku merasa mual.

 “Wa..ha..ha..ha..Masa segitu saja sudah sakit! Ayo lawan aku dong! Ruben saja tidak selemah kamu!”

 Amarahku sudah tidak tertahankan. Aku lalu berteriak,

 “Semuanya karena kamu!!! Karena kamu, orangtuaku harus meninggal. Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyangku Ruben terhadapmu. Tapi aku tidak terima dengan semua ini.  Mengerti ‘kan kamu!!!!”

 LaMu hanya terdiam. Lalu dia menjawab,

 “Memangnya itu urusanku? Aku hanya berusaha menepati perjanjian yang telah aku buat dengan Ruben. Sebelum Ruben mati, dia mengatakan kepadaku untuk menjadi pelindung keluarga Evinrude. Aku sudah melaksanakan tugasku dengan baik. Mestinya kamu tidak menyalahkanku. Aku sudah melindungimu waktu itu. Masalah kematian orangtuamu itu, seharusnya kamu bisa berpikir dengan jernih!!!”

 Aku cuma diam. Memang benar, kalau LaMu tidak ada,mungkin aku tidak akan berada di tempat ini. Walaupun begitu, aku tidak akan menyerah. Aku berusaha untuk berdiri dan menyerang LaMu. Kalau tidak bisa dengan tangan, pakai kaki. Kata-kata itu kudapat dari seorang oracle, dan baru kali ini, aku berterima kasih pada orang lain.LaMu tampak terdesak. Dia tidak menyangka bahwa aku bisa menyerang walaupun tanganku putus. Rupa-rupanya LaMu berniat untuk memutuskan kedua kakiku. Niat LaMu itu tidak akan kubiarkan dan dengan satu gerakan yang cukup lincah, aku berhasil mengalahkan LaMu.

 “Sekarang kau kalah LaMu!”LaMu terdiam, lalu tersenyum licik.

“Ya,ya,ya, aku mengaku kalah! Kau memang hebat Clay! Superior!”

“Kembalikan kedua tanganku!”

“Hmm, aku tidak janji”.

“Apa, kau bilang? Kembalikan kedua tanganku!!”

“Oh, jadi kamu masih butuh kedua tanganmu, ya. Begini saja bagaimana kalau kita buat perjanjian”.

“Perjanjian?”

“Ya, sama seperti Ruben dulu. Begini, kau boleh memakai kekuatanku dan aku akan mengembalikan kedua tanganmu, tapi tentu saja tidak sempurna. Lalu sebagai gantinya, kalau kau mati nanti, aku boleh memakan tubuhmu”.

“Apa maksudmu? Apa kau berniat membohongiku? Apa yang kau maksud dengan tidak sempurna”.

“Tidak, tidak, bukan begitu. Aku tertarik dengan keteguhan hatimu itu, Clay. Kalian berdua sama, tidak menyerah sampai akhir dan menggunakan segala cara yang ada untuk mengalahkan lawan. Tapi..ada satu perbedaan. Kau dikuasai dendam...”

 Sesaat, aku tak mampu berkata-kata.

 “Aku harus menepati janjiku, karena kalau tidak tanganmu itu akan tidak berfungsi lagi. Lagipula menurutku, kau adalah orang yang menarik. Nah, ambillah perban yang ada di dekatmu itu”.

 Aku melihat ke arah yang ditunjuk LaMu. Sedetik kemudian aku tahu kalau dia, malah menggodaku.

 “Bodoh!! Bagaimana aku bisa mengambilnya?”

“Wah, iya, ya, aku lupa kamu tidak punya tangan,” sahut LaMu sambil tertawa-tawa.

 Aku jadi sebal melihatnya. Dengan satu gerakan, perban itu melayang, dan membungkus kedua lenganku, sampai menyerupai bagian yang telah dipotong oleh LaMu.Aku menggerak-gerakkan “kedua tangan baru”ku. Rasanya seperti tangan sungguhan.

 “Bagaimana? Cukup nyaman bukan? Lalu perjanjian itu kau mau menerimanya?”

 Aku terdiam. Tidak ada salahnya untuk dicoba

 “Ayolah, dengan kekuatanku kamu bisa mengalahkan Vampir dengan mudah dan membalaskan dendammu. Lagipula saat ini kamu tidak punya senjata ‘kan!”

 Aku menjawab dengan tegas,”Aku setuju!”

 LaMu memandangku.“Aku setuju! Kita bekerja sama!”

 LaMu hanya tersenyum. Lalu berkata, “Keputusan yang bagus”

 “Tunggu sebentar!!’“seruku.

 La Mu menoleh ke arahku, "Ada apa lagi?”

 “Kau belum menjawab pertanyaanku!”

 “Oh, itu! Kurasa aku pernah mengatakannya, aku punya hak untuk tidak menjelaskan yang sesungguhnya kenyataan dibalik pertentangan manusia Humavalea dan Varua Empire, juga kenyataan kenapa klan kami begitu membenci Varua Empire. Ada kalanya kita tidak perlu tahu sesuatu,  dan kenyataan akan terhampar di depan mata kita ketika sudah waktunya”

 Sosok LaMu lalu menghilang dan berubah menjadi sebuah sinar merah yang cukup menyilaukan. Sinar itu lalu masuk ke dalam tubuhku, dan meninggalkan tato aneh di lenganku.

 “Mulai sekarang aku akan selalu berada di dalam tubuhmu untuk mengawasimu. Tapi ingatlah hal ini Clay, dengan adanya kekuatanku di dalam tubuhmu, kamu akan jadi pembunuh. Kamu harus siap dengan kenyataan itu! Dan berbanggalah, ternyata kau cocok dengan senjata kebanggaan kami para vampir dari Chirovant, yang bahkan Ruben sendiri tidak sanggup memakainya. Senjata dewa sekaligus iblis, pedang langit Balmung…”

 Suara LaMu menghilang ditelan kegelapan malam. Aku lalu berniat untuk pulang. Namun tak disangka-sangka, orang yang mengejekku tempo hari itu mencegatku. Dia bersama beberapa temannya.

 “Hai, Clay!! Senang dapat kekuatan baru?”

“Darimana kau tahu?”

“Yah secara kebetulan aku lewat dekat sini. Aku menyaksikan pertarunganmu dengan makhluk aneh itu. Aku sempat bergetar juga melihat kejadian itu. Tapi, rupanya kamu sudah punya tangan yang baru ya!”

“Bukan urusanmu!”

“Eitt!! Tunggu dulu! Bagaimana kalau kau ujicoba kekuatanmu itu, hmm?!”

“Boleh saja!” prinsipku, jangan pernah lari dari tantangan

“Baiklah teman-teman, ayo kita maju bersama-sama!”

 Mereka banyak, dan aku sendiri. Tapi entah kenapa aku merasa tidak gentar sama sekali. Justru sebaliknya aku sangat percaya diri. Aku membalas semua serangan mereka dengan mudahnya. Mereka rupanya tidak puas, dan terus menyerangku.Untuk mempersingkat waktuku, aku melepas perban pada tanganku. Mulanya tidak ada apa-apa, dan kulihat mereka kebingungan. Lalu, sejumlah sulur-sulur yang seperti otot, bergerak dari pangkal tanganku yang putus. Saling sambung menyambung membentuk tangan baru, yang tidak bisa disebut tangan. Bentuk yang sangat aneh, pikirku. Lalu, tangan kananku mengeluarkan sinar, membentuk aksara-aksara aneh yang tidak kumengerti. Setelah itu, muncul pedang, dari telapak tanganku.

 Pedang yang aneh, tapi indah, sekaligus jahat. Aku tergetar. Pedang ini penuh dengan kekuatan. Kekuatan yang selama ini kuinginkan.Kuayunkan pedangku kepada mereka. Kena, dan mereka langsung terjerembab semuanya. Aku pikir mungkin mereka hanya pingsan saja, terkena luka gores, karena aku tidak sungguh-sungguh membunuh mereka.

 Tapi ternyata tidak.Mereka semua mati. Darah mengalir dari tubuh mereka. Mendadak aku merasa pusing. Aku muntah. Kejadian ini mengingatkanku pada 3 tahun lalu. Tapi yang terkapar adalah orang-orang ini, bukan orangtuaku, dan pembunuhnya bukan para vampir, tapi aku sendiri.Aku sudah jadi pembunuh. Dengan tanganku ini aku sudah membunuh orang. Aku jadi teringat dengan kata-kata LaMu. Membuat perjanjian dengannya berarti telah mengubah hidupku untuk menjadi pembunuh!!

 Aku lalu berlari, berlari dan berlari. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi. Hatiku serasa goyah. Aku tidak punya pegangan lagi. Aku sudah jadi pembunuh.  Pembunuh! Tapi, aku teringat sesuatu. Dendamku! Benar! Sekarang tak apa-apa aku menjadi pembunuh. Yang penting aku punya kekuatan untuk membasmi para Vampir itu dan membalaskan dendamku.

 Aku berjalan dengan gontai, meninggalkan kota Balkhas. Meninggalkan ujian untuk menjadi VH. Aku muak dengan kota ini! Aku muak dengan semuanya, bahkan diriku sendiri! Aku tidak peduli lagi dengan hidupku…

Pergi…

Pergi…

Pergi…

Tanpa pernah kembali…

Karena hatiku sudah mati...


Bab 2 akan saya posting, semoga aja sih minggu depan, hehehe. Silakan jika ada komentar, saran atau kritik, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar. Terimakasih karena sudah membaca cerita saya :D.